Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Rilis Data Tenaga Kerja Bikin Wall Street Tergelincir

KAMIS, 12 FEBRUARI 2026 | 07:59 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah indeks Wall Street melemah setelah rilis data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan membuat pasar menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Pergerakan saham dimulai sejak sesi awal yang positif, namun berbalik melemah di akhir perdagangan. 

Dikutip dari Reuters, Kamis 12 Februari 2026, pada penutupan perdagangan Rabu, indeks Dow Jones turun 0,13 persen ke level 50.121,40, Nasdaq melemah 0,16 persen ke 23.066,47, sementara S&P 500 nyaris tidak berubah dan ditutup di 6.941,47. 


Sebelumnya, S&P 500 dan Nasdaq sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan setelah laporan payroll menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melonjak pada Januari, dengan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3 persen.

Namun, penguatan itu memudar seiring pelaku pasar memangkas taruhan terhadap pemangkasan suku bunga. Data CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed menahan suku bunga pada Juni meningkat menjadi 41 persen, dari sebelumnya 24,8 persen, meski pasar masih memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan sebesar 25 basis poin tahun ini.

Dari sisi sektoral, delapan dari 11 sektor utama S&P 500 mencatat kenaikan. Sektor energi memimpin dengan lonjakan 2,6 persen, disusul barang konsumsi defensif naik 1,4 persen. Sebaliknya, jasa keuangan dan layanan komunikasi masing-masing turun lebih dari 1 persen. Saham Caterpillar melonjak 4,4 persen setelah Argus Research menaikkan target harga sahamnya secara tajam, sementara IBM menjadi pemberat terbesar Dow Jones.

Sektor teknologi bergerak beragam. Saham chip menguat, tercermin dari indeks semikonduktor Philadelphia yang naik 2,3 persen. Namun saham perangkat lunak justru jatuh 2,6 persen akibat kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan (AI). Microsoft turun 2,2 persen dan Alphabet melemah 2,4 persen, menjadi penekan utama S&P 500.

Di saham individual, Robinhood anjlok 8,9 persen setelah pendapatan kuartal keempat meleset dari ekspektasi. Moderna turun 3,5 persen usai FDA menolak meninjau vaksin flu terbarunya. Sebaliknya, Generac melesat hampir 18 persen setelah merilis kinerja kuartalan yang kuat.

Kini perhatian investor akan tertuju pada rilis data inflasi AS (Consumer Price Index/CPI) Januari yang dijadwalkan keluar Jumat ini, yang diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Catat 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:20

Implementasi PP Tunas Jangan Sekadar Formalitas

Minggu, 29 Maret 2026 | 10:13

Gelombang Aksi “No Kings” Meledak di Seluruh AS, Tuntut Trump Lengser

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:25

87 Persen Penyelenggara Negara Sudah Lapor LHKPN

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:22

Kejagung Bongkar Praktik Tambang Ilegal Samin Tan

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:01

Pramono Upayakan Tak Ada PHK di Tengah Wacana Pembatasan Belanja Pegawai

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:46

Pemerintah Wajibkan Platform Digital Patuhi PP Tunas Tanpa Kompromi

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:32

Kemenhaj Optimistis Operasional Haji 2026 Sesuai Rencana

Minggu, 29 Maret 2026 | 08:10

WFH Jumat Bisa Ciptakan Life Balance dan Tetap Produktif

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:30

Pemprov DKI Dukung Program Presiden soal Hunian Layak Warga Rel

Minggu, 29 Maret 2026 | 07:15

Selengkapnya