Berita

Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Ekonom Paparkan Alasan MBG Dorong Sektor Pertanian dan Pemberdayaan Perempuan

SABTU, 21 FEBRUARI 2026 | 08:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak lagi sekadar inisiatif pemenuhan nutrisi, melainkan telah bertransformasi menjadi mesin penggerak ekonomi nasional yang inklusif. 

Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Fithra Faisal Hastiadi, mengatakan, dampak makro program ini sangat nyata. Salah satu pencapaian yang paling mencolok adalah revitalisasi sektor pertanian yang melonjak drastis ke angka 5,33 persen. Ini adalah lompatan besar mengingat pada 2024 sektor ini hanya tumbuh 0,68 persen. 

“Di kuartal ke-4 2025 kemarin, secara makro kita tumbuh 5,39 persen (yoy). Salah satu motor penggeraknya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 6,12 persen (yoy)," ujar Fithra dalam keterangannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 21 Februari 2026.


"Kalau kita melihat lebih dalam lagi, performance dalam perekonomian kita, kita bisa melihat pertumbuhan sektor pertanian 5,33 persen (yoy)," tambahnya. 

Fithra menegaskan bahwa fenomena ini terjadi karena produk petani lokal terserap secara masif oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang memicu gairah investasi di sisi hulu.

Transformasi ini juga membawa angin segar bagi pemberdayaan perempuan di sektor formal maupun informal. 

Dengan berdirinya 23 ribu unit SPPG hingga Februari 2026, sekitar 1,4 juta tenaga kerja telah terserap langsung di bagian dapur pengolahan. Menariknya, 55 persen atau sekitar 770 ribu dari total pekerja tersebut adalah perempuan. 

Fithra menilai pola investasi MBG sangat inklusif karena sektor kuliner secara alami didominasi oleh perempuan, sehingga memberikan peluang ekonomi yang konkret bagi mereka. 

"Partisipasi perempuan menjadi lebih terlihat karena di sektor kuliner, peran perempuan cenderung dominan. Ini memberikan peluang ekonomi yang nyata bagi mereka," ungkap Fithra.

Di tingkat rumah tangga, dampak ekonomi MBG dirasakan langsung melalui efisiensi pengeluaran harian. 

Berdasarkan survei Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), sekitar 36 persen orang tua mencatat adanya penurunan biaya untuk bekal dan uang saku anak. Meskipun secara nominal penghematan tersebut umumnya masih di bawah 10 persen dari total belanja bulanan, program ini tetap dianggap efektif dalam menjaga stabilitas finansial keluarga rentan.

Selain manfaat finansial, peneliti RISED M. Fajar Rakhmadi menyoroti adanya aspek ketenangan batin bagi para orang tua yang merasa beban pikiran mengenai nutrisi anak mereka kini berkurang secara signifikan berkat standar gizi MBG yang dinilai sangat baik.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya