Di bulan Ramadan, Putrajaya tak lagi sekadar pusat pemerintahan. Kota yang dirancang presisi itu menjelma menjadi panggung kebudayaan, tempat warga merayakan waktu menjelang berbuka dalam nuansa akrab dan bersahaja.
Di antara kemegahan arsitektur modern dan hamparan danau yang tenang, ritme berpuasa terasa lebih syahdu dan menenteramkan, seolah memberi ruang bagi setiap orang untuk meresapi makna Ramadan dengan lebih khidmat.
Megahnya Ikon Modern Jambatan Seri Wawasan Putrajaya
Perjalanan dimulai pukul 10.00 pagi, ketika bus rombongan media dan influencer ASEAN Mega Fam Iftar 2026 bergerak dari Kuala Lumpur menuju Putrajaya, Minggu, 1 Maret 2026. Jarak yang relatif dekat, sekitar 30 menit, membuat perjalanan terasa ringan.
Perhentian awal rombongan ialah Seri Wawasan Bridge di Precinct 2. Dibangun sejak 2003, jembatan berkabel dengan desain futuristik itu menyambungkan Precinct 2 dan Core Island melintasi Danau Putrajaya.
Terik matahari pagi tak menyurutkan semangat rombongan untuk berkeliling dan mengabadikan momen. Dari salah satu sudut jembatan, pandangan langsung tertuju pada hamparan kubah merah muda Putra Mosque yang ikonik.
Berdiri anggun di tepian danau, masjid yang populer dijuluki Masjid Pink itu tampak mencolok di antara lanskap modern Putrajaya, menghadirkan kontras lembut antara kemegahan arsitektur kontemporer dan sentuhan spiritual yang menenangkan.
Putrajaya dari Ketinggian: Harmoni Kota Modern dan Alam HijauBus kemudian berhenti di sebuah titik pandang di ketinggian. Dari sana, tampak jelas bagaimana danau membingkai kawasan inti kota, seolah menjadi elemen pemersatu antara gedung-gedung pemerintahan dan ruang terbuka.
Di sekelilingnya, jalur pedestrian yang rapi dan taman-taman hijau terhampar luas, memberi ruang bagi warga untuk berjalan santai, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati semilir angin dari tepian danau.
Pepohonan rindang yang mengitari kawasan itu menjadi penyeimbang bagi dominasi arsitektur modern. Hijau dedaunan menyatu dengan garis-garis tegas bangunan, menghadirkan harmoni antara kemajuan kota dan alam yang tetap terjaga.
Dari atas, jalan-jalan besar tampak lengang namun hidup. Marka kuning dan merah di setiap persimpangan terlihat kontras, mempertegas ritme kota yang tertib dan terukur. Tak ada kesan sesak, yang terasa justru kelapangan, ruang untuk bernapas, ruang untuk bergerak, ruang untuk menikmati kota tanpa tergesa.
Eksplor Oleh-oleh Khas Malaysia di PutrajayaMenjelang siang, rombongan menuju Oriental Kopi di kawasan perbelanjaan Alamanda Putrajaya. Bagi peserta yang tidak berpuasa, santap siang menjadi kesempatan mencicipi egg tart dengan custard lembut yang lumer di mulut, berpadu kopi Nanyang bercita rasa pekat dan aromatik.
Menu makanan lain juga bisa dipesan seperti Nasi Ayam, Curry Laksa Mee, Penang Prawn Meehon, Teh tarik, hingga es cendol. Untuk dibawa pulang, tersaji produk kopi kemasan, aneka kue kering, hingga selai khas mereka.
Petualangan berlanjut menuju Souq Putrajaya, yang terletak tepat di bawah kemegahan Masjid Putra. Di sini, destinasi utamanya adalah chocolate Souq putrajaya, surga bagi para pecinta cokelat.
Sebelum berbelanja rombongan lebih dulu mampir ke Putrajaya Story untuk melihat sejarah kota lewat pameran interaktif, yang menyajikan spot-spot foto menarik dan instagramable.
Keluar dari bangunan pameran, mata kita dimanjakan dengan deretan rak berisi ratusan merek cokelat. Mulai dari tumpukan Daim dan Ferrero Rocher yang melimpah, hingga cokelat lokal premium seperti Beryl's, Fidani dan Danson Chocolates.
Berjalan lima menit dari Souq Putra Jaya, rombongan menjajal kereta mini menyusuri tepian Putrajaya Lake. Hembusan angin sore dan hamparan air yang tenang menciptakan suasana ngabuburit yang damai, seolah waktu berjalan lebih lambat menjelang azan.
Bazar Ramadan hingga Berbuka di Pelataran Gedung Perbadanan Malaysia Menjelang magrib, rombongan bergerak ke Bazaar Ramadan Putrajaya. Puluhan ribu warga berdesak mencari takjil dan hidangan berbuka, sementara aroma nasi lemak yang gurih, ayam golek berlapis bumbu, hingga murtabak panas berbaur dalam udara, mengundang selera siapa pun yang melintas.
Di sela kesibukan memilih kudapan, Suara tawar-menawar pedagang dan celoteh pengunjung yang sibuk memilih kudapan berpadu, menciptakan irama khas keramaian bazar Ramadan.
Mereka rela mengantri panjang demi mendapatkan hidangan favorit yang hanya muncul di bulan suci ini. Setiap langkah seolah membawa pengunjung menelusuri perjalanan rasa dan budaya, di mana setiap kudapan bercerita tentang tradisi, kehangatan keluarga, dan semarak kebersamaan Ramadan.
Hari ditutup dengan momen berbuka di kawasan Perbadanan Putrajaya, tepat di samping bazar. Warga berbondong-bondong memadati pelataran, menggelar tikar yang dibawa dari rumah masing-masing dan duduk lesehan bersama keluarga.
Tidak ada desak-desakan, semua tertata rapi. Tikar-tikar tersusun rapi di halaman, sementara suara azan mulai berkumandang, menandai waktu berbuka yang dinanti.
Hidangan disajikan, disantap perlahan sambil mata menikmati kemegahan gedung Perbadanan Putrajaya yang semakin memesona diterangi lampu malam. Suasana hangat, teduh, namun penuh rasa kebersamaan menyelimuti pelataran.
Yang paling mencuri perhatian adalah kedisiplinan warga. Setelah menikmati hidangan berbuka, mereka tidak meninggalkan sampah berserakan. Dengan tertib, sisa makanan dan bungkus dibungkus rapi, lalu dibawa ke tempat pembuangan yang telah disediakan, menunjukkan kesadaran akan kebersihan dan kenyamanan bersama.