Berita

Salim, M. Phil. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Mercusuar Ramadan Memanggil

JUMAT, 20 FEBRUARI 2026 | 02:59 WIB

SAAT itu di atas geladak KRI Sultan Hasanuddin yang melintasi samudra di bulan suci menuju Hongkong Fleet Review, tradisi pelayaran dan ibadah bersatu dalam kesunyian yang sakral. Ketika malam menutup cakrawala, hanya denting ombak yang memecah haluan kapal dan riak-riak yang menjadi irama doa para awak. 

Di tengah dinginnya angin laut dan rindu yang menekan dada karena meninggalkan anak, istri, dan keluarga tercinta, mereka menunaikan puasa dan salat dengan khusyuk menghadirkan pengabdian kepada Ibu Pertiwi sebagai amanah yang lebih besar daripada kerinduan pribadi. Setiap sujud di atas dek adalah bukti bahwa menjaga kedaulatan bangsa bukan sekadar tugas militer, melainkan ibadah yang dipersembahkan kepada Sang Pencipta.

Dari situ lahir pelajaran kepemimpinan maritim yang tegak lurus kepada Tuhan: pemimpin bukan hanya pengambil keputusan, melainkan teladan moral yang menempatkan kesejahteraan anak buah di atas ambisi pribadi, menjalin kerja sama tim yang kokoh, dan memimpin dengan hati yang mencari ridho Allah. Di bawah sinar rembulan yang memantul di permukaan laut, komando bukanlah suara yang memerintah semata, melainkan doa kolektif yang menguatkan keberanian dan keteguhan. Kepasrahan pada takdir dipadukan dengan tanggung jawab profesional sebuah perpaduan yang menumbuhkan keberanian etis dan keteguhan moral.


Mercusuar Ramadan memanggil kita untuk mengagumi dan meniru kebesaran jiwa itu: pemimpin yang rela berkorban, yang menjadikan tugas membela bangsa sebagai ibadah, dan yang menuntun anak buahnya menuju kebenaran dengan kelembutan serta keadilan. Di sinilah kita melihat bahwa kepemimpinan sejati dilahirkan dari iman, pengorbanan, dan komitmen yang tak tergoyahkan.

Sejatinya kepemimpinan maritim terpatri dari napas-napas pelaut ulung yang telah menempa diri melewati hari-hari panjang menghadapi badai dan gempuran ombak, menanggung dingin, lapar, dan rindu demi satu tujuan tunggal: melindungi kepentingan bangsa dari ancaman eksternal maupun gangguan internal. Pengalaman kolektif di dek kapal keteguhan yang diuji saat mesin meraung di tengah gelap, keputusan cepat yang harus diambil tanpa ruang untuk ragu, serta solidaritas antarawak saat nyawa dipertaruhkan mengajarkan model kepemimpinan yang menggabungkan aspek instrumental dan etis. Dari perspektif teori kepemimpinan, praktik ini merefleksikan kepemimpinan situasional (Hersey & Blanchard) yang menuntut adaptasi gaya memimpin menurut kesiapan anak buah, sekaligus kepemimpinan transaksional yang jelas dalam delegasi tugas dan tanggung jawab di saat krisis. Namun lebih dari itu, ia meresap nilai-nilai kepemimpinan transformasional (Burns; Bass) pemimpin maritim menginspirasi visi kolektif, menumbuhkan semangat pengorbanan, dan memobilisasi komitmen moral yang melampaui imbalan material.

Secara filosofis, tradisi pelayaran mengandung etos stoikisme dalam menghadapi ketidakpastian menerima hal-hal di luar kendali sambil terus berkarya  serta humanisme praksis yang menempatkan martabat anak buah dan kesejahteraan kolektif sebagai tujuan utama. Pengalaman pribadi sebagai pelaut memberi bobot empiris pada klaim ini: keputusan yang lahir dari pertimbangan etis dan kecakapan teknis kerap menjadi pembeda antara bencana dan selamat; konsistensi moral pemimpin di dek terbukti menular pada kultur unit sehingga membentuk kapasitas bertahan kolektif. 

Di tengah ketidakpastian zaman sekarang pergeseran geopolitik, krisis iklim, dan dinamika sosial teladan kepemimpinan maritim tersebut layak dijadikan referensi bagi generasi kini: berpikir strategis, bertindak adaptif, menjaga integritas, serta merawat solidaritas. Jika negara ingin mempertahankan kedaulatan dan membangun masa depan yang berkelanjutan, maka mendengar dan menginternalisasi napas-napas pelaut adalah kebutuhan normatif dan praktis yang tak tergantikan.

Kepemimpinan maritim sejati bukan sekadar penguasaan teknik navigasi; ia lahir dari ketangguhan mental, adaptivitas, dan integritas yang teruji dalam ketidakpastian samudera. Di dek kapal, saat angin mengamuk dan gelombang merobek kesunyian malam, pemimpin sejati menempatkan keselamatan kolektif dan martabat anak buah di atas ambisi pribadi. Tradisi pelayaran mengajarkan bahwa keputusan yang paling bermakna adalah keputusan yang lahir dari kombinasi kecakapan teknis, kebijaksanaan etis, dan kepedulian tulus terhadap sesama  nilai-nilai yang menjadi mercusuar moral bagi kepemimpinan nasional.

Di dek kapal, dalam kesunyian malam yang ditemani gemuruh ombak, Ramadhan menjadi saksi bisu bagi kepemimpinan yang sejati. Tradisi berpuasa dan beribadah di tengah pelayaran bukan sekadar ritual pribadi; ia melahirkan etika kolektif dan disiplin moral yang menempel dalam napas pelaut. Kepemimpinan maritim sejati tidak hanya diukur dari kemampuan membaca kompas atau menguasai teknik navigasi, melainkan dari ketangguhan mental, adaptivitas, dan integritas yang teruji ketika gelombang mengganas dan peta tak lagi menjanjikan kepastian. Seperti mercusuar yang terus memancarkan cahaya walau badai menerpa, nilai-nilai spiritual dan praktis yang tumbuh di atas kapal menjadi mercusuar moral bagi pemimpin -- baik yang memegang kemudi di laut maupun yang mengawal nasib bangsa di daratan.

Pelajaran dari para pelaut besar dunia memberi warna dan kedalaman pada konsep kepemimpinan ini. Sir Ernest Shackleton, misalnya, mengajarkan bahwa ketangguhan di tengah krisis berarti mengalihkan fokus demi keselamatan kolektif: ketika Endurance terkepung es, ia memilih misi bertahan hidup bersama daripada mempertahankan ambisi pribadi. Sikap tersebut merekam pesan penting bagi pemimpin masa kini jika idealisme mengancam keselamatan rakyat, kebijaksanaan mengharuskan prioritas berubah demi menyelamatkan nyawa dan martabat. 

Roald Amundsen mempertegas pentingnya visi yang dibarengi perencanaan matang; keberhasilan mencapai Kutub Selatan bukan sekadar soal keberanian, tetapi buah persiapan rinci dan pembelajaran dari kearifan lokal. Sementara Ferdinand Magellan mencontohkan keberanian memasuki wilayah tak terpeta sebuah model bagi pemimpin yang harus berinovasi di tengah ketidakpastian global dan Admiral Horatio Nelson menunjukkan bagaimana disiplin, delegasi, serta kepercayaan pada bawahan mencipta sistem operasional yang kuat dan responsif.

Dari perspektif teoritis, kepemimpinan maritim ini memadukan beberapa pendekatan: kepemimpinan situasional (Hersey & Blanchard) menuntut adaptasi gaya pimpinan sesuai kesiapan anak buah; kepemimpinan transaksional memastikan struktur tugas dan akuntabilitas yang jelas dalam situasi darurat; sedangkan kepemimpinan transformasional (Burns; Bass) menginspirasi komitmen moral dan visi kolektif yang melampaui kepentingan individu. Filosofi stoikisme ketenangan menghadapi hal-hal di luar kendali bersanding dengan humanisme praksis yang menempatkan martabat anak buah sebagai pusat tindakan. Kombinasi teori dan praktik inilah yang menjadikan model kepemimpinan di dek kapal relevan untuk tata kelola publik modern: adaptif, bertanggung jawab, dan beretika.

Implementasi nilai-nilai itu dalam konteks kebangsaan memerlukan langkah konkret. Pertama, integritas harus menjadi syarat rekrutmen dan promosi pejabat publik; digitalisasi perizinan dan transparansi anggaran mengurangi ruang bagi korupsi dan memperkuat akuntabilitas sebuah bentuk “kemudi” administratif yang menjaga arah kebijakan. Kedua, pembangunan kapasitas melalui pelatihan teknis dan etika kepemimpinan bagi petugas maritim dan pejabat daerah pesisir menjembatani jurang antara teori dan praktik; seperti pelaut yang dilatih menghadapi badai, pejabat yang terlatih mampu merespons krisis tanpa kehilangan kompas moral. Ketiga, kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan nelayan dan komunitas pesisir akses pembiayaan mikro, infrastruktur cold chain, dan pemberdayaan koperasi mewujudkan kepedulian empati yang menjadi penopang solidaritas.

Ramadan memberi dimensi spiritual sekaligus praktis pada semua upaya ini. Ibadah puasa mengasah kontrol diri, menguatkan empati terhadap yang lemah, dan menumbuhkan kesadaran bahwa jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Pemimpin yang menjadikan setiap keputusan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan akan lebih mudah menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Dalam suasana puasa, rutinitas shalat berjamaah di dek, doa bersama di bawah bintang, dan pembacaan kitab menjadi latihan kolektif yang membentuk kultur integritas dan solidaritas modal sosial yang langka namun sangat berharga dalam tata kelola negara.

Akhirnya, mercusuar Ramadan bukan sekadar panggilan bagi para perwira di geladak kapal, melainkan seruan bagi setiap pemimpin publik presiden, gubernur, bupati, menteri, dan kepala komunitas untuk menyalakan kembali kompas moral mereka. Ini adalah undangan untuk menegakkan transparansi tanpa kompromi, merancang kebijakan yang sungguh-sungguh berpihak pada rakyat, serta menjaga martabat anak buah dan warga dengan penuh kasih sayang. Di tengah badai perubahan iklim, gesekan geopolitik, dan gejolak ekonomi, negeri ini menuntut pemimpin yang bernafas seperti pelaut ulung: sabar dalam menunggu pelampung di kegelapan, berani saat harus mengambil keputusan yang tak populer, terampil mengolah sumber daya yang ada, dan empatik dalam merajut kembali kepercayaan yang tergerus.

Bayangkan sebuah bangsa yang dipandu oleh pemimpin-pemimpin semacam itu: yaitu pemimpin yang dapat menggali solusi praktis bagi masyarakat pesisir, dan menautkan nilai spiritual dengan kebijakan publik nyata. Bersama dengan kompas moral yang tegak dan semangat yang tak padam kita bukan hanya menavigasi masa kini, tetapi menulis bab baru bagi masa depan bangsa. kebijakan yang lahir dari kompas moral, bukan dari hitungan untung semata; komunitas pesisir yang sejahtera karena kebijakan yang adil; institusi publik yang dipercaya karena kerja nyata dan akuntabilitas. Itulah pelabuhan harapan yang kita cari tempat kembali di mana seluruh awak disambut dengan keselamatan, martabat, dan syukur. Mercusuar Ramadhan memanggil kita semua untuk menyalakan bara pengabdian itu dalam diri, dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Bismillah.
 
 
Salim, M. Phil

Ketua Dewan Pakar KPPMPI, Kandidat Doktor Universitas Airlangga

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Surya Paloh: Ramadan Momentum Perkuat Spirit Pengabdian

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:53

Kalender Maret 2026: Tanggal Merah dan Cuti Bersama

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:47

Selain Narkoba, AKBP Didik Terbukti Lakukan Penyimpangan Seksual

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:39

Cara Tukar Uang Baru 2026 di PINTAR BI, Dibuka 26 Februari

Kamis, 19 Februari 2026 | 21:10

Presiden Prabowo Angkat Prihati Pujowaskito jadi Dirut BPJS Kesehatan

Kamis, 19 Februari 2026 | 20:33

Bareskrim Periksa Admin YouTube Pandji Soal Kasus Toraja

Kamis, 19 Februari 2026 | 20:18

Pegawai Bea Cukai Diultimatum Penuhi Panggilan KPK

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:31

Laporan Pemerasan Oknum Peradilan Berpeluang Meningkat

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:08

Isu WNI Bergabung dengan Militer Israel Bisa Jadi Bola Liar

Kamis, 19 Februari 2026 | 19:01

Surya Paloh Ajak Tokoh Bangsa Perkuat Silaturahmi di Bulan Ramadan

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:51

Selengkapnya