Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Kemenangan Sanae Takaichi Picu Pelemahan Yen

SENIN, 09 FEBRUARI 2026 | 08:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mata uang Yen Jepang kembali tertekan pada awal perdagangan di Asia, Senin pagi, 9 Februari 2026, menyusul hasil pemilu yang mengukuhkan posisi Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri. 

Kemenangan ini memicu ekspektasi pelaku pasar terhadap kemungkinan lahirnya paket stimulus fiskal yang lebih agresif di bawah kepemimpinannya. 

Di pasar spot Singapura, Yen tercatat melorot hingga 0,3 persen ke level 157,72 per Dolar AS. Ini tren negatif yang telah berlangsung selama tujuh hari berturut-turut sekaligus menjadi posisi terlemah Yen dalam dua pekan terakhir.


Dominasi Takaichi terlihat sangat kuat setelah Partai Demokrat Liberal (LDP) diproyeksikan mengamankan 328 dari total 465 kursi di majelis rendah. 

Kekuatan ini, jika digabungkan dengan mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang atau Ishin, memberikan pemerintah kendali mayoritas dua pertiga kursi parlemen. Posisi tersebut sangat strategis karena memungkinkan Takaichi untuk meloloskan berbagai kebijakan meski harus menghadapi hambatan di majelis tinggi yang berada di luar kendalinya.

Di sisi lain, indeks Dolar Amerika Serikat (AS) atau indeks DXY terpantau bergerak stabil di level 97,683 seiring penantian sejumlah data ekonomi penting dari AS, seperti laporan inflasi, penjualan ritel, dan data tenaga kerja yang sempat tertunda. 

Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve akan melonggarkan kebijakan moneternya. Berdasarkan data FedWatch Tool dari CME Group, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Maret mendatang kini merangkak naik ke posisi 19,9 persen.

Pergerakan mata uang global lainnya juga menunjukkan dinamika yang beragam. 

Poundsterling Inggris tercatat melemah 0,1 persen ke posisi 1,3598 Dolar AS akibat guncangan politik yang menerpa pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer menyusul pengunduran diri kepala stafnya, Morgan McSweeney. 

Sementara itu, Dolar Australia dan Selandia Baru masing-masing mencatatkan penguatan tipis, sedangkan Euro dan Yuan China cenderung bergerak mendatar terhadap Dolar AS pada pembukaan pekan ini.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya