Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Ibnu Muljam, Pembunuh Ali yang Hafal Al-Qur'an

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 03:11 WIB

KALI ini kita kenalkan lagi tokoh antagonis dalam Islam. Ibnu Muljam, hafiz Qur'an yang menghabisi nyawa khalifah Ali bin Abi Thalib. Siapa sebenarnya beliau ini? 

Nama lengkapnya, Abdurrahman bin Amr bin Muljam al-Muradi (dari suku Murad, Himyar, Yaman selatan, dekat Ma'rib). Lahir di masa Jahiliyah (pra-Islam), tapi masuk Islam dan hijrah pada masa khalifah Umar bin Khattab. 

Dia termasuk orang yang ikut Fath Misr (penaklukan Mesir) sekitar tahun 21-24 H bersama Amr bin Ash. Kisah Ibnu Muljam ini unik sekaligus aneh.


Kisah hidupnya yang kalau dijadikan film, genrenya campur aduk. Religi, politik, romansa, thriller, plus horor psikologis. 

Tokohnya bukan preman pasar, bukan begal jalanan. Ia hafal Alquran dari kulit ke kulit. Ngaji tujuh bulan tamat. Puasa sunah nyaris seperti kontrak tahunan tanpa jeda. Tahajudnya stabil. Dahinya hitam legam bekas sujud. CV keagamaannya mengilap.

Bahkan Umar bin Khattab mengirimnya ke Mesir dengan surat rekomendasi penuh pujian. Orang saleh, ajarkan Al-Qur'an dan fikih, buatkan rumah dekat masjid supaya mudah mengajar. 

Ini bukan endorsement abal-abal. Ini tanda tangan khalifah. Ia muqri resmi, guru umat. Ia juga ikut baiat kepada Ali bin Abi Thalib, ikut Perang Jamal dan Siffin di barisan Ali. Setia? Luar biasa. Kalau ada lomba “Sahabat Paling Taat”, mungkin ia masuk finalis.

Lalu datang episode tahkim setelah Perang Siffin. Di sinilah otaknya seperti tersambar petir ideologis. 

Ali yang kemarin dipuja sebagai imam adil, singa pemberani, tiba-tiba divonis kafir karena menerima arbitrase dengan Muawiyah I. 

Slogan sakti keluar, “La hukma illa lillah!” Hukum hanya milik Allah. Kalimat emas berubah jadi palu godam. Ia meloncat ke kubu Khawarij. Perang Nahrawan pecah. Kawan-kawannya tewas. Dendamnya tidak lagi hangat, tetapi mendidih seperti kawah gunung berapi.

Lalu lahirlah rencana paling nekat dalam sejarah politik Islam awal. Di Mekah, musim haji, ia dan dua kawannya, Burak dan Amr, menyusun paket pembunuhan serentak. 

Ali di Kufah bagian Ibnu Muljam, Muawiyah di Damaskus bagian Burak, Amr ibn al-As di Mesir bagian Amr. Ketiganya pun beraksi. 

Ibu Muljam melancarkan aksinya saat Subuh. Senjata pedang beracun. Motif? Mereka menyebutnya ibadah. Membersihkan umat dari “pengkhianat”. Nuan bayangkan, level keyakinan yang merasa sedang menjemput surga sambil menenteng racun.

Masuk Kufah, alur tambah dramatis. Ia jatuh cinta kepada Qatham binti Syajnah dari Bani Tamim. Ayah dan saudaranya tewas di Nahrawan. 

Qatham mengajukan mahar paling absurd sepanjang peradaban, 3000 dirham, budak laki-laki dan perempuan, serta bunuh Ali bin Abi Thalib. 

Mahar plus misi pembunuhan. Ia menjawab tanpa negosiasi. Seolah-olah sedang klik “setuju dengan syarat dan ketentuan”. Qatham membantu. Jaringan Khawarij merapat. Pedang diasah, diracuni berhari-hari. Semua seperti latihan gladi resik tragedi.

Tanggal 19 Ramadan 40 H. Subuh di Masjid Agung Kufah. Udara puasa. Saf rapat. Ali bin Abi Thalib menjadi imam. Saat sujud, atau ketika bangkit dari rukuk menuju sujud, riwayat berbeda, ia meloncat dan menebas kepala Ali sambil berteriak, “La hukma illa lillah! Bukan milikmu wahai Ali!” 

Ia membaca Al-Baqarah 207, merasa sedang menjual jiwa demi rida Allah. Darah mengalir. Janggut Ali basah. Ali berkata, “Fuztu wa Rabbil Ka’bah!” Aku menang demi Tuhan Ka’bah. 

Dua atau tiga hari kemudian, 21 Ramadan, beliau wafat. Subuh. Ramadan. Masjid. Imam dibunuh oleh penghafal Al-Qur'an. Kalau ini bukan ironi kosmik, entah apa namanya.

Ia ditangkap hidup-hidup. Ali masih berwasiat: beri dia makan dan minum dari milikku. Jika aku sembuh, aku yang menghukumnya. Jika aku wafat, qisas satu pukulan saja, jangan lebih. 

Keadilan tetap berdiri tegak bahkan di depan pembunuh. Eksekusi dilakukan oleh Hasan ibn Ali, satu tebasan sesuai wasiat. 

Ada riwayat menyebut ia meminta agar lidahnya tidak dipotong supaya bisa terus membaca Al-Qur'an hingga akhir. Ironi berdiri sambil tertawa getir.

Hafal Al-Qur'an, tetapi Al-Qur'an tidak otomatis menembus hati. Bacaan bisa fasih, tafsir bisa bengkok. Sujud bisa lama, tetapi kesombongan bisa lebih lama. Ia bukan monster dari luar. Ia lahir dari dalam barisan orang saleh.

Pelajarannya menampar keras. Hafalan bukan jaminan keselamatan. Kesalehan luar bisa jadi kostum panggung. Yang berbahaya bukan hanya pedang beracun, melainkan keyakinan merasa paling benar. 

Sejarah ini seperti alarm keras di tengah malam Ramadan: jangan silau oleh dahi yang hitam, jangan terpesona oleh suara merdu tilawah. 

Karena ketika ilmu dipelintir oleh fanatisme, ia berubah dari cahaya menjadi petir. Petir, kalau sudah menyambar, tidak pilih-pilih siapa yang dibakar.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya