Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street Variatif, Indeks Utama Ditutup Melemah

RABU, 11 FEBRUARI 2026 | 08:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Amerika Serikat bergerak bervariasi saat para investor mencermati data penjualan ritel yang mengecewakan sambil menunggu laporan ketenagakerjaan penting.

Dikutip dari Reuters, Rabu 11 Februari 2026, pada penutupan perdagangan Selasa, Dow Jones naik tipis 0,10 persen atau 52,27 poin ke level 50.188,14 dan mencetak rekor penutupan untuk hari ketiga berturut-turut. Sebaliknya, S&P 500 turun 0,33 persen ke 6.941,81, sementara Nasdaq melemah 0,59 persen ke 23.102,47.

Tekanan terbesar datang dari sektor layanan komunikasi S&P 500, dipicu saham Alphabet yang turun 1,8 persen setelah induk Google itu mengumumkan penerbitan obligasi senilai 20 miliar Dolar AS. Langkah ini memperkuat kekhawatiran investor soal masifnya belanja modal perusahaan teknologi demi mengejar dominasi AI. Amazon, Alphabet, Meta, dan Microsoft diperkirakan akan menggelontorkan ratusan miliar dolar sepanjang 2026.


Sentimen pasar juga terpukul oleh data penjualan ritel AS yang stagnan pada Desember, jauh dari perkiraan kenaikan 0,4 persen. Rumah tangga terlihat mengurangi belanja kendaraan dan barang mahal, memberi sinyal perlambatan konsumsi dan ekonomi di awal tahun.

Meski begitu, pelaku pasar mulai berharap sikap Federal Reserve akan lebih lunak. Peluang pemangkasan suku bunga pada April naik menjadi 36,9 persen dari 32,2 persen sehari sebelumnya, menurut CME FedWatch. Namun, mayoritas investor masih memperkirakan bank sentral baru akan menahan suku bunga hingga Juni.

Kepala strategi investasi Janney Montgomery Scott, Mark Luschini, menyebut data ritel yang buruk justru dipersepsikan positif bagi pasar. “Berita buruk menjadi kabar baik,” ujarnya, terutama bagi sektor sensitif suku bunga seperti utilitas dan properti yang memimpin penguatan sektor hari itu.

Namun Luschini mengingatkan pasar masih berhati-hati menjelang laporan tenaga kerja non-pertanian.
“Menjelang laporan pekerjaan, tak ada yang ingin mengambil risiko berlebihan jika angkanya justru memicu kegelisahan,” katanya.

Dari saham individual, Walt Disney dan Home Depot yang masing-masing naik lebih dari 2 persen, membantu menopang Dow. Sebaliknya, Coca-Cola turun 1,5 persen setelah pendapatan kuartal keempatnya meleset dari ekspektasi.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya