Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Politik

Konflik Selat Hormuz Alarm Serius Stabilitas Nasional

KAMIS, 12 MARET 2026 | 17:52 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pakar geografi politik dari Human Studies Institute (HSI), Dr. Rasminto, menilai langkah Panglima TNI yang meningkatkan kesiapsiagaan militer merupakan kebijakan strategis negara dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Menurut Rasminto, setiap kali konflik memanas di kawasan tersebut, dampaknya tidak hanya dirasakan secara regional, tetapi juga merambat ke berbagai belahan dunia melalui jalur ekonomi, energi, dan keamanan internasional.

“Konflik di Timur Tengah selalu memiliki efek domino terhadap stabilitas global. Ketika ketegangan meningkat, harga minyak melonjak, jalur perdagangan strategis berada dalam bayang-bayang gangguan, dan stabilitas geopolitik dunia ikut dipertanyakan,” kata Rasminto dalam keterangannya, Kamis, 12 Maret 2026.


Ia menjelaskan bahwa dalam situasi seperti ini tidak ada negara yang benar-benar berada di luar radius dampaknya, termasuk Indonesia yang secara geografis jauh dari pusat konflik. 

Karena itu, peningkatan kesiapsiagaan TNI harus dipahami sebagai bentuk kewaspadaan negara, bukan sebagai indikasi bahwa Indonesia akan terseret dalam konflik global.

“Ini bukan alarmisme pertahanan, tetapi bentuk antisipasi strategis. Dalam dunia yang saling terhubung, konflik regional dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis global yang memengaruhi stabilitas ekonomi, keamanan kawasan, bahkan kohesi sosial di dalam negeri,” ujarnya.

Rasminto menyoroti bahwa salah satu variabel penting dalam eskalasi konflik Timur Tengah adalah posisi Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia. Setiap hari sekitar 20 juta barel minyak, atau hampir seperlima konsumsi global, melintasi jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia tersebut.

Selain itu, sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia juga melewati kawasan yang sama.

“Artinya, setiap ketegangan yang berpotensi mengganggu Selat Hormuz hampir pasti akan memicu guncangan besar pada pasar energi dunia,” jelasnya.

Bagi negara-negara Asia, dampaknya bahkan lebih signifikan karena sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia justru mengalir ke pasar Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Ia juga menyoroti lonjakan harga energi global sejak meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

Menurutnya, harga minyak mentah Brent sempat melonjak sekitar 8-9 persen sejak serangan pada 28 Februari 2026, bahkan diproyeksikan berpotensi menembus 100 dolar AS per barel jika konflik terus meningkat.

“Indonesia memang tidak lagi menjadi eksportir minyak utama seperti pada era 1970-an, tetapi sebagai negara dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, stabilitas harga minyak dunia tetap memiliki dampak langsung terhadap ekonomi nasional,” pungkasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya