Berita

Joko Widodo dan Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: Istimewa)

Publika

Gus Yaqut dan Jokowi, Siapa yang Benar?

MINGGU, 01 FEBRUARI 2026 | 04:09 WIB

CERITA korupsi kuota haji menggelinding bak snowball. Makin ke sini, para aktornya saling tuding. Fuad Hasan membantah Gus Yaqut Cholil Qoumas. Begitu sebaliknya. Sampai Joko Widodo alias Jokowi yang lagi membesarkan PSI pun ikut diseret. Siapa sih yang benar? 

Di satu sudut berdiri Fuad Hasan Masyhur, Bos Maktour Travel. Ekspresinya macam orang yang baru saja membuka pintu gudang. Lalu, kaget melihat isinya bukan beras, tapi kuota haji. 

Ia bicara lantang. Seolah sedang sumpah pocong di hadapan mikrofon. Kementerian Agama di era Gus Yaqut memberi kuota tambahan. Ada jatah khusus. Ada jalur cepat. Ada sesuatu yang, katanya, tidak tertulis di papan pengumuman resmi negara. Transparansi? Ah, itu katanya cuma stiker.


Di sudut lain, Gus Yaqut berdiri sambil mengibas-ngibaskan kitab regulasi. Bantahan datang cepat, tegas, dan nyaris tanpa celah. Tidak ada kuota khusus. Tidak ada karpet merah untuk Maktour. Semua sesuai aturan. Semua prosedural. Semua halal secara administrasi. Jika Fuad bilang A, Gus Yaqut bilang itu bukan alfabet, itu hanya bunyi.

Publik pun garuk-garuk kepala. Ini bukan debat kusir, tapi debat ihram. Yang satu swasta, yang satu mantan menteri. Dua-duanya bicara seolah memegang kunci Ka’bah, tapi kuncinya beda gembok. KPK masuk sebagai wasit, tapi wasitnya belum meniup peluit, baru mengatur kaus kaki.

Lalu cerita ini naik level. Dari lantai Kemenag ke balkon Istana. Gus Yaqut bilang, tambahan kuota 20.000 jemaah tahun 2024 itu bukan urusan Kemenag. Itu turun langsung dari langit diplomasi. Presiden Jokowi bicara dengan Pangeran MBS. Oktober 2023. High level. Antar kepala negara. Antar pemegang kuota dunia dan pemegang antrean terpanjang sejagat.

Jokowi mengangguk. Ya, benar, ia minta tambahan kuota. Untuk rakyat. Untuk mengurai antrean. Untuk kemaslahatan umat. Tapi jangan diplintir. Tidak ada perintah korupsi. Tidak ada arahan main belakang. Bagian ini sepertinya, makjleb, wak.

Ayah Gibran Rakabuming Raka ini mengeluh. Namanya sering terseret kalau menteri bermasalah, karena toh menteri bekerja atas arahan Presiden. Sebuah logika birokrasi yang jujur tapi sekaligus bikin merinding.

Di titik ini, cerita berubah jadi thriller konspirasi. Jika kuota datang dari Presiden, lalu bocor di mana? Jika Kemenag tak terlibat, siapa yang membagi? 

Jika dibagi sesuai aturan, mengapa Bos Travel berani bersumpah ada jatah khusus? Apakah ini sekadar adu narasi, atau ada bab yang hilang dari dokumen negara?

Gus Yaqut kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Statusnya unik, seperti schrodinger birokrasi. Tersangka sekaligus saksi. 

Ia lalu menyinggung Jokowi dalam sebuah podcast. Adik Gus Yahya ini bilang, ia tak dilibatkan dalam penambahan kuota. Publik makin bingung. Menteri tak dilibatkan, tapi dimintai pertanggungjawaban. 

Presiden mengarahkan, tapi menolak dikaitkan. Swasta mengaku menerima, tapi dituding mengada-ada.

Ironinya, di masa lalu, Gus Yaqut pernah berpidato di Solo, mengingatkan bahwa agama jangan dijadikan alat politik. Jangan mengkafirkan lawan. Jangan ulangi sejarah kelam Pilkada DKI 2017 dan pilpres yang memecah umat. 

Pesan damai, pesan luhur, pesan yang kini terdengar seperti rekaman lama yang diputar di ruangan kebakaran.

Kasus kuota haji ini akhirnya terasa seperti cermin retak. Semua bercermin, semua melihat bayangan masing-masing, tak ada yang merasa paling buram. 

Fuad melihat ketidakadilan, Gus Yaqut melihat fitnah, Jokowi melihat diplomasi, dan publik melihat antrean haji yang tak kunjung pendek tapi dramanya selalu panjang.

KPK kini memegang senter. Entah nanti yang terlihat tikus, bayangan, atau hanya debu kebijakan. 

Yang jelas, di republik ini, perjalanan ke Tanah Suci pun bisa tersesat di labirin duniawi. Kita, sebagai penonton, hanya bisa bertanya sambil tertawa getir, ini ibadah, ini administrasi, atau ini episode baru serial politik religi paling absurd sedunia?

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Mudik Gratis 2026 Pemprov Jabar, Berikut Rute dan Cara Daftarnya

Sabtu, 21 Februari 2026 | 14:13

DPR Komitmen Kawal Pelaksanaan MBG Selama Ramadan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 13:32

Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi Enam Bulan, Dibayangi Ketegangan AS-Iran

Sabtu, 21 Februari 2026 | 13:21

DPR Soroti Impor Pickup Kopdes Merah Putih

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:58

Prabowo Temui 12 Raksasa Investasi Global: “Indonesia Tak Lagi Tidur”

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:49

DPR Tegaskan LPDP Harus Tegakkan Kontrak di Tengah Polemik “Cukup Saya WNI, Anak Jangan”

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:26

Pemerintah Inggris Siap Hapus Andrew dari Daftar Pewaris Takhta

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:14

Kemenag: Tidak Ada Kebijakan Zakat untuk MBG

Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:04

Korban Banjir Lebak Gedong Masih di Huntara, DPR Desak Aksi Nyata Pemerintah

Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:25

Norwegia Masih Kuat di Posisi Puncak Olimpiade, Amerika Salip Tuan Rumah

Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya