Berita

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. (Foto: RMOLJateng)

Publika

Ini Alasan Luthfi Enggak Cocok Jadi Gubernur Jateng Masa Kini

OLEH: EDHIE PRAYITNO IGE
JUMAT, 30 JANUARI 2026 | 17:00 WIB

GAYA kepemimpinan Ahmad Luthfi sebagai Gubernur Jawa Tengah (Jateng) jelas menyalahi konsep Exhiberi Ergo Sum (aku pamer, maka aku ada).

Beberapa hari belakangan, banyak yang mempertanyakan keberadaan Ahmad Luthfi, sang gubernur Jateng. Setelah merenung, saya akhirnya paham kenapa banyak orang bertanya.

"Jateng nduwe Gubernur ora to?" demikian kesimpulan dari berbagai pertanyaan yang saya simpulkan.


Rupanya benar, sejatinya kesalahannya bukan pada mata rakyat Jateng, melainkan pada ketidakmampuan Ahmad Luthfi untuk ikut-ikutan mainan konten di media sosial.

Jika kita bedah, saat ini kita hidup dalam era simulakra. Filsuf posmo Jean Baudrillard menjelaskan sebuah kondisi di mana citra atau bayangan tentang sesuatu jauh lebih penting daripada sesuatu itu sendiri.

"Kita ini dianggap belum makan kalau belum difoto. Jadi bagi seorang pemimpin, saat ini belum dianggap bekerja kalau belum di-konten-kan," kali ini ada bisikan di telinga saya.

Di sinilah letak dosa Ahmad Luthfi. Sekelas gubernur yang tidak paham estetika simulakra. Luthfi ini tipe pemimpin yang masih percaya realitas, bukan citra.

Saya melihat, Ahmad Luthfi ini selalu memastikan sistem birokrasi berjalan. Ia memilih menugaskan kepala dinas sesuai porsinya, dan duduk anteng mengatur strategi manajerial, tugasnya sudah selesai. 

Ini adalah gaya hidup yang sangat astaga di zaman sekarang. Bukankah di zaman sekarang kerja nyata itu tidak ada harganya. Hanya menjadi bernilai jika ada "simulasinya" di media sosial.

Zaman sekarang, kita butuh pemimpin yang jago menciptakan hiper-realitas. Kita butuh pemimpin yang kalau bekerja harus diikuti lima fotografer dengan sudut pengambilan gambar yang dramatis. Pemimpin yang mampu menciptakan diri seolah-olah sedang memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Kita butuh drama! Butuh keringat yang tertangkap kamera high-definition!

Tapi Ahmad Luthfi? Ia malah asyik memainkan peran pelatih Brazil yang kerja di ruang ganti. Ia membiarkan para pemainnya (kepala dinas dan staf) yang tampil di depan kamera.

Ini jelas menyalahi kodrat kepemimpinan post modern. Di dunia simulakra, keberadaan seseorang itu ditentukan oleh seberapa sering wajahnya muncul di explore Instagram. Kalau tidak ada videonya, berarti kerjanya tidak ada.

Menjadi wajar jika banyak warga bertanya, Jateng punya gubernur nggak sih? Karena bagi rakyat Jateng, "tampil di media sosial adalah ada." Jika Ahmad Luthfi tidak tampil artinya tidak ada.

Kesalahan utama Ahmad Luthfi adalah terlalu sibuk mengurus substansi. Ia lupa bahwa di zaman ini, bungkus itu lebih penting daripada isi. Sejauh ini Luthfi lebih memilih memastikan angka-angka pembangunan bergerak di balik layar, daripada memastikan namanya trending di media sosial.

Nah, saya memiliki sedikit permintaan untuk gubernur ini. Tolonglah sedikit lebih dangkal. Jangan terlalu mendalam urus manajerial. Buat satu-dua konten yang menunjukkan sedang memarahi aspal jalan atau sedang makan mi instan di pinggir jalan dengan tatapan nanar. Itu jauh lebih efektif memuaskan dahaga simulakra kami daripada sekadar laporan kinerja yang membosankan.

Sangat disayangkan, Jateng punya gubernur yang saking seriusnya bekerja, akhirnya malah lupa membangun dunia pura-pura yang sangat kita cintai ini.

Jadi kalau ada pertanyaan Jateng mana Gubernurnya, ya wajar. Ahmad Luthfi memang tidak memenuhi syarat sebagai aktor di panggung simulakra. Ia cuma seorang Gubernur di dunia nyata. Dan bagi sebagian orang, dunia nyata itu memang seringkali tidak terlihat.

*Wakil Pemimpin Redaksi RMOLJateng

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya