Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Kaster TNI dan Kembalinya Orientasi Pertahanan Teritorial

KAMIS, 12 MARET 2026 | 05:23 WIB

Pendahuluan 

KEPUTUSAN menghidupkan kembali jabatan Kepala Staf Teritorial TNI (Kaster TNI) setelah sekitar 28 tahun dihapuskan menjadi salah satu perkembangan penting dalam dinamika organisasi militer Indonesia. Jabatan ini sebelumnya hilang dari struktur TNI pada masa awal reformasi, ketika semangat pembenahan militer diarahkan untuk mengurangi keterlibatan militer dalam urusan sipil pasca Reformasi 1998.

Kini, ketika jabatan tersebut dihidupkan kembali. Letjen Bambang Trisnohadi akan menjadi Kaster TNI. Pertanyaan yang muncul bukan sekadar soal struktur organisasi, tetapi menyangkut arah strategi pertahanan Indonesia. Apakah ini menandakan kembalinya orientasi lama komando teritorial, atau justru merupakan adaptasi TNI terhadap perubahan karakter ancaman keamanan modern?



Pertahanan Berbasis Wilayah 

Dalam konteks militer, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya memperkuat kembali pendekatan pertahanan berbasis wilayah yang sejak lama menjadi doktrin dasar Indonesia melalui konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Doktrin ini menempatkan wilayah, rakyat, dan sumber daya nasional sebagai bagian integral dari sistem pertahanan negara.

Sejak awal berdirinya, TNI memang mengembangkan struktur komando teritorial yang berlapis -- mulai dari Kodam (Komando Daerah Militer), Korem (Komando Resor Militer), Kodim (Komando Distrik Militer), hingga Koramil (Komando Rayon Militer) -- yang menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia. Struktur ini memungkinkan militer memiliki pemahaman yang sangat mendalam terhadap kondisi sosial, geografis, dan keamanan di setiap daerah.

Pada masa reformasi, struktur tersebut sering dipandang sebagai instrumen politik karena terkait dengan praktik Dwifungsi ABRI. Oleh karena itu, sejumlah jabatan yang berhubungan dengan fungsi teritorial di tingkat pusat dihapuskan sebagai bagian dari proses depolitisasi militer.

Namun, lebih dari dua dekade setelah reformasi, karakter ancaman terhadap keamanan nasional telah berubah secara signifikan. Ancaman militer konvensional memang masih ada, tetapi semakin banyak tantangan keamanan yang bersifat non-tradisional: terorisme, radikalisme, konflik sosial, keamanan perbatasan, hingga bencana alam yang membutuhkan mobilisasi sumber daya besar. 

Dalam konteks ini, militer tidak hanya berperan dalam operasi perang, tetapi juga menjalankan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang membutuhkan koordinasi erat dengan pemerintah daerah, aparat sipil, dan masyarakat.

Di sinilah urgensi keberadaan Kaster TNI mulai terlihat. Jabatan ini pada dasarnya berfungsi sebagai pengendali kebijakan dan koordinasi pembinaan teritorial di tingkat Mabes TNI. Ia bukan sekadar posisi administratif, tetapi menjadi simpul strategis yang menghubungkan kebijakan pertahanan nasional dengan jaringan teritorial di lapangan.

Selain itu, faktor geografis Indonesia juga memainkan peran penting. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan ribuan pulau dan wilayah perbatasan yang luas, pendekatan pertahanan Indonesia tidak mungkin hanya bertumpu pada kekuatan militer konvensional. Penguatan jaringan pertahanan wilayah menjadi kebutuhan strategis.

Pelajaran dari berbagai konflik global dalam beberapa tahun terakhir semakin menegaskan pentingnya pertahanan berbasis wilayah. Perang modern menunjukkan bahwa kekuatan militer tidak hanya ditentukan oleh teknologi persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan negara mengorganisasi wilayah dan masyarakatnya dalam menghadapi ancaman. Dalam situasi seperti ini, jaringan teritorial dapat menjadi sumber informasi, logistik, dan stabilitas yang sangat penting.

Dari perspektif organisasi militer, keberadaan Kaster TNI juga membuka ruang koordinasi lintas matra. Selama ini, urusan teritorial lebih banyak menjadi domain TNI Angkatan Darat karena memiliki struktur komando wilayah yang kuat. 

Namun dalam dinamika keamanan modern, pengelolaan wilayah tidak hanya berkaitan dengan daratan. Aspek maritim yang melibatkan TNI Angkatan Laut serta pengawasan udara oleh TNI Angkatan Udara semakin penting.

Dengan demikian, jabatan Kaster TNI dapat dilihat sebagai upaya membangun integrasi teritorial lintas matra dalam kerangka pertahanan nasional.

Meski demikian, kebijakan ini tetap mengandung ruang perdebatan. Sebagian kalangan mengingatkan agar penguatan fungsi teritorial tidak kembali menyeret militer ke wilayah politik sipil seperti masa lalu. Reformasi TNI telah meletakkan prinsip profesionalisme militer dan supremasi sipil sebagai fondasi utama hubungan sipil-militer di Indonesia.

Oleh karena itu, kunci keberhasilan kebijakan ini bukan hanya terletak pada keberadaan jabatan Kaster itu sendiri, tetapi pada bagaimana fungsi tersebut dijalankan secara profesional, transparan, dan tetap berada dalam koridor pertahanan negara.

Penutup 

Pada akhirnya, penghidupan kembali Kaster TNI menunjukkan bahwa strategi pertahanan Indonesia sedang menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. 

Ancaman keamanan yang semakin kompleks menuntut pendekatan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga kemampuan mengelola wilayah dan masyarakat sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional.

Jika dijalankan dengan tepat, langkah ini bukanlah kemunduran ke masa lalu, melainkan upaya memperkuat fondasi pertahanan Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan abad ke-21.

Selamat Ginting 
Pakar Politik dan Militer Universitas Nasional (Unas)

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya