Berita

Kebersamaan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump. (Foto: Setneg)

Politik

Publik Puji Prabowo Siap Jadi Mediator AS-Iran Namun Skeptis soal Keberhasilan

SENIN, 02 MARET 2026 | 11:29 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Niatan Presiden Prabowo Subianto yang bersedia menjadi juru damai atau mediator antara Amerika Serikat dan Iran menuai dua respons berbeda di ruang publik.

Menurut pengamat politik Adi Prayitno, di satu sisi, langkah tersebut mendapat apresiasi karena dinilai sebagai gagasan berani dan terobosan diplomatik.

“Di satu sisi mendapatkan apresiasi karena ini dianggap semacam ide brilian. Mungkin Indonesia adalah salah satu, bahkan mungkin duluan dan satu-satunya negara yang langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi fasilitator, menjadi mediator untuk mendamaikan kedua belah pihak yang sedang bertikai,” ujarnya lewat akun X, Senin, 2 Maret 2026.


Namun di saat bersamaan, muncul pula pandangan kritis yang menganggap gagasan tersebut kurang realistis. Terutama jika dikaitkan dengan konflik yang melibatkan negara besar seperti Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Adi menyoroti karakter politik Amerika Serikat yang dinilai memiliki ego besar dalam menentukan kebijakan luar negerinya. Menurut dia, ketika Washington memutuskan melakukan serangan terhadap Iran, mereka tidak mengindahkan berbagai seruan internasional.

“Ketika mereka memutuskan melakukan serangan kepada Iran, mereka tidak pernah mau mendengarkan imbauan-imbauan di seluruh dunia,” tegasnya.

Direktur Parameter Politik Indonesia itu mempertanyakan efektivitas peran Indonesia di tengah konstelasi geopolitik yang kompleks. 

“Bagaimana mungkin negara sebesar Amerika dan Israel mendengarkan negara seperti Indonesia? Pada saat bersamaan banyak juga yang melihat hubungan bilateral Indonesia dengan Iran belum kelihatan korespondensinya yang kemudian muncul secara signifikan,” katanya.

Menurut Adi, variabel-variabel tersebut yang kemudian membuat publik bertanya-tanya mengenai peluang Indonesia menjadi mediator yang efektif. Meski demikian, Adi tetap mengakui bahwa gagasan tersebut memiliki nilai strategis dari sisi diplomasi. 

“Meskipun ini gagasan berlian, mungkin Indonesia adalah negara pertama yang menyatakan siap menjadi mediator, tapi banyak juga yang mengkritik dan menganggap ini sebagai sebuah gagasan yang tidak realistis,” pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya