Berita

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky. (Foto: YouTube Awalil Rizky)

Bisnis

Isu MSCI Hantam IHSG, Pengamat: Jangan Serigala Berbulu Domba, Lah!

SABTU, 31 JANUARI 2026 | 09:42 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

  Morgan Stanley Capital International (MSCI) punya peran besar di balik anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Penyusun indeks global yang jadi barometer dana pasif (ETF dan index fund) itu disebut memainkan peran lewat isu investability pasar modal Indonesia.

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky menyebut MSCI sejatinya sudah lama mengetahui persoalan free float dan struktur kepemilikan saham di Indonesia. Namun ia mempertanyakan mengapa isu tersebut baru diangkat ke ruang publik saat ini, bertepatan dengan gejolak tajam IHSG.

“MSCI hanya riset, dia tidak mempunyai fungsi trading. Nah sekarang siapa pemegang di atas 5 persen MSCI? Pemegang di atas 5 persen, sekitar 8 persen yang megang (adalah) Vanguard. Itu adalah hedge fund. Di bawahnya BlackRock (juga hedge fund). Terus ada beberapa hedge fund lagi. Jadi ada yang di atas 5 persen sekitar 7 hedge fund,” kata Yanuar dikutip dari YouTube Awalil Rizky, Jumat malam, 30 Januari 2026.
  

  
Menurut Yanuar, MSCI memperoleh pendapatan dari penjualan riset yang dikonsumsi oleh investor institusional dan hedge fund global, sehingga laporan tersebut berpotensi menjadi alat legitimasi tekanan pasar.

“Kenapa hedge fund masuk ke emerging market yang isunya banyak, yang otoritasnya lemah di Indonesia? Karena dia tahu otoritas di sini mana berani sama gue? Jadi artinya saya ingin mengatakan jangan jadi serigala berbulu domba lah,” tegasnya.
 
MSCI secara terbuka menyuarakan kekhawatiran terhadap tingkat investability pasar saham Indonesia terutama terkait free float, likuiditas, konsentrasi kepemilikan, serta konsistensi regulasi. MSCI menilai isu-isu tersebut berpotensi mengganggu akses dan kenyamanan investor global khususnya investor institusional besar.

Nah, menurut Yanuar, kekhawatiran MSCI itu kemudian diterjemahkan pasar sebagai sinyal negatif, memicu aksi jual massif di saham-saham berkapitalisasi besar, hingga IHSG terjun bebas dan BEI terpaksa mengaktifkan mekanisme trading halt demi menjaga stabilitas perdagangan.

Yanuar bahkan menarik konteks geoekonomi global, menyebut kondisi dunia saat ini mirip era 1980-an ketika perang ekonomi dan perebutan sumber daya menjadi instrumen utama tekanan antarnegara. Sehingga kondisi saat ini, sebutnya, harus menjadi alarm keras bagi Presiden Prabowo Subianto agar tidak meremehkan permainan hedge fund global di pasar keuangan nasional.

“Dengan masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, dan sikap tegas Indonesia soal Israel, kesan saya Presiden Prabowo sedang menyampaikan pesan 'kita dibantu, jangan dihantam',” pungkas Yanuar.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya