Berita

Longsor di pertambangan coltan Rubaya (Foto: NPR)

Dunia

Bencana Longsor di Tambang Kongo Tewaskan 200 Pekerja

MINGGU, 01 FEBRUARI 2026 | 15:07 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Bencana longsor yang terjadi di kawasan pertambangan coltan Rubaya, timur Republik Demokratik Kongo, menewaskan sedikitnya 200 pekerja. 

Mengutip laporan Associated Press pada Minggu, 1 Januari 2026, insiden tersebut terjadi setelah hujan deras memicu runtuhnya sejumlah lubang tambang di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak M23.

Juru bicara gubernur Provinsi Kivu Utara yang ditunjuk pemberontak, Lumumba Kambere Muyisa, mengatakan hingga kini proses evakuasi masih berlangsung. 


“Saat ini, lebih dari 200 orang tewas, beberapa di antaranya masih terkubur di lumpur dan belum ditemukan," ujarnya.

Selain korban tewas, sejumlah pekerja dilaporkan mengalami luka-luka dan telah dibawa ke tiga fasilitas kesehatan di kota Rubaya. 

Muyisa menambahkan bahwa ambulans dijadwalkan mengevakuasi korban luka ke Goma, kota besar terdekat yang berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi kejadian.

Pasca-longsor, gubernur Kivu Utara yang ditunjuk pemberontak menghentikan sementara aktivitas pertambangan rakyat di Rubaya. 

Ia juga memerintahkan relokasi warga yang membangun tempat tinggal di sekitar area tambang guna mencegah jatuhnya korban tambahan.

Pemerintah Kongo melalui pernyataan di platform X menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. 

Pemerintah menuding kelompok pemberontak telah mengeksploitasi sumber daya alam wilayah tersebut secara ilegal dan tanpa memperhatikan keselamatan para pekerja.

Seorang mantan penambang di Rubaya mengatakan longsor berulang kali terjadi akibat kondisi terowongan yang digali secara manual dan tidak terawat.

"Orang-orang menggali di mana-mana, tanpa kendali atau langkah-langkah keselamatan. Di satu lubang galian, bisa terdapat hingga 500 penambang, dan karena terowongan-terowongan tersebut berjalan sejajar, satu runtuhan dapat memengaruhi banyak lubang galian sekaligus,” kata Clovis Mafare.

Rubaya berada di wilayah timur Kongo yang kaya mineral namun telah lama dilanda konflik bersenjata. Daerah ini merupakan salah satu sumber utama coltan dunia, mineral penting untuk produksi ponsel pintar, komputer, dan mesin pesawat. 

Konflik berkepanjangan di kawasan tersebut telah memperburuk krisis kemanusiaan, dengan jutaan warga terpaksa mengungsi akibat kekerasan yang terus berlanjut.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya