MELIHAT banyak istana megah di Eropa kini, yang mendatangkan jutaan turis setiap tahun dengan decak kagum penuh takjub, kita hampir tak percaya akan masa lalunya.
Istana-istana yang ditinggali oleh keluarga kerajaan, trah paling berpengaruh pada zamannya, menyimpan masa lalu yang kelam dan susah dicerna akal sehat.
Istana-istana itu dulu menjadi sarang penyakit karena kotoran penghuninya dibuang sembarangan. Bila hujan turun, kotoran bisa menempel di baju.
Dan ketika musim kemarau mengubah kotoran itu menjadi kering dan jadi debu, maka angin meniupnya ke segala penjuru. Hidung yang menghirupnya akan dipenuhi kuman yang membawa penyakit.
Istana Versailles yang megah di Prancis dianggap yang terburuk, bukan karena satu-satunya yang jorok, tetapi karena kontras yang sangat tajam antara kemewahan visual?"emas, sutera, berlian di seantero istana?"dengan bau busuk yang dihasilkan oleh ribuan orang yang berada di dalam satu bangunan tanpa toilet.
Penyakit seperti cacar, tifus, dan kolera menyerang penghuni istana. Raja Louis XV sendiri meninggal dunia karena cacar pada tahun 1774, sebuah kematian tragis yang menunjukkan bahwa kekayaan sebesar apa pun tidak dapat melindungi seseorang dari lingkungan yang tidak higienis.
Tingkat kematian bayi di kalangan keluarga kerajaan sangat tinggi meskipun mereka memiliki dokter terbaik pada zamannya.
Banyak anak raja meninggal di usia muda akibat infeksi saluran pencernaan yang kemungkinan besar disebabkan oleh kontaminasi air dan makanan.
Air merupakan simbol kekuatan di Istana Versailles, namun penggunaannya sangat bertolak belakang.
Raja Louis XIV memerintahkan pembangunan sistem pompa raksasa untuk menyuplai air bagi ratusan air mancur di taman. Namun air yang sangat banyak ini jarang dipakai untuk keperluan sanitasi atau mandi.
Setiap malam, ketika pesta berakhir, ratusan pelayan menyapu lantai kayu ek yang mahal untuk menghilangkan sisa makanan, lumpur dari luar, dan kotoran hewan peliharaan yang dibiarkan berkeliaran bebas di dalam istana.
Ada jabatan khusus bagi pelayan yang tugas utamanya adalah membawa dan mengosongkan kursi toilet para bangsawan. Mereka harus bergerak cepat di antara koridor yang ramai agar isi wadah tersebut tidak tumpah dan menambah aroma busuk istana.
Secara umum pada abad ke-17 dan ke-18, Eropa menghadapi sanitasi yang sangat buruk. Eropa pada masa itu terjebak dalam apa yang oleh para sejarawan sebut sebagai "zaman kegelapan higienis".
Melalui analisis bio-arkeologi pada bekas pemukiman, disimpulkan bahwa masalah ini disebabkan bukan karena kemalasan, melainkan karena persoalan teknologi, sistem kepercayaan, dan cara berpikir pada zaman itu.
Hampir seluruh Eropa terjebak dalam teori miasma atau udara buruk. Orang Eropa percaya bahwa penyakit menyebar melalui bau busuk di udara.
Mereka meyakini kotoran yang menempel di kulit bertindak sebagai perisai yang menutup pori-pori dari udara beracun tersebut. Oleh karena itu, mandi air panas dianggap berbahaya karena dianggap membuka jalan bagi masuknya penyakit ke dalam tubuh.
Hampir seluruh masyarakat Eropa saat itu takut terhadap air. Karena jarang mandi, bau badan yang menyengat adalah hal yang normal. Orang-orang tidak menyadari bau mereka sendiri karena semua orang di sekitar mereka memiliki bau yang sama.
Pakaian luar dari wol atau sutera hampir tidak pernah dicuci. Hanya pakaian dalam dari linen yang dicuci secara berkala, karena linen dipercaya dapat "menyerap" racun dari tubuh.
Di Inggris, Italia, dan Prancis, penggunaan aroma kuat -- seperti jeruk yang ditusuk cengkeh atau pomander -- dianggap sebagai tindakan medis untuk menetralkan miasma. Ini bukanlah sekadar gaya hidup.
Jalanan di kota-kota seperti London, Paris, Berlin, dan Madrid bukan tempat yang menyenangkan untuk berjalan kaki.
Di Edinburgh, orang meneriakkan "Gardyloo!" -- dari bahasa Prancis “Gare de l’eau” yang artinya “Awas air” -- sebelum membuang isi pispot berisi kotoran manusia dari jendela lantai atas ke jalanan. Praktik ini umum terjadi di seluruh Eropa.
Jalanan kota tertutup lapisan tebal yang disebut “lumpur hitam"?"yaitu campuran tanah, kotoran kuda, limbah rumah tangga, dan kotoran manusia yang membusuk.
Ini menyebabkan munculnya tradisi bakiak tinggi atau sepatu hak tinggi agar kaki tidak langsung menyentuh cairan busuk ini.
Sungai-sungai besar Eropa yang kini tampak indah dulunya adalah sumber bau busuk yang tak tertahankan.
Sungai Thames di Inggris menjadi tempat pembuangan bangkai hewan, limbah industri penyamakan kulit (yang menggunakan kotoran anjing dan urin), serta kotoran manusia dari jutaan warga.
Sungai Seine di Prancis dan Sungai Tiber di Italia berfungsi ganda, yaitu sebagai tempat pembuangan limbah sekaligus sumber air minum dan air untuk mencuci pakaian. Kontaminasi silang ini menyebabkan wabah tipus dan kolera yang mematikan di seluruh benua.
Di dalam rumah, terjadi penumpukan limbah di dalam ruangan. Bahkan di rumah orang kaya sekalipun, kebersihan sangat buruk. Banyak rumah di London dan Paris memiliki lubang penampungan kotoran tepat di bawah lantai dasar.
Jika tidak dikosongkan secara rutin, yang biayanya sangat mahal, gas metana dari lubang ini bisa meledak atau merembes ke dinding rumah.
Hama merajalela. Tikus, kecoa, dan kutu dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan di istana-istana besar Eropa, tikus sering terlihat berlarian di meja makan saat perjamuan berlangsung.
Pusat kota dipenuhi oleh bau dari industri. Darah dan sisa organ hewan dibiarkan mengalir begitu saja ke selokan terbuka di tengah pasar.
Industri penyamakan kulit ini adalah yang paling bau karena menggunakan urin dan kotoran hewan untuk memproses kulit. Industri ini biasanya terletak di pusat kota, menyebarkan bau busuk ke seluruh pemukiman.
Permukaan jalan bukanlah tanah biasa. Karena tidak ada sistem pengangkutan sampah, maka sampah, kotoran hewan, dan abu menumpuk, yang menyebabkan permukaan jalan menjadi tidak bersih.
Jalanan tertutup oleh apa yang disebut sejarawan sebagai "lumpur organik". Lumpur ini terdiri dari kotoran manusia, darah dari rumah potong hewan, sisa-sisa sayuran busuk, dan kotoran dari puluhan ribu kuda yang lalu-lalang.
Saat musim hujan, lumpur ini akan menciprat ke pakaian penduduk hingga setinggi lutut. Saat musim kemarau, lumpur ini mengering menjadi debu halus yang mengandung bakteri dan terhirup oleh semua orang, menyebabkan infeksi paru-paru kronis yang sangat umum pada masa itu.
Salah satu sumber kontaminasi paling mengerikan di Eropa adalah pemakaman. Di pusat kota Paris, terdapat Cimetière des Innocents yang digunakan selama ratusan tahun. Karena sudah terlalu penuh, mayat-mayat tidak terkubur cukup dalam.
Pada musim panas, bau busuk dari pemakaman ini begitu kuat hingga penduduk di sekitarnya sering pingsan.
Cairan dari pembusukan mayat merembes melalui dinding ruang bawah tanah rumah-rumah warga dan mencemari sumur air minum mereka. Hal ini akhirnya memaksa pemerintah memindahkan jutaan tulang belulang ke Katakombe Paris yang terkenal.
Analisis kimia terhadap material bangunan kuno di Eropa menunjukkan bahwa polusi di dalam ruangan pada abad ke-18 sering lebih berbahaya daripada di luar ruangan. Kondisi jorok bukan hanya ada di jalanan, tetapi meresap hingga ke dinding tempat tinggal.
Rumah-rumah dibangun sangat rapat tanpa sistem drainase. Karena kebiasaan membuang limbah ke halaman belakang atau gang kecil, cairan limbah meresap ke dalam fondasi bangunan.
Di lantai dasar rumah-rumah tua, dinding sering tertutup oleh jamur dan kristal amonia dari urin yang merembes, menciptakan bau pesing yang permanen di dalam rumah.
Seiring perkembangan zaman, upaya menutupi bau dan kekumuhan dilakukan dengan memasang wallpaper.
Namun, pada abad ke-19, banyak wallpaper di Eropa mengandung arsenik yang, ketika terpapar kelembaban tinggi dari dinding yang kotor, melepaskan gas beracun yang mematikan bagi penghuninya.
Tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru menjadi sarang penyakit yang paling aktif.
Sebagian besar rakyat jelata di Eropa menggunakan kasur berbahan jerami atau bulu unggas yang jarang diganti. Ini menjadi tempat bersarang ideal bagi kutu busuk, tungau, dan kutu rambut.
Karena keterbatasan ruang dan kebutuhan akan kehangatan, karena mandi air panas dilarang dan pemanas ruangan mahal, adalah hal biasa bagi seluruh anggota keluarga -- bahkan terkadang orang asing di penginapan -- untuk tidur bersama di satu kasur yang kotor, yang mempercepat penyebaran penyakit kulit dan kutu.
Standar dapur di seluruh Eropa pra-modern sangat memprihatinkan. Karena banyaknya sampah organik di sekitar rumah, lalat memenuhi area dapur. Makanan dibiarkan terbuka dan dihinggapi lalat yang sebelumnya hinggap di tumpukan kotoran di luar rumah.
Di banyak kota, satu-satunya sumber air adalah sumur umum yang letaknya hanya beberapa meter dari lubang septik (cesspools).
Orang Eropa pada masa itu lebih memilih minum bir atau anggur encer bukan karena mereka suka mabuk, tetapi karena mereka secara tidak sadar tahu bahwa air mentah membawa kematian.
Di tengah kondisi jorok ini, muncul praktik ekonomi unik. Kotoran manusia dianggap sebagai komoditas berharga yang disebut "night soil".
Di London dan Paris, para pekerja pengumpul kotoran masuk ke lubang-lubang septik di bawah rumah penduduk pada tengah malam untuk mengurasnya secara manual dengan ember.
Kotoran ini kemudian dibawa ke pinggiran kota untuk dijadikan pupuk pertanian. Ironisnya, sayur-sayuran yang dimakan oleh penduduk kota ditanam menggunakan kotoran mereka sendiri yang belum diolah, sehingga siklus cacingan dan infeksi bakteri terus berlanjut tanpa henti.
Kondisi jorok tidak hanya terjadi di daratan. Kapal-kapal dagang Eropa yang menghubungkan benua ini adalah inkubator penyakit yang bergerak.
Air got di dasar kapal berisi campuran air laut, kotoran, dan tikus mati yang membusuk selama berbulan-bulan. Bau dari air got ini konon bisa tercium dari jarak bermil-mil sebelum kapal berlabuh di pelabuhan.
Spanyol yang pernah terpapar peradaban Islam adalah pengecualian dalam hal kebersihan dan kesehatan.
Di wilayah yang pernah dikuasai bangsa Moor seperti Granada dan Kordoba, budaya mandi sangat kuat karena pengaruh Islam yang mewajibkan bersuci.
Namun, setelah Reconquista, banyak pemandian umum dihancurkan karena dianggap sebagai simbol budaya non-Kristen.
Buni YaniPeneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara