Ilustrasi (RMOL viia Gemini AI)
Pihak berwenang Thailand terus meningkatkan kewaspadaan kesehatan di sejumlah destinasi wisata setelah muncul laporan wabah virus Nipah di India.
Bandara Internasional Phuket menjadi salah satu pintu masuk yang memperketat pengawasan, mengingat banyaknya wisatawan asal India yang datang ke pulau tersebut.
Direktur Bandara Phuket, Monchai Tanode, mengatakan pihaknya telah menerima pengarahan khusus dari petugas karantina bandara terkait situasi virus Nipah di India. “Petugas kesehatan kini memantau secara ketat penumpang yang tiba dari India,” ujarnya, dikutip dari Bangkok Post, Rabu 28 Januari 2026.
Menurutnya, perhatian khusus diberikan kepada pelancong yang berasal dari wilayah timur India, seperti Kolkata di negara bagian Benggala Barat, yang dilaporkan menjadi lokasi munculnya kasus Nipah terbaru. Bandara Phuket setiap hari melayani 10.000-20.000 penumpang kedatangan, dengan wisatawan India menempati urutan ketiga terbesar wisatawan asing ke Phuket.
Pihak bandara juga berkoordinasi dengan rumah sakit di Phuket dan Phangnga untuk memantau apakah ada penumpang asal India yang mencari perawatan medis dengan gejala yang menyerupai infeksi Nipah. Gejala awal penyakit ini bisa mirip flu biasa, sehingga perlu pengawasan lebih cermat.
Selain itu, otoritas bandara memberi perhatian khusus pada penerbangan evakuasi medis dari India.
“Kasus-kasus seperti ini akan diawasi secara ketat oleh pejabat penyakit menular internasional,” kata Monchai.
Sementara itu, kekhawatiran juga muncul di Pattaya, destinasi wisata populer bagi wisatawan India. Sejumlah warga dan pekerja lokal mengaku cemas setelah media melaporkan India mengonfirmasi lima kasus Nipah dan mengarantina hampir 100 orang di Benggala Barat. Meski demikian, aktivitas di kawasan wisata seperti Walking Street Pattaya terpantau berjalan normal tanpa langkah pencegahan khusus.
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa virus Nipah tidak menular melalui udara seperti Covid-19. Virus ini merupakan penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak dengan urin atau cairan tubuh hewan terinfeksi, khususnya kelelawar pemakan buah.
Penularan antarmanusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah, air liur, atau cairan tubuh penderita.