Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

RABU, 11 FEBRUARI 2026 | 03:34 WIB

SEBENARNYA saya mau marah. Masa’ kita dicap rakyat yang mudah ditipu. Ngenes bangat dah. Mau gimana lagi. 

Tahun 2025, Global Fraud Index versi Sumsub resmi menempatkan Indonesia di peringkat 111 dari 112 negara dengan skor 6,53. Nomor dua paling gampang ditipu sedunia. Asia-Pasifik lagi pada jatuh, Indonesia malah turun 11 peringkat dari tahun sebelumnya. 

Dalam psikologi, ini namanya “habitual vulnerability”. Dalam bahasa tongkrongan, sudah sering kena, tapi tetap penasaran buat kena lagi. Atau bahagia ditipu berkali-kali.


Lalu kita tanya pelan-pelan ke diri sendiri, kenapa kok gampang banget? Jawabannya ternyata bukan cuma ekonomi, bukan cuma hukum, tapi juga urusan kepala. 

Berdasarkan data World Population Review tahun 2022, rata-rata IQ penduduk Indonesia berada di angka sekitar 78,5. Ini menempatkan kita di posisi ke-130 dari 199 negara. 

Bandingkan dengan Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang rata-rata IQ-nya di atas 106. Di psikologi kognitif, selisih ini bukan soal pintar atau bodoh semata, tapi soal “daya tahan berpikir kritis saat digoda.” 

IQ rendah bukan berarti tak bisa berpikir, tapi lebih rentan mengambil keputusan impulsif, apalagi kalau dikasih uang tunai di depan mata.

Tenang, sebelum tersinggung, ilmu psikologi juga bilang ini bukan dosa individu. Angka IQ nasional dipengaruhi banyak faktor. 

Akses pendidikan yang timpang, kualitas kurikulum yang hobi ganti-ganti tapi substansi segitu-gitu aja, status gizi yang bikin otak lebih sering mikir “nanti makan apa” dari “nanti negara ke mana”, lingkungan sosial-ekonomi yang stres, dan tentu saja metodologi survei. 

Tapi mau pakai metodologi apa pun, hasil akhirnya sama, saat iming-iming datang, otak kolektif kita cepat masuk mode autopilot.

Makanya jangan heran skor fraud kita tinggi. Skor tinggi itu berarti perlindungan KYC/AML lemah, intervensi pemerintah letoy, ekonomi bikin rakyat desperate, dan penipuan tumbuh subur. 

Tapi faktor penentu terakhir tetap psikologi massa, kombinasi optimisme irasional dan kemampuan analisis yang ngos-ngosan. 

Kita selalu merasa “ah, kali ini aman”. Robot trading ini beda. Slot ini gacor. Caleg ini baik. Otak bagian logika disuruh nunggu, dopamin yang pegang kemudi.

Masuklah kita ke mahakarya penipuan nasional, serangan fajar. Di dunia digital, kita gampang transfer ke penipu janji untung 100 persen per bulan. 

Di dunia nyata, lebih parah lagi. Cukup amplop cokelat isi Rp50.000 sampai Rp200.000, demokrasi langsung diskon kilat. 

Data Indikator Politik Indonesia pasca-Pemilu 2024 mencatat 35 persen pemilih memilih calon karena dikasih uang, naik dari 28 persen pada 2019. Yang menolak tegas tinggal 8 persen. Yang dulu bilang politik uang nggak wajar turun dari 67 persen jadi 49,6 persen. Sisanya, 46,9 persen, sudah naik level kesadaran, menganggap ini wajar, bahkan hak.

Dalam psikologi sosial, ini disebut normalisasi kebobrokan. Awalnya risih, lalu biasa, akhirnya defensif. 

Pilkada 2024 memperjelas pola ini. Bawaslu mencatat 130 dugaan politik uang, 121 terjadi di masa tenang, 71 berupa bagi-bagi duit. 

DKPP menangani 31 perkara politik uang sepanjang Pemilu dan Pilkada 2024. Modusnya kreatif tapi itu-itu saja, amplop Rp20 ribu sampai ratusan ribu, sembako, emas, sapi. Ada yang bagi Rp150-300 ribu per orang, ada yang menyiapkan puluhan miliar khusus buat serangan fajar. 

Caleg di Jakarta Timur bahkan ngaku keluar Rp15 miliar, tapi tetap kalah sama yang lebih jago memijat dopamin pemilih.

Akhirnya semua nyambung. IQ rendah rata-rata, stres ekonomi, pendidikan timpang, dan budaya instan membentuk masyarakat yang secara psikologis mudah diyakinkan, sulit curiga. 

Ponzi, judi online, belanja palsu, politik uang, semuanya menekan tombol yang sama di otak, harap untung cepat, takut ketinggalan, malas berpikir panjang.

Jadi selamat, rakyat Indonesia. Kita bukan cuma mudah ditipu, kita ilmiah. Ada datanya. Ada teorinya. Kita tahu ini salah, tapi tetap diambil. Kita tahu ini rugi, tapi terasa nyata. 

Karena dalam logika kolektif kita, masa depan itu konsep abstrak, sedangkan amplop itu konkret. Selama kepala kita masih lebih cepat bereaksi ke uang tunai dari ke akal sehat, jangan khawatir, gelar juara dunia ini aman di tangan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya