Berita

Direktur PT Agrodana Futures, Tommy Zhu (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CNBC Indonesia)

Bisnis

Geopolitik Memanas, Perdagangan Berjangka Dinilai Tetap Menjanjikan

SELASA, 03 MARET 2026 | 11:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika yang melibatkan Iran, terjadi di tengah tren suku bunga global yang semakin rendah. Kombinasi ini dinilai justru memperbesar prospek investasi di perdagangan berjangka.

Direktur PT Agrodana Futures, Tommy Zhu, mengatakan bahwa penurunan suku bunga biasanya mendorong investor keluar dari instrumen berbasis bunga dan mencari alternatif dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.

“Pada dasarnya, ketika suku bunga turun, investor akan mencari instrumen yang memberikan return lebih tinggi. Biasanya mereka melirik saham. Namun karena kondisi geopolitik sedang tegang, investor juga mencari aset safe haven,” ujar Tommy, dikutip redaksi di Jakata, dari siaran YouTube CNBC, Selasa 3 Maret 2026.


Menurutnya, kondisi ini justru menguntungkan industri perdagangan berjangka karena menyediakan beragam pilihan instrumen, baik yang bersifat growth maupun lindung nilai.

Tommy menjelaskan, di tengah ketidakpastian global, emas menjadi salah satu instrumen paling diminati.

“Safe haven yang paling dikenal adalah emas. Harga emas hari ini naik sekitar 2 persen. Emas memang menjadi safe haven utama dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.

Namun di sisi lain, tren suku bunga rendah juga tetap membuka peluang pada indeks saham global. Di perdagangan berjangka, investor dapat mengakses berbagai indeks Amerika, Asia, hingga Hong Kong dan Jepang.

“Di industri perdagangan berjangka, baik produk safe haven maupun produk berbasis saham tersedia. Jadi, investor bisa memilih instrumen growth-oriented maupun safe haven,” jelasnya.

Tommy menegaskan bahwa meningkatnya volatilitas akibat ketegangan geopolitik, termasuk peran Iran dalam eskalasi kawasan, bukan semata risiko, melainkan peluang bagi investor berjangka.

“Di perdagangan berjangka, kita bisa transaksi dua arah. Kalau harga diperkirakan naik, kita bisa beli dulu lalu jual saat naik. Kalau diperkirakan turun, kita bisa ambil posisi short sell, lalu buy kembali setelah turun,” paparnya.

Menurutnya, fleksibilitas dua arah ini membuat perdagangan berjangka tetap prospektif, baik saat pasar bullish maupun bearish.

“Dengan volatilitas besar seperti sekarang, peluang profit terbuka lebar, tentu jika analisis investornya tepat,” tegas Tommy.

Prospek cerah ini juga tercermin dari pertumbuhan jumlah investor. Berdasarkan laporan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), jumlah investor berjangka meningkat dari sekitar 60 ribu pada akhir 2020 menjadi lebih dari 300 ribu pada akhir 2024, dengan pertumbuhan konsisten double digit.

Tommy optimistis tren tersebut berlanjut, terutama setelah lonjakan harga emas sepanjang 2025 yang signifikan dan meningkatnya variasi produk, mulai dari forex, indeks saham, komoditas seperti minyak dan emas, hingga CFD saham global.

“Sekarang pilihannya makin beragam. Itu yang membuat investor baru tertarik masuk ke perdagangan berjangka,” ujarnya.

Dengan latar suku bunga yang lebih rendah dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, perdagangan berjangka dinilai memiliki prospek investasi yang tetap menarik, baik sebagai sarana mencari imbal hasil maupun strategi lindung nilai di tengah pasar global yang bergejolak.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya