Longsor di pertambangan coltan Rubaya (Foto: NPR)
Bencana longsor yang terjadi di kawasan pertambangan coltan Rubaya, timur Republik Demokratik Kongo, menewaskan sedikitnya 200 pekerja.
Mengutip laporan Associated Press pada Minggu, 1 Januari 2026, insiden tersebut terjadi setelah hujan deras memicu runtuhnya sejumlah lubang tambang di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak M23.
Juru bicara gubernur Provinsi Kivu Utara yang ditunjuk pemberontak, Lumumba Kambere Muyisa, mengatakan hingga kini proses evakuasi masih berlangsung.
“Saat ini, lebih dari 200 orang tewas, beberapa di antaranya masih terkubur di lumpur dan belum ditemukan," ujarnya.
Selain korban tewas, sejumlah pekerja dilaporkan mengalami luka-luka dan telah dibawa ke tiga fasilitas kesehatan di kota Rubaya.
Muyisa menambahkan bahwa ambulans dijadwalkan mengevakuasi korban luka ke Goma, kota besar terdekat yang berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi kejadian.
Pasca-longsor, gubernur Kivu Utara yang ditunjuk pemberontak menghentikan sementara aktivitas pertambangan rakyat di Rubaya.
Ia juga memerintahkan relokasi warga yang membangun tempat tinggal di sekitar area tambang guna mencegah jatuhnya korban tambahan.
Pemerintah Kongo melalui pernyataan di platform X menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Pemerintah menuding kelompok pemberontak telah mengeksploitasi sumber daya alam wilayah tersebut secara ilegal dan tanpa memperhatikan keselamatan para pekerja.
Seorang mantan penambang di Rubaya mengatakan longsor berulang kali terjadi akibat kondisi terowongan yang digali secara manual dan tidak terawat.
"Orang-orang menggali di mana-mana, tanpa kendali atau langkah-langkah keselamatan. Di satu lubang galian, bisa terdapat hingga 500 penambang, dan karena terowongan-terowongan tersebut berjalan sejajar, satu runtuhan dapat memengaruhi banyak lubang galian sekaligus,” kata Clovis Mafare.
Rubaya berada di wilayah timur Kongo yang kaya mineral namun telah lama dilanda konflik bersenjata. Daerah ini merupakan salah satu sumber utama coltan dunia, mineral penting untuk produksi ponsel pintar, komputer, dan mesin pesawat.
Konflik berkepanjangan di kawasan tersebut telah memperburuk krisis kemanusiaan, dengan jutaan warga terpaksa mengungsi akibat kekerasan yang terus berlanjut.