Berita

Pakar ekonomi dan analis pasar modal Ferry Latuhihin (Tangkapan layar RMOL dari Youtube Hendri Satrio)

Bisnis

Ekonomi Indonesia 2026: Janji vs Fakta Daya Beli

SABTU, 31 JANUARI 2026 | 15:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menjelang akhir 2025, masyarakat Indonesia sempat sangat optimistis. Banyak yang berharap ekonomi akan melonjak, rakyat makin makmur, dan sosok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dianggap sebagai juru selamat. 

Namun, perlahan-lahan sentimen itu mulai berubah. Sindiran pun muncul: Purbaya kini dianggap bukan lagi pure (murni), tapi poor (sulit), karena pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan belum terlihat.

Ferry Latuhihin, pakar ekonomi dan analis pasar modal, menilai janji besar ini adalah kesalahan sejak awal. 


“Saat Purbaya mengatakan bisa mendorong pertumbuhan hingga 6 persen, itu sudah kesalahan fatal,” katanya, dalam sebuah podcast baru-baru ini, dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 31 Januari 2026. 

Ferry menjelaskan karena data dan tren sebelumnya justru menunjukkan kondisi ekonomi yang menurun.

Beberapa indikator jelas memperlihatkan masalah: penerimaan PPN turun sekitar 20 persen pada semester pertama 2025, yang menandakan konsumsi masyarakat melemah. Jumlah pemudik turun hampir 25 persen, dan beberapa bulan terjadi deflasi. Artinya, daya beli masyarakat jatuh cukup dalam, dan permintaan tidak bergerak.

Masalah ini diperparah dengan kebijakan likuiditas yang tidak konsisten. 

“Uang dikucurkan Rp275 triliun, lalu ditarik Rp75 triliun, kemudian ditarik lagi Rp43 triliun. Bank-bank bingung karena perencanaan mereka kacau,” jelasnya. 

Padahal masalahnya bukan kekurangan uang, tapi debitur tidak melihat proyek yang layak dijalankan karena outlook ekonomi suram.

Selain itu, ruang fiskal pemerintah juga terbatas. Defisit anggaran diperkirakan mendekati 3 persen, sementara utang pemerintah sudah mencapai Rp827 triliun. Investor asing kurang berminat membeli Surat Berharga Negara (SBN), sehingga Bank Indonesia harus turun tangan, artinya “printing money” terjadi. 

Sterilisasi lewat SRBI juga membatasi manuver moneter. Ditambah lagi, nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh hampir Rp17.000 per Dolar AS, menandakan tekanan yang nyata pada ekonomi.

Ferry menekankan, akar masalah sesungguhnya ada di daya beli masyarakat. Stimulus fiskal atau kebijakan moneter tidak akan efektif jika masyarakat tidak punya uang untuk dikonsumsi. Tabungan habis, lapangan kerja langka, dan PHK terjadi di mana-mana. Bahkan satu lowongan bisa dilamar oleh ratusan orang, membuat persaingan kerja sangat ketat.

Dengan kondisi ini, Ferry memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2026 bisa kurang dari 3 persen, bahkan ada kemungkinan mencapai 0 persen. 

“Kurang dari 3 persen saja sudah bencana,” katanya.

Yang paling menakutkan, menurut Ferry, adalah janji pertumbuhan yang terlalu berlebihan (over-promise). Ia menyarankan pemerintah untuk lebih realistis: mengakui masalah yang diwarisi dan fokus pada pemulihan daya beli masyarakat. 

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pemotongan pajak atau stimulus langsung, karena tanpa itu, kebijakan lain akan sulit berhasil.

Singkatnya, Prof. Ferry menekankan bahwa perbaikan ekonomi tidak bisa hanya lewat janji besar atau likuiditas. Fokus utama harus pada masyarakat, daya beli, dan realita yang ada. Tanpa itu, optimism besar bisa berubah jadi kekecewaan publik.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya