Berita

Sejumlah sosok dinilai merepresentasikan kedekatan PKB dan PBNU. (Foto: Istimewa)

Politik

Membaca Operasi Senyap PKB Jelang Muktamar ke-35 NU

KAMIS, 05 FEBRUARI 2026 | 21:08 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Dinamika politik di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menghangat jelang Muktamar ke-35.

Disinyalir, ada manuver Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk memengaruhi kontestasi kepemimpinan PBNU demi mengembalikan keharmonisan PKB-NU.

Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung Barat, Asep Hidayatul Muttaqin menilai ketegangan PBNU era KH Yahya Cholil Staquf dan PKB di bawah Muhaimin Iskandar memicu upaya konsolidasi diam-diam dari kalangan kiai yang dekat dengan PKB.


“Secara politik PKB tidak mungkin pasif. Mereka membaca bahwa kepemimpinan PBNU saat ini cenderung menjauh dari basis politik historisnya. Maka wajar jika muncul upaya menyiapkan figur alternatif untuk Muktamar ke-35,” ujar Asep kepada wartawan, Kamis, 5 Februari 2026.

Bahkan muncul kabar sudah ada empat figur disiapkan dalam rangka merepresentasikan kepentingan PKB lebih dekat dengan akar rumput NU.

Pertama adalah pengasuh Pesantren Denanyar, Jombang, KH Abdul Salam Shohib. Sosok yang akrab disapa Gus Salam ini dinilai memiliki legitimasi kultural kuat sebagai cucu muassis NU dan paman dari Cak Imin. Ia dikenal vokal mengkritik arah kepemimpinan PBNU saat ini.

“Gus Salam mewakili suara kiai sepuh yang ingin PBNU kembali lebih akomodatif terhadap aspirasi politik warga NU,” jelas Asep.

Sosok kedua adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang ini disebut sebagai figur perekat yang memiliki jaringan luas.

Ketiga ada KH Imam Jazuli. Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon ini dikenal sebagai orang dekat elite PKB dan paling vokal membela PKB saat dimarjinalkan oleh PBNU periode Gus Yahya.

Jargon "Nahdliyin 24 Karat" adalah idenya, yang merujuk pada prinsip bahwa warga NU sejati seharusnya memilih PKB. Ia secara tegas menolak politisasi PBNU yang menggembosi PKB.

“Bagi Kiai Imam Jazuli, PBNU harus berfungsi sebagai civil society, sementara PKB menjadi rumah politik Nahdliyin. Keduanya tidak boleh saling mengooptasi, tetapi berjalan paralel secara profesional,” kata Asep.

Sosok keempat ada Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa. KH Zulfa merupakan figur jembatan yang diterima di struktur jam’iyyah, namun tetap memiliki simpati terhadap PKB.

Menurut Asep, kedekatan dengan jaringan partai dan status sebagai keponakan KH Ma’ruf Amin membuat KH Zulfa sering disebut sebagai 'kuda hitam'.

“Gus Zulfa memiliki posisi unik, ia orang dalam PBNU tetapi tidak berjarak dengan PKB. Ini menjadikannya figur kompromi yang potensial,” tutur Asep.

Asep menilai manuver ini bisa dibaca melalui pendekatan Teori Pertukaran Sosial, yakni PKB merasa kontribusinya terhadap NU tidak mendapat balasan proporsional, sehingga berupaya mengubah konfigurasi kepemimpinan PBNU.

Jangan lupa, PKB lahir dari rahim PBNU pada 1998 melalui surat tugas resmi organisasi.

“Secara historis, PKB adalah anak kandung NU. Karena itu, relasi keduanya semestinya bersifat simbiotik, bukan antagonistik,” tegasnya.

“Muktamar ini akan menentukan apakah PBNU kembali menjadi pengayom seluruh warga Nahdliyin, termasuk PKB, atau justru menjaga jarak yang semakin lebar,” pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Ketua KNPI Merauke Ajak Generasi Muda Berkontribusi bagi Kemajuan Daerah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 04:19

Kedaulatan Teknologi Faktor Penting Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:55

PKS Desak Pemerintah Bersikap Proporsional Terkait MSCI

Kamis, 29 Oktober 2026 | 03:25

Solusi Kasus Business Judgement Rule Sektor Perumahan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:57

Waka BRIN Pimpin Delegasi RI Perjuangkan Space Economic di Konferensi PBB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:32

Pertamina Didorong Ambil Alih Proyek Migas Mangkrak Demi Genjot Produktivitas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 02:12

KPK Endus Ada Kickback Vendor kepada Pejabat BNPB

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:59

Presiden PKS Wanti-wanti Bahaya AI sebagai Senjata Fitnah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:34

Masih Atur Waktu, KPK Bantah Ada Kendala dalam Pemanggilan Nusron

Kamis, 29 Oktober 2026 | 01:04

Polri Utamakan Pendekatan Humanis dan Edukatif Selama Operasi Patuh 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 | 00:42

Selengkapnya