Berita

Ketua MPR RI Ahmad Muzani (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube NU Online)

Politik

Harlah ke-100 NU

Ketua MPR: Tugas NU Sekarang Mengisi Kemerdekaan dan Menjaga NKRI

SABTU, 31 JANUARI 2026 | 12:52 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Tugas Nahdlatul Ulama (NU) tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Di usia satu abad, NU memiliki peran strategis untuk mengisi kemerdekaan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya pada peringatan Harlah ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.

Secara hitungan Masehi, NU telah berusia 100 tahun dan bahkan lebih tua dibandingkan Republik Indonesia yang baru akan memasuki usia satu abad pada 2045 mendatang.


“Hitungan Masehi, NU hari ini usianya 100 tahun. Lebih tua dari Republik Indonesia yang baru akan memperingati 100 tahun nanti 2045, 19 tahun lagi,” kata Muzani. 

NU didirikan pada 1926 dalam kondisi bangsa yang masih terjajah, miskin, dan minim pendidikan. Namun, para ulama dan kiai saat itu memiliki kesadaran tinggi terhadap nasib bangsa, rakyat, dan umat.

“Pada saat usia NU berdiri, yakni tahun 1926, kondisi rakyat kita, bangsa kita, dalam keadaan miskin, dalam keadaan tidak berpendidikan, dalam keadaan serba kekurangan. Tapi kesadaran yang tinggi dari para ulama, kesadaran yang tinggi dari para kyai akan bangsanya, akan rakyatnya, akan umatnya, kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Sejak berdiri, lanjut Muzani, NU telah menjadi motor perlawanan terhadap penjajah melalui pondok pesantren dan pengajaran agama yang menanamkan semangat heroisme dan keadilan.

“Karena itu, heroisme untuk menentang penjajah, menegakkan keadilan, mengusir penjajah, mulai menggeliat sejak NU berdiri,” tegas Politikus Gerindra ini.

Muzani pun menyoroti kontribusi besar NU dalam memperkuat basis perjuangan nasional, termasuk dengan mendirikan organisasi kepemudaan dan paramiliter jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Kontribusi NU terhadap Republik Indonesia sejak berdiri sampai sekarang begitu besar. Ketika Republik Indonesia masih dalam keadaan lemah, angkatan bersenjata yang masih dalam keadaan kurang kuat, maka NU kemudian melahirkan berbagai macam organisasi, ada Gerakan Pemuda Ansor, bahkan Banser sebagai organisasi paramiliter NU berdiri sebelum Republik Indonesia berdiri,” ungkapnya.

Menurutnya, Ansor berdiri pada 1934 dan Banser pada 1936 sebagai bagian dari upaya NU memperkuat perlawanan terhadap penjajah.

Selain itu, Muzani juga menyinggung lagu Ya Lal Wathon yang telah digelorakan sejak sebelum kemerdekaan sebagai sarana membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan santri.

“Itulah yang diciptakan oleh para ulama kita Mbah Wahab. Itulah yang diciptakan oleh para ulama kita, Mbah Hasyim. Itulah yang diciptakan oleh para ulama kita, para pemimpin pondok pesantren dalam menggelorakan bagaimana kita melawan penjajah,” tegas Muzani.

Menutup sambutannya, Muzani menegaskan bahwa setelah Indonesia merdeka, NU tetap memikul tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.

“Apa tugas NU setelah Indonesia merdeka? Tugas NU kemudian tidak berhenti karena Indonesia merdeka. Tugas NU adalah mengisi kemerdekaan, menjaga Republik Indonesia, menjaga keutuhan, dan menjaga kebersamaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Muzani menambahkan, NU selalu berada di garda depan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang majemuk.

“Bangsa yang besar seperti Indonesia dengan berbagai macam suku yang beragam, adat yang beragam, budaya yang beragam, pulau yang banyak, agama yang berbeda, tidak ada kata lain kecuali kita harus bersatu. Dan NU selalu berdiri di depan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkasnya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya