Berita

Kolase dua tersangka pencemaran nama baik terkait isu ijazah Jokowi, Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis.(Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Tanggung, Eggi-Damai Lubis Harusnya Gabung Jokowi Sekalian

KAMIS, 29 JANUARI 2026 | 04:11 WIB

RESTORATIVE JUSTICE atau Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap dua orang tersangka kasus ijazah Joko Widodo (Jokowi), yakni Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, seperti interupsi yang dilakukan Presiden ke-7 RI lewat tangan penyidik.

Interupsi itu relatif berhasil mengalihkan fokus publik, utamanya pihak Roy Suryo cs, terhadap persoalan utamanya, yakni dugaan ijazah palsu itu sendiri, yang semakin hari semakin menemui titik terang yang sebenarnya.

Bahkan, tak hanya interupsi, SP3 itu berhasil menskor sidang hampir beberapa pekan ini, terhadap dugaan ijazah Jokowi itu sendiri. 


Fokus publik jadi beralih, pada sah atau tidaknya SP3 atau restorative justice yang diterima Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis itu.

Bahkan tak hanya berdebat soal sah atau tidaknya, tapi sampai juga pada laporan polisi oleh Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis terhadap pihak Roy Suryo cs.

Eggi Sudjana melaporkan Ahmad Khozinudin dan Roy Suryo, sedangkan Damai Hari Lubis hanya melaporkan Ahmad Khozinudin dengan pasal-pasal pencemaran nama baik, fitnah, dan penghasutan, mirip seperti laporan Jokowi terhadap Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis, yang sudah memperoleh SP3.

Ini menjadi tambahan laporan buat Roy Suryo dan baru buat Ahmad Khozinudin. Dan TPUA pun berubah makna menjadi Tim Pelaporan Ulama dan Aktivis.

Memang agak aneh juga, Eggi Sudjana yang mengajak Roy Suryo jadi tim ahli dugaan ijazah palsu Jokowi, lalu ia memilih berdamai dengan Jokowi dan mendapat SP3, lalu ia pula yang melaporkan Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin dengan dugaan pencemaran nama baik.

Kalau Damai Hari Lubis terlihat hanya ikut-ikutan melapor saja. Ia terlihat punya persoalan pribadi dengan Ahmad Khozinudin sebagai sesama pengacara.

Dibandingkan Ahmad Khozinudin, Damai Hari Lubis memang terlihat tertinggal jauh. 

Wajar ia tak pernah tampil ke depan melakukan pembelaan terhadap kasus ijazah Jokowi ini. Ia baru tampil justru setelah kasus SP3 atau restorative justice ini meledak.

Dan sama-sama terlihat, narasinya jauh dibandingkan Ahmad Khozinudin. Ahmad Khozinudin tak hanya dominan, tapi juga sangat determinan. Ia penyerang yang handal. Eggi Sudjana pun, meski lebih senior, juga lewat.

Harus diakui, kasus ijazah Jokowi ini masih tetap bertahan sampai saat ini karena peran serta Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin, bukan bermaksud mengenyampingkan yang lainnya. 

Roy Suryo dari segi keahliannya dan Ahmad Khozinudin dari segi pembelaannya.

Keduanya sama-sama konsisten dan tak bisa diiming-imingi. Entahlah, apakah laporan Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis ini memang murni dari mereka atau ada pesanan dari pihak lain? Rumor bisa saja beredar begitu cepat.

Sebetulnya tanggung, kalau Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis hanya melaporkan pihak Roy Suryo cs saja, tanpa harus terus terang bergabung dengan pihak Jokowi. 

Sebab, di tengah polarisasi seperti saat ini, langkah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis ini hanya akan merugikan dirinya sendiri.

Panggung mereka akan terbatas dan lama-lama akan dilupakan orang secara negatif. Kasihan juga kalau itu yang dialami diusia yang seperti saat ini.

Memang, situasi pasca pertemuan Eggi Sudjana, Damai Hari Lubis, dengan Jokowi di Solo, dan terbitnya SP3, apalagi pelaporan terhadap Roy Suryo dan Ahmad Khozinudin, sangat menguntungkan Jokowi. Interupsi sekaligus skor sidang terhadap kasus ijazahnya sendiri, benar-benar teralihkan.

Tapi agaknya akan banyak juga pihak yang mengingatkan agar kembali fokus pada masalah utama. Kembali ke laptop, istilah komedian terkenal Tukul Arwana pada suatu masa yang terus berubah.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya