Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Tekno

Bos Anthropic Peringatkan Umat Manusia Bisa Punah karena AI

JUMAT, 30 JANUARI 2026 | 14:10 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

CEO perusahaan kecerdasan buatan Anthropic, Dario Amodei, mengeluarkan peringatan serius bahwa umat manusia sedang berada di ambang pemberian kekuatan yang sangat besar kepada teknologi AI, sementara manusia belum siap menghadapinya.

Peringatan ini disampaikan Amodei dalam sebuah esai panjang hampir 20.000 kata berjudul “The Teenage Years of Technology” (Masa Remaja Teknologi). Dalam tulisannya, ia menggambarkan masa depan dekat di mana sistem AI yang jauh lebih cerdas dibanding peraih Nobel atau negarawan ternama bisa tersedia secara luas hanya dalam hitungan tahun.

Menurut Amodei, perkembangan AI saat ini dipercepat oleh lingkaran umpan balik yang saling menguatkan. AI bukan hanya dikembangkan oleh manusia, tetapi juga mulai ikut mengembangkan dirinya sendiri. Ia mengungkapkan bahwa di Anthropic, AI kini sudah menulis sebagian besar kode perangkat lunak.


“Karena AI sekarang menulis sebagian besar kode di Anthropic, hal ini secara signifikan mempercepat kemajuan kami dalam membangun generasi AI berikutnya,” tulis Amodei, dikutip dari RT, Jumat 30 Januari 2026.

Ia bahkan memperingatkan bahwa industri AI mendekati titik di mana AI generasi saat ini dapat secara otomatis membangun generasi AI berikutnya, tanpa banyak campur tangan manusia.

Tanpa pengelolaan yang sangat hati-hati, Amodei menilai AI dapat memicu berbagai risiko besar, mulai dari hilangnya pekerjaan secara massal hingga ancaman kepunahan umat manusia. Salah satu skenario ekstrem yang ia sebut adalah munculnya kediktatoran totaliter global, yang dimungkinkan oleh pengawasan massal, propaganda otomatis, dan senjata otonom berbasis AI.

Ia juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai “risiko otonomi”, yaitu kondisi di mana sistem AI bisa bertindak di luar kendali dan mengalahkan manusia. Menurutnya, ancaman ini tidak harus berupa robot fisik seperti dalam film fiksi ilmiah, karena banyak tindakan berbahaya sudah bisa dilakukan dari jarak jauh.

Ancaman paling mengkhawatirkan, menurut Amodei, adalah kemampuan AI untuk menurunkan hambatan dalam pembuatan senjata biologis dan senjata pemusnah massal. 

“Seseorang yang terganggu jiwanya mungkin bisa melakukan penembakan, tetapi tidak mampu membuat senjata nuklir atau wabah penyakit,” tulisnya.

“Namun AI canggih bisa membuat setiap orang menjadi ahli virologi setingkat PhD, dengan panduan langkah demi langkah," lanjutnya.

Dalam skenario terburuk, Amodei memperingatkan bahwa AI berdaya tinggi secara teoritis dapat membantu menciptakan patogen sintetis yang mampu memusnahkan seluruh kehidupan di Bumi.

Sebagai salah satu pemimpin utama industri AI dan pesaing OpenAI, Amodei menyerukan regulasi yang “presisi dan terarah”, dimulai dari undang-undang transparansi untuk menciptakan pagar pengaman teknologi.

“Umat manusia harus bangun,” tutup Amodei, seraya menegaskan bahwa beberapa tahun ke depan akan menjadi ujian kedewasaan peradaban manusia dalam mengelola kekuatan AI yang luar biasa.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya