Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Pasar Saham Eropa Bangkit di Tengah Isu Diplomasi

KAMIS, 05 MARET 2026 | 07:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Eropa berhasil rebound pada penutupan Rabu 4 Maret 2026 setelah sempat tertekan aksi jual hebat.

Sentimen pasar membaik dipicu oleh harapan jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah masih sangat dinamis

Hampir seluruh indeks zona Eropa menghijau, dipimpin oleh lonjakan sektor keuangan dan teknologi. 


Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melonjak 1,37 persen atau 8,27 poin menjadi 612,71, dipimpin oleh pemulihan tajam pada sektor-sektor yang sebelumnya tertekan hebat, seperti perbankan, teknologi, dan barang mewah. 

Bursa regional itu juga menghijau. Indeks DAX Jerman melesat 1,74 persen atau 414,71 poin menjadi 24.205,36, penguatan harian terbesar kedua sejak Mei. 

Sementara, FTSE 100 Inggris meningkat 0,80 persen atau 83,52 poin ke posisi 10.567,65 dan CAC Prancis bertambah 0,79 persen atau 63,89 poin menjadi 8.167,73.

Sektor perjalanan dan barang mewah, yang menjadi episentrum aksi jual sebelumnya, melejit masing-masing 2,8 persen dan 1,9 persen. 

Saham teknologi dan industri juga mencatat kenaikan signifikan, masing-masing 2,5 persen dan 1,9 persen, menjadi pendorong utama penguatan STOXX 600.

Fenomena menarik terjadi di Spanyol; meski sempat tertekan ancaman embargo dagang dari Presiden AS Donald Trump, indeks utamanya justru melambung 2,5 persen berkat reli saham perbankan seperti Banco Santander dan BBVA. 

Secara sektoral, saham perjalanan dan teknologi menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan di atas 2,5 persen, sementara sektor energi justru terkoreksi tipis 0,3 persen di tengah tingginya harga minyak dunia.

Meskipun aktivitas sektor jasa di zona Euro menunjukkan perbaikan?"terutama di Jerman?"para analis memperingatkan bahwa pemulihan ini masih rapuh. Dengan ketegangan militer yang tetap tinggi di Timur Tengah, pasar ekuitas Eropa tetap rentan terhadap fluktuasi berita geopolitik yang sewaktu-waktu bisa memicu kembali kekhawatiran inflasi dan volatilitas pasar.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya