Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Zakat (Seharusnya) Tidak Boleh Ikut Basis Moneter

RABU, 04 MARET 2026 | 05:15 WIB

DI banyak negara modern, pajak dan zakat sering diperlakukan seolah-olah berada dalam ruang yang sama. Keduanya sama-sama dipungut, sama-sama dikelola lembaga resmi, dan sama-sama dihitung dalam satuan uang negara. Sekilas ini tampak praktis. 

Namun secara sistemik, penyatuan basis moneter antara pajak dan zakat justru menimbulkan masalah serius, terutama bagi fungsi zakat itu sendiri.

Masalahnya bukan soal niat atau administrasi, melainkan soal basis moneter. Pajak dan zakat bekerja dengan cara yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Ketika keduanya dipaksa hidup dalam basis moneter yang sama, yaitu uang fiat yang rusak hampir selalu adalah zakat.
 

 
Pajak sejak awal dirancang untuk berjalan dalam sistem uang yang elastis. Negara membutuhkan instrumen yang bisa diperluas, dicetak, disesuaikan, dan dimodifikasi sesuai kebutuhan fiskal. Inflasi, defisit, utang, dan ekspansi moneter bukanlah kecelakaan dalam sistem pajak modern, melainkan bagian dari mekanisme kerjanya. Pajak hidup di dalam sistem yang menganggap perubahan nilai uang sebagai sesuatu yang wajar dan dapat dikelola.
 
Zakat berada di sisi yang berlawanan. Zakat menuntut ukuran nilai yang stabil, tidak berubah oleh kebijakan, dan tidak bisa dimanipulasi. Nisab dan kadar zakat tidak naik-turun mengikuti kebutuhan negara atau kondisi fiskal. Ia bersifat tetap karena zakat bukan instrumen pengelolaan negara, melainkan mekanisme distribusi nilai riil dari yang mampu kepada yang membutuhkan.
 
Ketika zakat ditempatkan dalam basis moneter yang sama dengan pajak, yaitu uang fiat maka zakat otomatis ikut terseret ke dalam dunia inflasi. Nilai zakat yang dikumpulkan hari ini akan menyusut sebelum sampai ke mustahik. Penyusutan ini tidak pernah dicatat sebagai potongan resmi, tetapi dampaknya nyata. Mustahik menerima zakat yang secara nominal terlihat sama, namun secara daya beli jauh lebih rendah. Dengan kata lain, inflasi bertindak sebagai pajak tersembunyi atas zakat.

Di sinilah masalah muncul. Zakat seharusnya melindungi pihak lemah, tetapi ketika ia berada dalam basis moneter yang sama dengan pajak, justru pihak lemah itulah yang paling dirugikan. Muzakki telah menunaikan kewajibannya, tetapi sebagian nilai zakat “hilang di jalan” karena sistem moneter. Negara diuntungkan oleh inflasi, sementara mustahik membayar harganya.
 
Selain itu, pajak dan zakat memiliki tujuan ekonomi yang berbeda. Pajak digunakan untuk membiayai negara: birokrasi, infrastruktur, pelayanan publik, dan bahkan pembayaran utang. Zakat tidak dirancang untuk itu. Zakat bertujuan memindahkan kekayaan riil, menahan akumulasi ekstrem, dan menciptakan penyangga sosial yang langsung menyentuh masyarakat bawah. Ketika zakat diperlakukan seperti pajak, sekadar aliran kas dalam sistem fiat -- fungsi distribusi nilai riil itu tidak pernah benar-benar terjadi.
 
Penyatuan basis moneter juga membuat zakat kehilangan independensinya. Pajak boleh berubah. Tarifnya bisa naik atau turun, objeknya bisa diperluas, dan kebijakannya bisa disesuaikan dengan kondisi fiskal. Zakat tidak memiliki fleksibilitas semacam itu. Jika zakat berada dalam sistem moneter yang sama, maka setiap gejolak kebijakan fiskal dan moneter akan ikut memengaruhi zakat, meskipun secara prinsip seharusnya tidak.
 
Masalah lain yang sering luput disadari adalah konflik kepentingan struktural. Dalam sistem fiat, negara memiliki insentif untuk menjaga inflasi dalam batas tertentu karena inflasi membantu pembiayaan negara. Zakat justru membutuhkan kebalikan dari itu: nilai yang terjaga. Jika zakat berada dalam basis moneter yang sama, maka secara sistem, zakat selalu berada di posisi yang dirugikan. Ini bukan soal niat buruk, melainkan soal insentif bawaan dari sistem moneter itu sendiri.
 
Dampak praktisnya terlihat jelas di lapangan. Tidak ada perlindungan nilai. Zakat akhirnya hanya menjadi pelengkap bansos, bukan mekanisme ekonomi yang berdiri sendiri.

Sebaliknya, ketika basis moneter dipisahkan, fungsi masing-masing justru menjadi optimal. Pajak tetap berjalan dalam basis fiat untuk operasional negara. Zakat berjalan dalam basis nilai yang stabil seperti emas untuk melindungi mustahik dan memastikan distribusi nilai yang nyata. Negara tidak terganggu, dan zakat tidak dikorbankan.
 
Kesimpulannya, pajak dan zakat tidak boleh berada dalam basis moneter yang sama karena keduanya memiliki tujuan, logika, dan dampak yang berbeda. Pajak membutuhkan uang yang elastis dan bisa dimanipulasi. Zakat membutuhkan nilai yang stabil dan kebal kebijakan. Pajak hidup berdampingan dengan inflasi. Zakat rusak oleh inflasi. Menyatukan basis keduanya berarti menempatkan zakat dalam sistem yang secara struktural merugikannya.
 
Pajak mengelola negara. Zakat melindungi nilai dan manusia. Jika basisnya disamakan, zakat pasti kalah.


Muchamad Andi Sofiyan

Penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya