Berita

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti (RMOL/Faisal Aristama)

Politik

Legislator Gerindra: Pidato Prabowo di Davos Tegaskan Arah, Bukan Sekadar Simbol Global

SENIN, 26 JANUARI 2026 | 09:35 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) di Davos harus dipahami sebagai penegasan arah kebijakan nasional, bukan sekadar penampilan simbolik di panggung global.

Menurut Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, di tengah dunia yang semakin gaduh oleh konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan krisis kepercayaan, pilihan Indonesia untuk menekankan stabilitas, perdamaian, serta disiplin ekonomi mencerminkan sikap rasional yang kini justru semakin langka di level global.

Ia mencatat, sebagian kritik terhadap pidato tersebut kerap bernada personal dan emosional. Dalam kondisi itu, substansi pidato kerap tenggelam karena publik lebih fokus pada sosok yang berbicara ketimbang pesan yang disampaikan. Akibatnya, ruang dialog menyempit dan kebijakan kehilangan kesempatan untuk diuji secara jernih.


Namun demikian, Azis menegaskan bahwa kritik semacam itu tidak sepenuhnya merepresentasikan suara publik secara utuh. Menurutnya, terdapat sikap publik lain yang jauh lebih menentukan, yakni kewaspadaan yang disertai harapan. Publik mendengar, mencatat, dan menunggu apakah arah yang disampaikan benar-benar diterjemahkan menjadi kerja nyata.

“Sikap ini bukan sinisme, melainkan bentuk kedewasaan politik,” ujarnya kepada wartawan, Senin, 26 Januari 2026.

Dalam konteks tersebut, pidato Prabowo di Davos dinilai menemukan relevansinya. Pidato itu tidak menawarkan keajaiban instan, tetapi menegaskan fondasi utama pembangunan nasional, mulai dari stabilitas sebagai prasyarat pertumbuhan, disiplin fiskal sebagai basis kepercayaan, hingga ekonomi yang berpijak pada kepentingan rakyat.

Azis juga menyoroti bahwa ketegasan Presiden Prabowo di forum internasional tidak lahir dari ruang hampa. 

Sejumlah langkah konkret telah lebih dahulu berjalan, seperti penertiban kawasan hutan, pencabutan izin pemanfaatan hutan bagi pihak yang lalai, hingga pencabutan dan perampasan izin tambang yang melanggar hukum tanpa pandang bulu. Termasuk pula penegakan hukum terhadap pelaku korupsi yang sebelumnya dinilai kebal.

“Bukti-bukti itu telah lebih dulu hadir, tidak riuh, tidak selalu disorot, tetapi bergerak pelan dan pasti,” jelasnya.

Karena itu, pidato di Davos seharusnya dibaca sebagai kelanjutan dari proses pembuktian kinerja, bukan sekadar titik awal. Legitimasi kepemimpinan, lanjut Azis, tumbuh dari kesinambungan antara kata dan tindakan.

Legislator Gerindra ini menegaskan, keraguan publik tidak perlu dihadapi secara defensif, melainkan dijawab dengan konsistensi kerja dan hasil yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, kepercayaan yang lahir dari pembuktian akan jauh lebih kokoh dibanding kepercayaan yang hanya diminta lewat slogan.

“Di tengah dunia yang bising, pidato Prabowo di Davos menandai pilihan strategis Indonesia: memilih stabilitas daripada kegaduhan, kerja nyata daripada retorika, dan pembuktian daripada pembelaan diri,” pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya