Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Serangan Balasan Iran Guncang Pasar Global, Futures Wall Street Anjlok

SENIN, 02 MARET 2026 | 07:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar global. Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) anjlok pada Minggu malam 1 Maret 2026 waktu setempat. Di saat bersamaan, harga minyak mentah melonjak lebih dari 8 persen.

Futures Dow Jones turun 1,1 persen, S&P 500 melemah 1 persen, dan Nasdaq 100 terkoreksi 1 persen. Tekanan ini memperpanjang pelemahan pasar yang sudah terjadi pada akhir pekan lalu akibat kekhawatiran inflasi, sentimen sektor kecerdasan buatan (AI), dan memanasnya konflik militer.

AS dan Israel dilaporkan terus menggempur target-target di Iran. Sebagai respons, Teheran meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah sekutu AS di kawasan Timur Tengah.


Serangan ini disebut sebagai aksi balas dendam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Laporan menyebutkan, operasi militer gabungan AS–Israel juga menewaskan sebagian besar jajaran pimpinan senior Iran.

Televisi pemerintah Iran mengumumkan bahwa untuk sementara negara akan dipimpin oleh dewan beranggotakan tiga orang hingga proses politik lebih lanjut ditentukan.

Di tengah situasi panas tersebut, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa kepemimpinan baru Iran ingin membuka jalur komunikasi dengan Washington.

“Mereka ingin berbicara, dan saya sudah setuju untuk berbicara. Saya akan berbicara dengan mereka. Seharusnya mereka melakukannya lebih awal,” ujar Trump kepada The Atlantic.

Namun di sisi lain, Trump juga menyampaikan bahwa ia memiliki beberapa “opsi keluar” untuk mengakhiri Operasi “Epic Fury”. Ia menyebut bisa memperpanjang operasi dan mengambil kendali penuh, atau menghentikannya dalam dua hingga tiga hari dengan peringatan keras kepada Iran.

Eskalasi konflik langsung memukul pasar energi global. Harga minyak mentah AS, yang sebelumnya sudah berada di level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, melonjak lebih dari 8 persen hingga mendekati 73 Dolar AS per barel.

Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan, terutama setelah kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.

Di tengah kekhawatiran itu, OPEC+ pada Minggu menyepakati untuk kembali meningkatkan produksi minyak mulai April. Namun pelaku pasar menilai tambahan pasokan tersebut belum tentu mampu meredam tekanan harga jika konflik terus membesar.

Maskapai penerbangan internasional pun masih menangguhkan penerbangan ke kawasan Timur Tengah demi alasan keamanan.

Serangan Iran ke sejumlah negara Teluk justru memperkeras sikap negara-negara tersebut terhadap Teheran. Beberapa negara Eropa juga memberi sinyal akan terlibat lebih aktif dalam memperkuat pertahanan sekutu mereka di kawasan.

Kondisi ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas dan memperpanjang ketidakpastian global.


Investor Waspada, Volatilitas Diperkirakan Tinggi

Pasar saham AS sebelumnya sudah tertekan akibat laporan inflasi produsen (PPI) yang tinggi dan kekhawatiran di sektor teknologi. Kini, memanasnya konflik geopolitik membuat tekanan di pasar semakin besar.

Meski sejumlah ETF berbobot merata masih bertahan di level teknikal penting, indeks utama telah ditutup di bawah level support kunci pada Jumat lalu.

Analis mengingatkan bahwa pergerakan futures pada malam hari belum tentu sepenuhnya mencerminkan arah perdagangan saat bursa reguler dibuka. Namun dengan konflik yang terus berkembang dan jalur diplomasi yang belum jelas, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya