Berita

Diskusi Publik Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) membahas tantangan utama era AI (Foto: Dokumen JKJT)

Tekno

AI Mempercepat tapi Manusia Tetap Penentu Arah

KAMIS, 19 FEBRUARI 2026 | 12:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar isu teknologi, melainkan persoalan peradaban. 

Dalam diskusi publik yang digelar Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT), para narasumber menegaskan bahwa tantangan utama era AI bukanlah dominasi mesin, melainkan kemungkinan manusia kehilangan daya kritis, nilai, dan kendali atas arah hidupnya.

Ketua Umum JKJT, Agustinus Tedja Bawana, mengingatkan bahwa risiko terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada manusia yang gagal mengendalikannya. 


“Dunia pendidikan, keluarga, dan sistem sosial belum siap secara regulasi maupun mental. AI bukan musuh, tetapi alat yang harus dikendalikan manusia, bukan sebaliknya,” ujarnya di Malang, dikutip Kamis, 19 Februari 2026.

Dari perspektif teknologi, Hendricus Arfianto Maatita menyoroti kekhawatiran terhadap AI sudah muncul sejak era Alan Turing. 

“Teknologi selalu melemahkan fungsi biologis manusia jika tidak dikontrol,” katanya.
Ia merujuk studi MIT yang menunjukkan penggunaan AI berlebihan dapat menurunkan aktivitas kognitif. Menurutnya, Indonesia terlalu cepat mengadopsi teknologi, tetapi lambat membangun literasi dampaknya. 
“Risiko terbesar adalah hilangnya daya kritis dan manipulasi informasi,” katanya.

Dalam konteks ketahanan nasional, Dr. Didik Mukti Yanto melihat ancaman yang lebih luas. Ia menilai Indonesia masih menjadi konsumen AI, bukan pencipta. Fenomena fomo, budaya uang instan, dan eksploitasi digital dinilai berbahaya bagi pembentukan karakter generasi muda. 

“Ancaman terbesar adalah pembunuhan karakter,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Mufidah Cholil menyoroti dampak AI terhadap struktur keluarga dan kehormatan manusia. Ia menegaskan bahwa teknologi adalah anugerah, tetapi tidak boleh menggantikan peran orang tua. 

“Anak belum memiliki bekal pengetahuan untuk memfilter informasi. Jika keluarga runtuh, negara ikut runtuh,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya regulasi perlindungan anak dan penguatan komunikasi dalam keluarga.

Dari sisi kepemimpinan dan kesadaran kolektif, Dr. Djoko Pramono mengingatkan bahwa problem utama bukan teknologinya, melainkan manusia yang “menuhankan” teknologi. 

“AI hanyalah alat bantu. Perubahan harus dimulai dari manusia,” katanya. Ia menekankan pentingnya kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual dalam memimpin di era digital.

Johanes Rasul Heksa Galuh menambahkan bahwa persoalan mendasarnya adalah ketidaksiapan sistem pendidikan. 

“AI tidak salah, yang salah adalah sistem yang belum siap. Proses biologis berpikir tidak boleh hilang,” ujarnya. Pendidikan, menurutnya, harus tetap menekankan proses dan struktur berpikir, bukan sekadar hasil instan.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa AI memang mempercepat langkah manusia, tetapi arah peradaban tetap ditentukan oleh kesadaran, etika, dan kualitas kepemimpinan. 

Tanpa penguatan literasi, keluarga, pendidikan, dan regulasi negara, percepatan teknologi justru dapat melemahkan ketahanan sosial bangsa. Pada akhirnya, teknologi boleh berputar cepat, tetapi manusia harus tetap menjadi pusat rotasi-penentu arah masa depan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya