Berita

Founder Citra Institute, Yusak Farchan, dalam diskusi publik bertajuk "Masa Depan Pilkada: Antara Aspirasi Rakyat dan Penataan Sistem Politik", yang digelar di Jakarta Pusat, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Politik

Ongkos Politik Mencekik, Model Pilkada Mendesak Diubah

JUMAT, 13 FEBRUARI 2026 | 20:06 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Biaya politik di Indonesia yang sudah teramat tinggi, membuat perubahan model pemilihan kepala daerah (Pilkada) dianggap mendesak atau urgent.

Hal tersebut disampaikan Founder Citra Institute, Yusak Farchan, dalam diskusi publik bertajuk "Masa Depan Pilkada: Antara Aspirasi Rakyat dan Penataan Sistem Politik", yang digelar di Jakarta Pusat, Jumat, 13 Februari 2026.

"Karena perjalanan pilkada langsung sejak 2005 sampai sekarang memang menunjukkan biaya politik yang tinggi," ujar dia.


Magister Ilmu Politik Universitas Nasional itu merinci, biaya politik yang mahal paling tidak bisa ditaksir dari 4 tahapan dalam pilkada, yaitu tahapan pencalonan, kampanye, penghitungan dan rekapitulasi suara, serta tahapan sengketa hasil pemilihan di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Kalau satu kursi standarnya Rp300-500 juta, dan ada banyak partai, misal mereka butuh 10 dukungan partai politik itu sudah Rp3 miliar, itu sudah sangat besar," urainya.

Selain itu, Yusak meyakini di tahap kampanye yang terbatas dan terbilang sangat singkat, kandidat tidak mungkin menjangkau semuanya dengan cara-cara biasa sehingga cara yang digunakan adalah serangan fajar atau politik uang.

"Kalau disurvei saya ditanyakan, metode apa yang disukai? Itu pasti jawabannya tatap muka. Makanya diakali. Lewat apa? Timses. Misal dalam satu daerah, ketemuan 30 ribu orang, indexnya (biayanya satu orang dapat) Rp500 ribu, itu sudah Rp15 miliar," paparnya.

"Belum lagi kalau ada sengketa, bayar lawyer pun mahal. Kalau ditotal untuk jadi bupati Rp30-50M. Memang mahal sekali. Ini yang kemudian kita baca," ungkapnya.

Oleh karena itu, apabila persoalan politik uang yang menjadi alasan utama perubahan model pilkada, maka Yusak sepakat dengan Presiden Prabowo Subianto.

"Sampai titik ini saya sepakat dengan pikiran Presiden, bahwa demokrasi kita sudah mengarah ke liberalis-kapitalis," sambung Yusak menambahkan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya