Berita

Sudrajat pedagang es gabus dituduh jualannya tak layak konsumsi. (Foto: Istimewa)

Publika

Cara Tuhan Mengangkat Derajat Penjual Es Gabus

RABU, 28 JANUARI 2026 | 03:07 WIB

KEKUATAN warganet memang tidak bisa dilawan. Setelah seharian diguyuk (digoyang) pasukan jari jempol, bantuan berdatangan untuk Pak Sudrajat, penjual es gabus diperlakukan hina oleh dua oknum aparat. 

Mungkin inilah cara Tuhan mengangkat derajat penjual es itu beserta keluarganya. 

Tak ada yang benar-benar siap melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan cara yang begitu sunyi, pelan, tapi menghantam tepat ke dada. 


Dari seorang lelaki tua penjual es gabus yang kemarin berdiri tertunduk, hari ini Sudrajat duduk di rumah sempitnya di sebuah gang kecil Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, dengan mata yang berkali-kali basah. 

Rumah itu tak berubah. Dinding sederhana, ruang yang sempit, dan hidup yang selama ini dijalani dengan hemat air mata. Yang berubah hanyalah satu hal, harapan kini berani bernapas.

Selasa, 27 Januari 2026, pintu rumah Sudrajat diketuk bukan oleh kesulitan, melainkan oleh perhatian. 

Pemerintah Kabupaten Bogor datang membawa sembako, diserahkan oleh Sekretaris Kecamatan Rawa Panjang, Elfi Nila Hartanti, bersama Kepala Desa Mohammad Agus dan perwakilan Dinas Sosial, Ferianto. 

Bagi keluarga Sudrajat, bantuan itu bukan sekadar beras, minyak, dan gula. Itu adalah bukti, penderitaan mereka akhirnya terlihat. 

Sudrajat, lelaki yang terbiasa diam, hanya mengangguk pelan, sebuah bahasa tubuh orang yang terlalu lama menahan beban, hingga lupa bagaimana caranya berterima kasih dengan kata-kata.

Lalu kalimat itu diucapkan, pelan tapi mengguncang. Anak-anak Sudrajat akan dibantu kembali bersekolah. 

Data boleh berbeda, ada yang menyebut empat anak, ada yang mengatakan lima, dengan tiga anak terhenti sekolah, tetapi esensinya sama. Ada mimpi yang sempat terkubur karena kemiskinan. 

Elfi berkata, “Kami akan bantu mereka mengenyam kembali pendidikan sesuai perintah presiden.” 

Di sudut ruangan, Sudrajat menunduk lebih dalam. Bagi seorang ayah, janji tentang sekolah anak adalah janji tentang masa depan yang selama ini hanya bisa ia doakan, bukan ia rencanakan.

Pertolongan datang lagi dari arah yang tak disangka. Polres Bogor menyampaikan akan memberikan gerobak baru. Bukan sekadar alat jualan, tetapi simbol bahwa hidup Sudrajat tak berhenti di video viral. 

Polisi dan TNI juga telah mengganti kerugian es-es yang sempat disita dan diuji laboratorium. Di situ, harga diri seorang pedagang kecil dipulihkan perlahan, setetes demi setetes, seperti air mata yang akhirnya boleh jatuh.

Ketika Sudrajat mengira semua ini sudah cukup, Tuhan membuka pintu yang lebih besar. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) mengutus orangnya untuk menelpon langsung. Sudrajat diajak bertemu. 

Hari ini atau Rabu esok. Seorang tukang es gabus, yang kemarin ditatap curiga, kini dipanggil untuk didengar oleh pemimpin provinsi. Bukan karena kuasa, bukan karena harta, melainkan karena kejujuran yang tak pernah ia lepaskan.

Di rumah kecil itu, cerita hidup Sudrajat berbelok tajam. Dari tuduhan ke pemulihan, dari malu ke martabat, dari diam ke harapan. 

Tuhan mengangkat derajatnya bukan dengan kemewahan, tetapi dengan perhatian yang tepat sasaran, makanan untuk hari ini, sekolah untuk anak-anaknya, alat kerja untuk besok, dan pengakuan bahwa ia tak salah. 

Jika pembaca meneteskan air mata, itu bukan karena kisah ini sedih, melainkan karena kita sedang menyaksikan keajaiban yang bekerja pada orang paling sederhana, mengingatkan kita bahwa doa orang kecil sering kali paling cepat sampai ke langit.

Jangan pernah meremehkan orang kecil. Karena, Tuhan sering memilih mereka sebagai jalan untuk menegur kesombongan, menguji empati, dan mengajarkan bahwa keadilan sejati lahir dari keberpihakan pada yang lemah. 

Ketika manusia tergesa menghakimi, Tuhan justru bekerja pelan mengangkat derajat, memulihkan martabat, dan membuktikan bahwa air mata orang jujur tidak pernah jatuh sia-sia. Ia selalu menjadi doa yang menemukan jalannya sendiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Vatikan Tolak Gabung Board of Peace, Ingin Konflik Palestina Diselesaikan PBB

Rabu, 18 Februari 2026 | 16:18

Korban Bencana Sumatera Dapat Bantuan Perabot dan Ekonomi hingga Rp8 Juta

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:56

KPK Panggil Petinggi PT Niogayo Bisnis Konsultan terkait Suap Pajak

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:36

Pemeriksaan Mantan Menhub Budi Karya di KPK Dijadwal Ulang

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:24

Pajak: Gelombang Protes dan Adaptasi Kebijakan Pusat

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:20

Tujuh Jukir Liar di Pasar Tanah Abang Diamankan

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:17

Tiga Bos Swasta di Kasus Korupsi Proyek Kantor Pemkab Lamongan Dipanggil KPK

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:15

Sambut Ramadan, Prabowo Sedekah 1.455 Sapi untuk Tradisi Meugang Aceh

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:07

Sembako Diaspora Malaysia untuk Warga Aceh Tertahan di Bea Cukai

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:02

85 Negara Anggota PBB Kecam Upaya Israel Ubah Status Tanah Tepi Barat

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:54

Selengkapnya