Berita

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. (Foto: Istimewa)

Publika

MBG Lebih Mendesak, Lapangan Kerja Nanti Dulu Ya!

JUMAT, 30 JANUARI 2026 | 01:16 WIB

KALIAN yang masih nganggur, harap sabar. Sebab, kalian tak termasuk yang diprioritaskan pemerintah. Fokus pemerintah adalah Makan Bergizi Gratis alias MBG. Lapangan kerja, nanti dulu ya. 

Negara ini akhirnya menemukan urutan prioritas paling segar dalam sejarah perencanaan pembangunan. Makan dulu, kerja nanti, atau kalau bisa, tidak usah sama sekali. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dengan ketenangan yang hanya dimiliki orang kenyang, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis lebih mendesak dibanding penciptaan lapangan kerja. 


Bukan lebih penting, jangan salah paham, tetapi lebih mendesak. Sebuah diksi ajaib yang sanggup mengubah logika ekonomi menjadi puisi bebas.

Pernyataan itu disampaikan di Prasasti Economic Forum 2026, SCBD, Jakarta, pada Kamis 29 Januari. Di sana, publik diberi analogi klasik. Jangan beri kail, beri ikan. 

Sebab kalau diberi kail, orang keburu mati. Logika ini terdengar manusiawi, mengharukan, dan sangat cocok untuk poster kebijakan, meski lupa satu hal kecil. Setelah ikan habis, orang tetap lapar, dan kail tetap tidak ada.

“Di pelosok desa,” kata beliau, “orang-orang kelaparan.” Kalimat ini sakral, ampuh, dan kebal verifikasi. Pelosok yang mana? Dusun apa? Desa siapa? Kabupaten mana? Provinsi sebelah mana? Apakah “pelosok desa” ini lokasi nyata atau sekadar tempat ghaib, satu habitat dengan “masyarakat kecil” dan “oknum tak bertanggung jawab”? 

Aneh rasanya, di negeri dengan kamera lebih banyak dari tiang listrik, tak pernah ada pemberitaan nasional tentang warga mati kelaparan massal. Tak ada breaking news, tak ada liputan langsung, tak ada alamat. Yang ada hanya narasi, dipakai ulang dari podium ke podium.

Jika benar ada warga Indonesia kelaparan, bukan lapar karena telat makan siang, tapi kelaparan sungguhan, maka ini bukan sekadar argumen kebijakan, ini dakwaan moral. 

Betapa berdosanya sebuah negara yang mampu menggelar forum ekonomi ber-AC di SCBD, tapi membiarkan warganya mati perlahan di pelosok tanpa nama. Anehnya, negeri ini tak pernah menyatakan darurat kelaparan. Yang darurat justru anggaran dan framing. Yang ada juga, negara nyumbang warga negara lain yang kelaparan.  

Sementara itu, fakta yang benar-benar punya alamat justru diabaikan. Pada awal 2026, jumlah pengangguran Indonesia diperkirakan 7,4-7,5 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka 4,8-4,9 persen. 

Data ini relatif stabil dibanding Agustus 2025 yang mencatat 7,46 juta pengangguran dengan TPT 4,85 persen menurut BPS. World Economic Forum bahkan menempatkan pengangguran sebagai ancaman ekonomi terbesar Indonesia periode 2026-2028. Tapi tenang, ancaman ini tidak lapar, setidaknya tidak disebut begitu.

Bonus demografi belum optimal, pasar kerja formal melemah, fresh graduate berbaris rapi di gerbang industri yang makin sempit, PHK masih terjadi, otomatisasi dan digitalisasi bekerja tanpa perlu nasi kotak. 

Semua ini tercatat rapi oleh BPS, Trading Economics, dan lembaga internasional. Ironisnya, pengangguran inilah yang justru paling berpotensi melahirkan “kelaparan” versi sunyi. Makan sekali sehari, gizi seadanya, anak tumbuh pendek, otak tumbuh pelan, lalu negara heran kenapa SDM tertinggal.

Logika kebijakan pun makin artistik. Lapangan kerja dianggap bisa menunggu, seolah-olah pengangguran hidup dari udara dan motivasi. Negara memberi makan hari ini, tapi menunda pekerjaan yang mencegah kelaparan esok hari. Ini seperti memadamkan api dengan kipas sambil berkata, yang penting sekarang adem.

Lebih menarik lagi, publik masih mengingat janji kampanye Pilpres 2024. Gibran Rakabuming Raka menjanjikan 19 juta lapangan kerja, termasuk 5 juta green jobs. 

Janji ini berbasis hilirisasi, transisi energi, UMKM, dan masa depan hijau. Memasuki awal 2026, realisasinya masih “bertahap”, lima tahun, kata pemerintah. Ekonom skeptis, publik sinis, sebagian menyebutnya nol besar. Tapi tak apa. Janji bisa ditunda, MBG tidak.

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan yang pahit tapi mengenyangkan, negara memilih memberi ikan di negeri yang kolamnya kering, nelayannya menganggur, dan kailnya masih dalam kajian akademik. 

Anak-anak diberi makan, orang dewasa diminta sabar. Data pengangguran lengkap diabaikan, narasi kelaparan tanpa alamat dijadikan senjata.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya