Berita

Denada Tambunan. (Foto: InsertLive/Marianus Harmita)

Publika

24 Tahun Jadi Gen Rahasia, Denada Akui Ressa Anaknya

SENIN, 02 FEBRUARI 2026 | 17:46 WIB

BANYAK pasangan suami istri tak punya anak. Segala cara mereka usahakan demi mendapatkan momongan. Begitu hamil, apa lagi lahiran, ia umumkan ke publik. 

Berbeda dengan Denada. Ia punya anak justru dirahasiakan ke khalayak. Akhirnya, rahasia itu terbongkar oleh pengakuannya sendiri.

Kebenaran itu rupanya seperti sel kanker jinak yang terlalu lama disembunyikan. Awalnya kecil, tak terasa, lalu tiba-tiba meledak di layar ponsel jutaan orang. 


Indonesia pun terperanjat. Denada Tambunan, nama yang selama ini dikenal lewat panggung dan sorotan lampu, akhirnya melakukan operasi terbuka pada rahasia genetisnya sendiri. 

Tanpa bius, tanpa editan berlebihan. Lewat Instagram, laboratorium paling bising abad ini, ia menyatakan sesuatu yang membuat gosip kolaps seperti jaringan tubuh kehabisan oksigen. Ressa Rizky Rosano adalah anak kandungnya.

Pengakuan itu jatuh seperti hasil tes DNA yang dibacakan di ruang publik. Tidak bisa ditawar, tidak bisa diedit. 

“Saya Denada Tambunan menyatakan, Ressa Rosano adalah anak kandung saya,” ucapnya dengan suara bergetar, Senin 2 Februari 2026. 

Kalimat itu bekerja seperti impuls listrik pada sistem saraf netizen. Otak publik mendadak aktif, empati dan amarah bereaksi bersamaan. Sementara jari-jari sibuk mengetik vonis moral secepat refleks lutut.

Denada tampil sederhana. Tapi, kesedihannya berlapis-lapis seperti jaringan epitel yang pernah terluka berulang kali. 

Ia mengakui, Ressa, pemuda 24 tahun asal Banyuwangi, tidak tumbuh dalam dekapan biologis yang semestinya. 

Alasannya bukan drama sinetron, melainkan faktor internal. Kondisi psikis yang saat itu tidak layak untuk menjalankan fungsi keibuan. 

Dalam bahasa biologi, ia seperti organ vital yang sedang gagal fungsi, ada, tapi tak mampu bekerja. 

“Itu kesalahan saya, itu kebodohan saya, itu kekhilafan saya,” katanya, seolah sedang membedah dirinya sendiri di depan cermin yang tak bisa ditutup lagi.

Pengakuan ini sekaligus mengonfirmasi dugaan lama bahwa identitas Ressa disembunyikan seperti gen resesif, ada, tapi ditekan agar tak muncul ke permukaan. 

Selama 24 tahun, Ressa tumbuh di Banyuwangi, diasuh kerabat. Sementara pengakuan hanya beredar sebagai rumor dalam bentuk bisik-bisik dan spekulasi liar. 

Hingga akhirnya, tubuh hukum bereaksi. Pada November 2025, Ressa mengajukan gugatan perdata sebesar Rp7 miliar ke Pengadilan Negeri Banyuwangi atas dugaan penelantaran anak. 

Gugatan itu seperti sinyal inflamasi, menyakitkan, tapi menandakan ada luka serius yang tak bisa lagi diabaikan.

Kuasa hukum Denada sempat menyatakan, biaya hidup dan pendidikan rutin dikirim. Namun Ressa menolak direduksi menjadi angka transfer. 

Yang ia tuntut bukan nutrisi finansial, melainkan pengakuan identitas, status hukum dan moral yang selama ini kosong seperti kromosom yang hilang. 

Maka ketika Denada akhirnya bicara, publik menyaksikan proses metabolisme emosional yang telat tapi tak terhindarkan.

Denada memohon maaf kepada Ressa, kepada mendiang ibunya Emilia Contessa, kepada adik-adiknya. 

Ia berharap pintu maaf masih terbuka, meski ia sadar waktu bukan obat yang selalu manjur. 

Sementara itu, satu variabel biologis masih mengambang, ayah kandung Ressa. 

Identitasnya tetap misteri, memicu spekulasi seperti mutasi liar di laboratorium netizen. Nama-nama muncul, dicocokkan lewat wajah, lalu gugur satu per satu sebagai cocoklogi murahan.

Drama ini bukan sekadar gosip artis. Ini kisah tentang darah, gen, dan pengakuan yang tertunda. 

Tentang seorang ibu yang akhirnya berani membaca hasil uji hidupnya sendiri, dan seorang anak yang sejak lama menunggu namanya diakui secara sah. 

Di negeri ini, kebenaran memang sering datang terlambat, tapi ketika ia datang, ia datang dengan suara keras, seperti detak jantung yang akhirnya kembali terdengar.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya