Berita

Ilustrasi. (Foto: Puspen TNI)

Politik

Pelibatan TNI dalam Penanggulangan Terorisme Rawan Langgar HAM

RABU, 11 FEBRUARI 2026 | 21:12 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Rencana memperluas keterlibatan TNI dalam revisi Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menuai sorotan. 

Sejumlah kalangan mempertanyakan urgensi dan dasar konstitusional gagasan tersebut.

Salah satu kritik datang dari influencer Guru Gembul yang menilai bahwa penanganan terorisme tetap harus ditempatkan dalam kerangka hukum pidana.


Menurutnya, fungsi utama TNI adalah menjaga pertahanan negara dan menghadapi ancaman militer, bukan menjalankan proses penegakan hukum terhadap warga sipil.

“Masalah penindakan itu urusannya penegakan hukum. Tentara itu tidak punya fungsi itu. Tentara dibentuk untuk berperang,” ujar Guru Gembul, dikutip dari kanal YouTube 2045TV, Rabu, 11 Februari 2026.

Proses seperti penyelidikan, penangkapan, hingga pembuktian di pengadilan, lanjut dia, merupakan kewenangan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian dan lembaga peradilan. Karena itu, perlu kehati-hatian agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.

Ia menekankan bahwa doktrin militer berbeda secara mendasar dengan prinsip penegakan hukum. Militer beroperasi dengan pola komando yang hierarkis dan berorientasi pada pengendalian ancaman secara cepat.

“Sebaliknya, penegakan hukum menuntut penghormatan terhadap asas praduga tak bersalah, proporsionalitas penggunaan kekuatan, serta mekanisme akuntabilitas yang transparan,” jelasnya. 

Perbedaan ini dinilai berpotensi menimbulkan persoalan jika tidak dipisahkan secara tegas.

Guru Gembul juga mengingatkan kemungkinan munculnya praktik represif apabila pendekatan militer diterapkan di ruang sipil.

“Kalau pendekatan tempur dibawa ke ranah sipil, risiko tindakan represif itu jadi lebih besar,” ungkap dia.

Dalam sistem hukum pidana, seseorang hanya bisa dinyatakan bersalah melalui proses peradilan yang sah. Karena itu, pendekatan yang terlalu menekankan aspek keamanan dikhawatirkan menggerus prinsip due process of law.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa terorisme merupakan ancaman serius yang membutuhkan respons tegas. Namun, ketegasan tersebut, menurutnya, harus tetap berada dalam bingkai supremasi sipil dan pengawasan demokratis.

Penguatan intelijen, peningkatan koordinasi antar-lembaga, serta profesionalisme aparat penegak hukum dinilai lebih tepat dibanding memperluas peran militer dalam ranah sipil.

Ia pun mendorong para pembuat kebijakan untuk merumuskan regulasi secara cermat, terutama terkait penggunaan kekuatan bersenjata dalam konteks domestik. Keamanan nasional, tegasnya, tidak boleh dicapai dengan mengabaikan prinsip hak asasi manusia dan negara hukum.

“Menjaga batas yang jelas antara fungsi pertahanan dan penegakan hukum menjadi kunci agar demokrasi tetap terpelihara dan tidak mundur dari semangat reformasi,” pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya