Berita

Selat Hormuz (Foto: Caspian Post)

Dunia

Iran Tutup Selat Hormuz Saat Negosiasi Nuklir Memanas

RABU, 18 FEBRUARI 2026 | 12:27 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Iran mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz pada Selasa waktu setempat, 17 Februari 2026, bertepatan dengan berlangsungnya putaran baru perundingan nuklir dengan Amerika Serikat. 

Keputusan menutup jalur pelayaran tersebut dilakukan karena Iran menggelar latihan militer dengan tembakan peluru tajam selama beberapa jam demi alasan keselamatan maritim. 

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pasukan militernya menembakkan rudal ke arah selat yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia tersebut. 


Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, turut melontarkan peringatan keras kepada Washington di tengah latihan militer tersebut

"Tentara terkuat di dunia pun terkadang bisa menerima tamparan sedemikian rupa sehingga tidak mampu bangkit kembali," ujarnya, seperti dikutip Associated Press. 

Ini menandai pertama kalinya Iran menutup sebagian Selat Hormuz, jalur air internasional utama yang menghubungkan produsen minyak mentah di Timur Tengah dengan pasar-pasar utama di seluruh dunia, sejak Presiden AS Donald Trump mengancam Teheran dengan tindakan militer pada bulan Januari.

Terletak di teluk antara Oman dan Iran, selat ini diakui sebagai salah satu titik hambatan minyak terpenting di dunia.

Menurut data yang diberikan oleh perusahaan intelijen pasar Kpler, ekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz pada tahun 2025, yang mencakup sekitar 31 persen dari aliran minyak mentah melalui laut global. 

Meski retorika militer menguat, sinyal diplomasi tetap muncul dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran dalam perundingan di Jenewa. Ia menyampaikan optimisme terhadap jalannya dialog. 

“Kami berharap negosiasi akan menghasilkan solusi berkelanjutan dan hasil negosiasi yang dapat melayani kepentingan pihak-pihak terkait dan kawasan yang lebih luas,” ungkapnya.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menilai perundingan menunjukkan kemajuan meski masih menyisakan sejumlah perbedaan mendasar. 

“Dalam beberapa hal, semuanya berjalan dengan baik,” ujar Vance, sembari menegaskan adanya garis merah Washington yang belum disepakati Iran.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya