Berita

Ilustrasi warga Gaza di bekas reruntuhan (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Al-Jazeera)

Dunia

Gaza Menolak Lupa: Trauma Perang yang Tak Terobati oleh Deklarasi BoP

SABTU, 21 FEBRUARI 2026 | 09:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Deklarasi Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak terlalu disambut antusias oleh sebagian besar penduduk di Jalur Gaza. 

Di tengah kehancuran akibat perang lebih dari dua tahun, pertanyaan utama mereka sederhana: apakah akan ada perubahan nyata di lapangan?

Di kamp-kamp pengungsian di Gaza tengah dan selatan, ratusan ribu warga masih bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas. Amal Joudeh (43), ibu delapan anak yang kini tinggal di tenda di Deir el-Balah setelah rumahnya hancur, mengaku sudah terlalu sering mendengar janji bantuan.


“Saya pernah mendengar tentang penggalangan dana untuk Gaza, tetapi kami tidak melihat apa pun. Ini sudah terjadi berkali-kali, tetapi tidak ada yang pernah berubah," ujarnya, dikutip dari Al-Jazeera, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia berharap ada solusi konkret, baik berupa rekonstruksi maupun dukungan nyata bagi keluarganya yang terluka akibat perang.

Dalam pidatonya pada pertemuan perdana BOP di Washington, Trump mengumumkan sembilan negara anggota menjanjikan dana sekitar 7 miliar Dolar AS untuk rekonstruksi Gaza. Lima negara juga sepakat mengirim pasukan untuk membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional. Selain itu, AS disebut akan berkontribusi 10 miliar dolar AS untuk neraca pembayaran, meski tanpa rincian jelas penggunaannya.

Namun, angka tersebut masih jauh dari estimasi PBB yang memperkirakan kebutuhan rekonstruksi Gaza bisa mencapai 70 miliar Dolar AS, mengingat skala kehancuran yang terjadi.

Sejak gencatan senjata yang dimediasi Trump berlaku Oktober lalu, kondisi di lapangan dinilai belum banyak berubah. 

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 600 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel setelah gencatan senjata, sementara total korban sejak perang meletus melampaui 72.000 orang.

Awad al-Ghoul (70), pengungsi dari Rafah yang kini tinggal di tenda di az-Zawayda, menilai Dewan Perdamaian tak lebih dari “klub kekuatan-kekuatan besar”.

“Israel membunuh, membom, melanggar perjanjian gencatan senjata setiap hari dan memperluas zona penyangga tanpa ada yang menghentikannya," ujarnya.

Ia mempertanyakan efektivitas dewan tersebut.

“Jika dewan perdamaian sebesar ini tidak bisa memaksa Israel menghentikan serangannya di tempat kecil seperti Gaza, bagaimana bisa menyelesaikan konflik di seluruh dunia?” katanya.

Sebagian warga meragukan apakah dana miliaran Dolar itu benar-benar akan sampai kepada rakyat Gaza. Al-Ghoul bahkan menilai hanya sebagian kecil dana yang akan digunakan untuk Gaza.

“Sebagian kecil akan sampai ke Gaza, dan sisanya untuk biaya administrasi dan gaji mewah para pejabat… agar mereka bisa mengatakan telah mendukung Gaza," ujarnya.

Sementara warga bernama Jamal Abu Makhdeh (66) menilai setiap keputusan yang disetujui Israel kemungkinan besar tidak akan menguntungkan rakyat Palestina. “Bagaimana kami bisa percaya pada dewan perdamaian yang di dalamnya ada Israel? Negara itulah yang membunuh dan menghancurkan kami," ujarnya.

Ia juga mengkhawatirkan dorongan untuk melucuti senjata Hamas, yang menurutnya bisa memicu konflik internal di Palestina.

Namun bagi Amal Joudeh, harapan tetap ada, meski sederhana. Ia ingin anak-anaknya kembali bersekolah dan hidup di rumah yang layak, bukan lagi di tenda.


Tuntutan Sederhana: Aman dan Bisa Pulang


Di luar forum-forum internasional, tuntutan warga Gaza sangat mendasar: keamanan, perdamaian, dan hak untuk kembali ke rumah mereka.

“Tuntutan saya adalah kembali ke lingkungan saya di Rafah, meskipun hanya di dalam tenda,” kata al-Ghoul.

“Yang terpenting adalah tentara mundur dan kita kembali ke tempat kita masing-masing," ujarnya.

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

UPDATE

Board of Peace: Pergeseran Rational Choice ke Pragmatisme Politik

Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:45

Ketua BEM UGM Dituduh LGBT Hingga Sering Nyewa LC

Sabtu, 21 Februari 2026 | 03:25

Kawasan Industri Jateng Motor Baru Transformasi Ekonomi Nasional

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:58

Ustaz Adi Hidayat Sambangi Markas Marinir

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:42

Ketua BEM UGM: Semakin Ditekan, Justru Kami Semakin Melawan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:26

Praktisi Hukum: Pasal 2 dan 3 UU Tipikor Bisa jadi Alat Kriminalisasi Pengusaha

Sabtu, 21 Februari 2026 | 02:06

PBNU dan Majelis Alumni IPNU Peroleh Wakaf Alquran di Bulan Ramadan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:45

Kejagung Tegaskan Hukuman Mati ABK di Kasus Narkoba sesuai Fakta Hukum

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:30

Mantan Danyon Sat 71.2 Kopassus Jabat Dandim 0509 Kabupaten Bekasi

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:15

KPK Bakal Kulik Dugaan Aliran Uang Suap Importasi ke Dirjen Bea Cukai

Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya