Berita

Fotokopi ijazah S1 Kehutanan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (Foto: Media sosial)

Publika

Roy Suryo Tetap Haqul Yakin Ijazah Jokowi 99 Persen Palsu

KAMIS, 19 FEBRUARI 2026 | 18:01 WIB

KISAH ijazah Joko Widodo alias Jokowi sebenarnya banyak jenuh, tapi tetap penasaran. Penasaran seperti apa endingnya nanti. Terbaru, Roy Suryo dan Rismon hadir di PN Solo. Ia tersikukuh, 99,9 persen palsu. 

Rabu 18 Februari 2026, panggung panas ada di PN Solo. Sidang citizen lawsuit soal ijazah memuncak. 

Datanglah Roy Suryo dengan gaya bak Raja Jawa versi kaos oblong heroik, ditemani Rismon Sianipar si analis forensik digital, plus cameo elegan dari Amien Rais yang auranya seperti berkata, “Saya dukung moralnya, tapi jangan suruh saya berdiri di kursi saksi.”


Roy tampil dengan keyakinan 99,9 persen. Angka sakral kaum konspirator, karena 100 persen itu terlalu polos dan kurang dramatis. Vonisnya tegas. 

Ijazah itu palsu level dewa. Analisis telematikanya menyimpulkan dokumen miring, berubah-ubah, dan tidak identik dengan ijazah pembanding alumni UGM 1985 yang ia bawa seperti piala Liga Champions. 

Bahkan unggahan-unggahan yang beredar disebut berpotensi melanggar Pasal 32 dan 35 UU ITE. 

Ironisnya, Roy sendiri sedang berstatus tersangka dalam pusaran kasus serupa. 

Di tengah sidang, ia sempat mogok menjawab pertanyaan kuasa hukum. Alasannya, dulu ditolak jadi saksi, sekarang balas dengan mode hening. 

Dua hari sebelumnya, Senin 16 Februari, Roy cs Bersama Dokter Tifa menggelar konferensi pers. 

Mereka memamerkan enam spesimen fotokopi ijazah Jokowi. Enam! Tak satu pun identik. 

Versi pertama, dari Dekan Kehutanan UGM Oktober 2022: fotokopi A3 penuh lipatan, noktah tinta bleber karena usia 40 tahun, nuansa arsip keluarga yang disimpan di lemari kayu jati. 

Versi kedua, dari kader PSI Dian Sandi Utama April 2025: tanpa lipatan, logo kinclong tanpa bleber, seperti baru keluar dari mesin printer yang habis diservis.

Versi ketiga, dari Bareskrim Mei 2025: dua dokumen dalam satu frame, satu terlipat satu tidak, membingungkan, ini ijazah atau slide presentasi. 

Versi keempat dan kelima dari KPU Pilpres 2014-2019, tanpa watermark dan embos. Padahal, menurut klaim, ijazah asli UGM mestinya punya itu walau difotokopi berkali-kali. 

Lalu versi keenam dari gelar perkara Polda Metro Desember 2025, mendadak watermark dan embos muncul lagi. Dokter Tifa menyebutnya ilusi transparansi, tampak terbuka, tapi versi-versinya saling menegasikan. 

Mereka bahkan siap menunggu versi ketujuh dan kedelapan dari KPU Solo dan Jakarta. Seolah ini album keluarga yang tiap lebaran nambah anggota baru.

Pihak Jokowi santai. Kuasa hukum YB Irpan cs menolak kesaksian Roy dan Rismon karena keduanya tersangka dalam perkara terkait. Konflik kepentingan level dewa. 

Soal enam spesimen berbeda? Jawabannya sederhana. Fotokopi berulang, scanner beda merek, printer beda tinta, lipatan karena kebiasaan staf administrasi, logo kinclong karena pengaturan brightness

Membandingkan itu, kata mereka, seperti apel dibandingkan dengan jeruk tapi ngotot harus sama rasa.

Desakan agar Jokowi hadir membawa ijazah asli juga ditolak. Alasannya, itu bukan petitum gugatan awal dan ada asas praduga sah dokumen resmi. 

Jika fotokopi yang dipakai KPU sudah cukup, mengapa harus repot membuka brankas? Tim hukum bahkan tak mengajukan saksi ahli tambahan. 

Percaya diri maksimal. Soal kemungkinan Jokowi hadir? Sekecil debu di lembar ijazah yang katanya tak pernah keluar dari penyimpanan aman.

Maka, wahai penonton setia republik, nikmatilah paradoks ini. Di satu sisi, Roy dengan 99,9 persen keyakinan dan enam variasi ijazah yang lebih banyak dari rasa mi instan. 

Di sisi lain, tim Jokowi dengan jawaban normatif dan tameng legal formal. Sidang lanjut minggu depan. 

Entah muncul versi tujuh, atau hakim tiba-tiba berkata, “Cukup, ini bukan acara unboxing dokumen.”

Di negeri ini, satu ijazah bisa menjelma sinetron lintas musim. Seru? Jelas. Melelahkan? Sangat. 

Tapi begitulah demokrasi digital 2026. Di mana selembar kertas bisa lebih viral dari visi pembangunan lima tahunan. Kita tunggu saja plot twist berikutnya.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya