Berita

Bupati Pekalongan fadia Arafiq. (Foto: RMOL/Jamaludin)

Hukum

OTT Bupati Pekalongan Alarm Keras Tata Kelola Pemda

MINGGU, 08 MARET 2026 | 19:30 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pencegahan korupsi, terutama terkait potensi benturan kepentingan dan lemahnya tata kelola pemerintahan.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan sebelum peristiwa OTT terjadi, KPK melalui Kedeputian Koordinasi dan Supervisi (Korsup) telah melakukan pendampingan kepada Pemkab Pekalongan dalam rapat koordinasi pencegahan korupsi pada Agustus 2025.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem pencegahan korupsi di daerah harus terus diperkuat, terutama dalam mengelola potensi benturan kepentingan serta memastikan tata kelola pemerintahan berjalan sesuai prinsip good governance,” kata Budi kepada wartawan, Minggu, 8 Maret 2026.


Dalam rakor tersebut, KPK mengidentifikasi sejumlah sektor strategis yang memiliki potensi risiko korupsi di daerah. Di antaranya pengadaan barang dan jasa (PBJ), pengelolaan pokok-pokok pikiran (pokir), hingga penyaluran hibah.

KPK juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada Pemkab Pekalongan agar memperbaiki tata kelola pemerintahan, termasuk optimalisasi penggunaan anggaran daerah agar lebih transparan dan akuntabel.

“Data layanan pengadaan secara elektronik menunjukkan penggunaan skema e-purchasing di Pemkab Pekalongan mencapai 65,75 persen dengan nilai anggaran sekitar Rp39 miliar,” terang Budi.

Namun demikian, KPK mengingatkan mekanisme tersebut tidak digunakan untuk proyek strategis bernilai besar karena berpotensi menimbulkan persoalan kualitas pengadaan maupun transparansi proses.

Selain melalui pendampingan langsung, KPK juga memantau tata kelola pemerintahan daerah melalui sejumlah instrumen pencegahan, antara lain Monitoring Controlling Surveillance for Prevention (MCSP) dan Survei Penilaian Integritas (SPI).

Data MCSP menunjukkan sektor pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Pekalongan sempat mencatat nilai 91 poin pada 2023, meningkat menjadi 96 poin pada 2024, namun kembali turun menjadi 88 poin pada 2025.

Jika ditelisik lebih jauh, indikator pengendalian proyek strategis daerah pada 2023 berada di angka 70 poin dan meningkat menjadi 100 poin pada 2024. Namun pada 2025, indikator proses pemilihan penyedia jasa justru merosot tajam hingga hanya mencapai 50 poin.

Sementara itu, hasil SPI juga menunjukkan dinamika persepsi integritas di lingkungan pemerintah daerah. Pada 2023 skor SPI Kabupaten Pekalongan tercatat 78,08 dengan penilaian komponen ahli sebesar 70,75.

Pada 2024 skor tersebut menurun menjadi 73,97, dengan catatan aspek pengelolaan sumber daya manusia berada di angka 71,02. Sedangkan pada 2025 skor SPI meningkat menjadi 80,17, meski penilaian komponen ahli masih berada di angka 73,42.

“Dinamika dalam data MCSP dan SPI tersebut menjadi gambaran penting bagi publik sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat sistem pencegahan korupsi,” jelas Budi.

KPK juga menilai kasus di Pekalongan bukanlah peristiwa tunggal. Sejak pelantikan kepala daerah hasil Pilkada 2024 pada 2025, sedikitnya tujuh kepala daerah telah terjerat dugaan tindak pidana korupsi.

Daerah-daerah tersebut antara lain Kolaka Timur, Riau, Ponorogo, Lampung Tengah, Bekasi, Madiun, dan Pati.

“KPK menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang terus berkomitmen melalui langkah-langkah nyata untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi,” pungkas Budi.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Tak Lagi Menjabat, Anies Keliling Kampus Isi Ceramah

Senin, 09 Maret 2026 | 10:15

Pemerintah Diminta Turun Atasi Ancaman Kental Manis pada Anak di Aceh Tamiang

Senin, 09 Maret 2026 | 10:10

Tips Praktis Investasi Emas untuk Pemula, Cara Aman Lindungi Nilai Aset

Senin, 09 Maret 2026 | 10:10

Prabowo Minta Laporan Progres Proyek 10 Universitas STEM dan Kedokteran di Hambalang

Senin, 09 Maret 2026 | 10:03

Ramai Isu Pembajakan, Pandji Bakal Rilis Buku dari Spesial Show Mens Rea

Senin, 09 Maret 2026 | 10:01

Malam Takbiran dan Nyepi Barengan di Bali? Begini Cara Umat Menjaga Harmoni

Senin, 09 Maret 2026 | 09:54

Perkara Selebgram Nabilah O'Brien dengan Zendhy Kusuma Berujung Damai

Senin, 09 Maret 2026 | 09:52

JK Sarankan Prabowo Prioritaskan Program yang Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 09 Maret 2026 | 09:42

Serangan ke KPK soal Kasus Gus Yaqut Dinilai Menyesatkan

Senin, 09 Maret 2026 | 09:36

Cadangan BBM Hanya 20 Hari, Ekonom Ingatkan Risiko Inflasi dan Beban Fiskal

Senin, 09 Maret 2026 | 09:33

Selengkapnya