Berita

Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Ubunubunomologi

KAMIS, 26 FEBRUARI 2026 | 02:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SETELAH Uburuburomologi sekarang tiba giliran Ubunubunomologi. Meski sama-sama berkulit lunak sembari hanya beda R dan N, namun ubur-ubur sama sekali tidak sama dengan ubun-ubun. Sementara ubur-ubur adalah jenis makhluk hidup invertebrasta yang hidup di dalam air maka ubun-ubun merupakan bagian dari tengkorak manusia di luar air.

Ubun-ubun, alias fontanel, adalah area lunak pada kepala bayi yang belum tertutup oleh tulang tengkorak. Ubun-ubun terbentuk karena tulang tengkorak bayi belum sepenuhnya berkembang dan menyatu. Ini memungkinkan kepala bayi lebih fleksibel saat proses kelahiran dan memungkinkan otak berkembang dengan cepat selama masa bayi.

Dari perspektif evolusi, ubun-ubun diduga membantu bayi melewati saluran kelahiran relatif sempit pada manusia bipedal (dua kaki). Kepala bayi yang bisa sedikit berubah bentuk memudahkan proses kelahiran. Fungsi ubun-ubun adalah memungkinkan pertumbuhan otak yang cepat pada masa bayi di samping memberikan fleksibilitas pada kepala bayi saat lahir, mengurangi risiko cedera pada bayi dan ibu.


Ubun-ubun biasanya menutup secara alami dalam 12-18 bulan setelah lahir seiring tulang tengkorak menyatu. Meskipun ubun-ubun biasanya menutup pada usia 12-18 bulan, beberapa orang dewasa masih bisa memiliki area yang sedikit lebih lunak di bagian atas tengkorak, terutama di titik pertemuan beberapa tulang tengkorak (sutura). 

Area ini disebut "bregma" (jika di bagian depan atas kepala) atau bisa juga bagian dari sutura yang belum sepenuhnya menutup. Hal itu pada prinsipnya normal dan biasanya tidak menyebabkan masalah.

Berikut ubun-ubun dalam beberapa bahasa antara lain Tagalog: tuktok ng ulo (bagian atas kepala), "bumbunan" (untuk "crown" kepala); Thai: kramom; Jepang: zuch?, atama no ue; China (Mandarin): tóud?ng;  Korea: jinsuri;  Inggris: crown (of the head); Latin: vertex; Spanyol: coronilla (bagian atas kepala); M?ori: tihi (puncak, atas kepala); Hawaii: piko o ke po?o (puncak kepala).

Ubun-ubun umumnya spesifik pada bayi manusia dan beberapa mamalia lain yang memiliki proses kelahiran serupa dengan manusia, di mana kepala harus melewati saluran lahir yang relatif sempit. Beberapa mamalia lain seperti kucing, anjing, dan beberapa spesies lain juga memiliki ubun-ubun saat lahir, tapi ini lebih umum pada hewan yang memiliki otak yang berkembang cepat setelah lahir. Ubun-ubun lebih terkait dengan proses evolusi manusia dan beberapa mamalia untuk memudahkan proses kelahiran dan perkembangan otak pasca-lahir. 

Primata yang memiliki otak besar relatif terhadap ukuran tubuhnya, seperti manusia, simpanse, orang utan, dan beberapa jenis kera besar, cenderung memiliki ubun-ubun saat lahir. Ini membantu proses kelahiran dan memungkinkan otak berkembang cepat setelah lahir. Primata yang lebih kecil atau memiliki otak lebih kecil relatif terhadap tubuhnya mungkin tidak perlu memiliki ubun-ubun yang jelas atau menutup lebih cepat.

Mamalia ukuran besar seperti bayi kuda, sapi, badak, jerapah, dan gajah biasanya tidak eksplisit memiliki ubun-ubun  seperti bayi manusia. Alasanologinya membangan fisik yang lebih matang (lebih siap untuk berdiri dan bergerak). Proses kelahiran mereka tidak memerlukan fleksibilitas kepala yang sama seperti manusia karena mereka tidak melewati saluran lahir yang relatif sempit.

Misalnya bayi kuda biasanya lahir dengan kemampuan berdiri lalu berlari dalam waktu singkat. Gajah memiliki masa kehamilan panjang dan bayi gajah lahir dengan tingkat perkembangan yang relatif matang. Berarti ubun-ubun memang lebih lazim pada mamalia dengan otak yang berkembang cepat setelah lahir ketimbang proses kelahiran yang memerlukan fleksibilitas kepala, seperti manusia.

Pendek kata ubur-ubur dan ubun-ubun yang sama pada kata ubu tapi beda pada akhiran r dan n  merupakan dua kata benda yang sama sekali beda satu dengan lainnya. Baik ubun-ubun maupun ubur-ubur pada hakikatnya merupakan bukti tak terbantahkan mengenai betapa dahsyat Kekuasaan Yang Maha Kuasa.

*) Penulis adalah budayawan dan pendiri MURI



Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya