Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Pasar minyak dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, meskipun pergerakannya fluktuatif. Kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan global terus mendominasi sentimen pasar pada awal pekan ini.
Data terbaru menunjukkan harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masih mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi aktivitas militer serta peringatan dari Washington kepada Teheran, yang menambah premi risiko geopolitik di pasar.
Analis mencatat bahwa meskipun pergerakan harga harian relatif terbatas, secara mingguan kedua kontrak tersebut telah menguat lebih dari 5 persen seiring meningkatnya kekhawatiran atas risiko pasokan.
Di sejumlah pasar energi regional lainnya, harga bahan bakar konsumen juga dilaporkan melonjak tajam akibat kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS, harga Brent tercatat sekitar 71,76 dolar AS per barel, naik tipis 10 sen, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu 21 Februari 2026. Sementara itu, WTI berada di level 66,39 dolar AS per barel, turun 4 sen. Kendati pergerakan harian relatif kecil, tren mingguan menunjukkan kenaikan lebih dari 5 persen untuk kedua acuan utama tersebut.
Ketegangan meningkat setelah pejabat AS menyampaikan ultimatum kepada Iran terkait pembatasan program nuklirnya. Iran disebut tengah menyiapkan proposal balasan dalam beberapa hari ke depan. Risiko potensi aksi militer terbatas dari Washington turut mendorong kenaikan premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak global, kembali menjadi sorotan. Aktivitas militer dan latihan Angkatan Laut Iran di kawasan tersebut membuat pelaku pasar waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan jangka pendek.
Di sisi lain, laporan dari otoritas energi menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS, yang turut menopang harga. Namun, pasar juga mencermati potensi peningkatan produksi oleh kelompok OPEC+ mulai April mendatang.
Para analis memperingatkan bahwa pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Harga diperkirakan masih bergerak volatil dalam waktu dekat. Meski tekanan jangka pendek cukup kuat akibat risiko konflik, pasokan global yang relatif memadai berpotensi menahan reli harga dalam jangka panjang apabila ketegangan mereda.
Sejumlah institusi bahkan memperkirakan harga minyak berpeluang mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2025 jika eskalasi terus berlanjut.