Berita

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers Rabu 11 Maret 2026. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Kemenkeu Bayar Kompensasi dan Subsidi ke PLN-Pertamina Rp51,5 Triliun

KAMIS, 12 MARET 2026 | 01:33 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah telah membayar subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp51,5 triliun hingga akhir Februari 2026. 

Nilai tersebut setara dengan 11,5 persen dari total target subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan angka tersebut melonjak hingga 382,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,7 triliun.


Ia menjelaskan dari total realisasi Rp51,5 triliun tersebut, sebesar Rp44,1 triliun digunakan untuk pembayaran kompensasi energi. Sementara sisanya sebesar Rp7,4 triliun dialokasikan untuk subsidi energi.

“Sesuai dengan janji kita untuk melunasi secara bertahap kompensasi, utang kompensasi tahun 2025,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu, 11 Maret 2026.

Menurut Suahasil, besarnya realisasi pada awal tahun disebabkan pemerintah mulai membayar utang kompensasi energi dari tahun sebelumnya. Hal ini berbeda dengan kondisi pada 2025 yang hanya mencakup pembayaran subsidi energi rutin tanpa pembayaran utang kompensasi energi.

“Selain itu juga ada pembayaran kompensasi untuk utang kompensasi tahun lalu,” jelasnya.

Ia menambahkan realisasi subsidi dan kompensasi energi dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain pelemahan nilai tukar rupiah, peningkatan konsumsi BBM, LPG dan listrik, serta fluktuasi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).

Suahasil menegaskan pemerintah tetap berupaya menjaga ketersediaan berbagai komoditas energi bersubsidi dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

“Semua jenis barang subsidi itu jumlah volume barangnya lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Ini adalah bentuk dari kegiatan ekonomi kita yang berlangsung terus,” tuturnya.

Hingga akhir Februari 2026, realisasi konsumsi BBM bersubsidi tercatat mencapai 1,6 juta kiloliter. Sementara penyaluran LPG mencapai 7,4 juta ton, jumlah pelanggan listrik bersubsidi mencapai 42,7 juta pelanggan, serta distribusi pupuk bersubsidi telah mencapai 1,4 juta ton.

“Kalau listrik bertambah berarti ada kegiatan ekonomi. LPG bertambah juga indikasi kegiatan ekonomi. BBM bertambah juga indikasi kegiatan ekonomi,” pungkas Suahasil.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya