Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Wall Street menguat tipis pada akhir perdagangan setelah sempat tertekan di awal sesi.
Pemulihan saham-saham teknologi menjadi penopang utama, di tengah pasar yang masih dibayangi kekhawatiran soal kecerdasan buatan (AI) dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Pergerakan saham mulai membaik pada paruh kedua perdagangan.
Dikutip dari
Reuters, Rabu 18 Februari 2026, pada penutupan perdagangan Selasa, Dow Jones Industrial Average naik 0,07 persen, S&P 500 menguat 0,10 persen, dan Nasdaq Composite bertambah 0,14 persen.
Sektor teknologi S&P 500 yang sebelumnya sempat jatuh hingga 1,5 persen akhirnya berbalik naik 0,5 persen, didorong penguatan saham Nvidia dan Apple, meski tertahan pelemahan Microsoft dan Oracle.
Tekanan pasar sebenarnya masih terasa, terutama setelah pekan lalu saham-saham perangkat lunak, pialang, dan perusahaan logistik dilepas investor akibat kekhawatiran AI bisa mengganggu model bisnis. Situasi makin tidak pasti setelah Alibaba memperkenalkan model AI terbarunya, Qwen 3.5.
Meski saham teknologi pulih, saham perangkat lunak masih tertekan. Indeks software S&P 500 turun 1,6 persen, dengan Intuit dan Cadence Design Systems menjadi yang terburuk setelah anjlok lebih dari 5 persen.
Perhatian investor kini tertuju pada data pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi favorit Federal Reserve. Pasar memperkirakan peluang sekitar 63 persen untuk pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Juni.
Secara keseluruhan, pasar masih bergerak volatil dengan volume transaksi sekitar 17,76 miliar saham. Investor tampak menimbang antara peluang reli berbasis AI dan risiko inflasi, sambil menunggu sinyal yang lebih jelas dari data ekonomi dan langkah The Fed ke depan.