Berita

Pengamat politik Nurul Fatta. (Foto: Dok Pribadi)

Politik

Menteri Kerap Dikritik Publik Belum Tentu Diganti Presiden

KAMIS, 29 JANUARI 2026 | 12:15 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kekosongan jabatan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) pasca dilantiknya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai bisa menjadi sinyal awal bagi Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan perombakan kabinet yang lebih luas.

Peneliti Politika Research & Consulting, Nurul Fatta, menilai kekosongan posisi strategis di Kementerian Keuangan membuka ruang bagi Presiden untuk tidak sekadar menunjuk pengganti, tetapi sekaligus melakukan penataan ulang di kementerian lain.

“Yang jelas akan ada reshuffle, karena adanya kekosongan kursi Wamenkeu. Ya bisa jadi Presiden juga melakukan pergantian menteri-menteri yang lain, meskipun sekadar dipindah posisi, dari posisi sebelumnya ke posisi yang lain,” ujar Nurul kepada RMOL, Kamis, 29 Januari 2026.


Namun demikian, Nurul menekankan bahwa reshuffle kabinet umumnya bukan dilakukan secara tiba-tiba tanpa alasan. Menurutnya, kinerja menteri tetap menjadi faktor utama dalam pertimbangan Presiden untuk melakukan pergantian.

“Pergantian menteri umumnya dilakukan ketika kinerja mereka tidak lagi memuaskan Presiden. Salah satu indikator utamanya adalah lambannya realisasi program prioritas Presiden,” jelasnya.

Selain itu, ia menyoroti rendahnya serapan anggaran di sejumlah kementerian dan lembaga negara hingga akhir 2025 sebagai cerminan lemahnya kapasitas manajerial para menteri. 

Kondisi tersebut, kata Nurul, menunjukkan adanya persoalan dalam eksekusi kebijakan maupun dalam menyelaraskan program dengan arah dan preferensi Presiden.

“Ini seperti yang pernah disinggung Menkeu Purbaya soal beberapa kementerian yang serapannya lambat, bahkan ada sebagian anggarannya dikembalikan,” paparnya.

Di sisi lain, Nurul berpandangan bahwa menteri yang kerap menuai kritik publik atau melakukan blunder komunikasi belum tentu menjadi prioritas untuk diganti. Menurutnya, kritik masyarakat tidak selalu menjadi faktor penentu dalam evaluasi kinerja kabinet oleh pemerintah.

“Sebaliknya, menteri yang kerap melakukan blunder komunikasi atau menuai kritik dari publik, saya tidak yakin menteri-menteri seperti itu menjadi prioritas yang layak diganti oleh Presiden. Kritik masyarakat tidak selalu dianggap penting oleh pemerintah hari ini, bahkan sering dianggap sekadar nyinyir,” tandasnya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya