TULISAN ini terinspirasi dari channel Vicharaid. Saya suka gaya analisisnya terkait Iran.
Logika teori ekonomi, Iran mestinya sudah bangkrut. Sebab, nilai tukarnya terhadap dolar, itu nyaris nol rial. Kenyataannya, negeri para mullah justru masih tetap berdiri. Tentu ada rahasia di balik itu semua. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Menurut kitab suci para pemuja grafik, Iran itu sudah wafat sejak lama. Rialnya nyaris nol, sanksinya segede dosa kolektif, akses ke bank internasional ditutup rapat seperti pintu kos tengah malam.
Kalau ini Indonesia, mungkin sudah tiga kali ganti tim ekonomi, dua kali rapat darurat, dan satu kali pidato “fundamental kita kuat” sambil keringat dingin karena dolar hampir tembus Rp17 ribu. Timeline ribut, grup WA keluarga panas, ekonom dadakan bermunculan. Tapi Iran? Dia jalan terus, dengan wajah datar, sambil menyalakan tungku baja.
Di layar-layar Bloomberg, rial Iran tampak seperti angka bercanda. Nolnya banyak, nilainya tipis, fungsinya lebih cocok jadi ilustrasi buku sejarah kegagalan.
Menurut logika ekonomi kertas, negara dengan mata uang seperti itu seharusnya ambruk pelan-pelan, ditinggal investor, lalu dikenang lewat seminar.
Tapi realitas di Teheran justru terasa seperti dunia paralel. Pabrik baja masih menyala. Pabrik semen berdentum. Mobil domestik terus diproduksi. Mesin tidak peduli kurs. Baut tidak pernah mengecek nilai tukar.
Berbeda dengan kita, yang baru dengar dolar naik seribu saja, sudah ramai diskusi nasional tentang “kita harus waspada”.
Di sinilah kebohongan kolektif global mulai terbuka. Kita diajari, mata uang adalah jantung negara. Jantung berhenti, negara mati.
Iran menjawab sambil terkekeh, “Itu cuma berlaku kalau negara hidup dari kertas.” Mereka membiarkan ekonomi kertas mereka dihajar habis-habisan. Sementara ekonomi fisik dipindahkan ke bunker.
Dua dunia berjalan bersamaan. Satu dunia grafik dan rating. Satu dunia asap pabrik dan suara mesin. Barat sibuk menghancurkan angka. Iran sibuk memproduksi barang. Kita? Sering kali lebih sibuk menenangkan pasar ketimbang memastikan dapur industri tetap menyala.
Semua ini bukan reaksi dadakan. Ini hasil empat dekade hidup di bawah tekanan, di mana sanksi bukan lagi kejutan, tapi rutinitas. Lahirlah doktrin yang mereka sebut ekonomi perlawanan.
Isinya sederhana tapi kejam. Jangan bergantung pada apa pun yang bisa dipakai musuh untuk mencekikmu. Swasembada pangan supaya kelaparan tidak bisa dijadikan alat politik.
Energi dipakai sendiri agar industri hidup, bukan sekadar menunggu devisa. Manufaktur diperkuat karena negara tanpa pabrik cuma jadi pasar, dan pasar selalu kalah kalau dunia sedang jahat.
Bandingkan sebentar, wak. Indonesia kaya sumber daya, tapi masih ribut tiap harga beras naik. Iran dicekik sanksi, tapi memastikan roti tetap ada.
Kita sering bangga ekspor bahan mentah, lalu impor barang jadi. Iran dipaksa berhenti impor, lalu belajar memproduksi sendiri. Ketika rupiah melemah, kita panik karena impor mahal. Iran sudah lama berdamai dengan kenyataan: kalau impor tak bisa, ya bikin sendiri. Bedanya tipis tapi menentukan. Satu dipaksa mandiri. Satunya lagi kebanyakan nyaman.
Tapi Iran juga paham, benteng setebal apa pun tetap butuh lubang udara. Maka mereka membangun ekonomi bayangan global. Levelnya bukan warung gelap, tapi sindikat logistik kelas dunia.
Ratusan kapal tanker menjadi hantu laut. Transponder dimatikan, identitas dihapus, minyak dipindahkan di tengah samudra. Ini bukan cerita
Netflix, ini praktik harian. Data pelayaran global, meski sulit dilacak, berulang kali menunjukkan ekspor minyak
Iran tetap stabil, di kisaran 1,7 juta barel per hari. Negara yang katanya diisolasi, ternyata masih memompa darah ekonominya ke luar. Sementara kita, yang tidak disanksi siapa pun, tetap deg-degan tiap lihat kurs bergerak.
Tujuan utamanya jelas, Tiongkok. Negeri yang tidak alergi minyak “bermasalah” dan tidak terlalu peduli izin moral dari Washington. Kilang-kilang independen di sana menerima minyak Iran, memprosesnya, dan dunia pura-pura kaget.
Transaksi dilakukan tanpa dolar, tanpa bank internasional. Inilah jantung sistemnya, barter modern. Minyak ditukar mesin, teknologi, bahan baku. Rial tidak perlu kuat, karena tidak dipakai untuk bertahan hidup.
Dolar tidak relevan, karena pintunya memang tidak dilewati. Di saat kita masih menjadikan dolar sebagai tolak ukur kesehatan mental ekonomi nasional, Iran sudah lama pindah meja.
Di level rakyat, adaptasinya bahkan lebih brutal. Orang Iran sudah lama tidak percaya pada mata uang sendiri. Mereka tahu uang kertas itu seperti es batu di bawah matahari.
Maka setiap rial berlebih langsung diubah jadi benda. Emas, properti, dan fenomena yang bikin dosen ekonomi Indonesia garuk-garuk kepala, mobil bekas. Di Iran, mobil bekas bukan barang susut nilai.
Ia aset lindung inflasi. Bahkan suku cadang langka diperdagangkan seperti logam mulia. Sementara kita masih debat mobil bekas itu konsumtif atau produktif, mereka sudah menjadikannya alat bertahan hidup dari inflasi yang brutal.
Negara ikut bermain. Subsidi bahan bakar dan pangan dijaga ketat. Ini bukan sekadar belas kasihan sosial, ini strategi keamanan. Harga roti dan bensin murah itu seperti katup pengaman.
Tekanan ekonomi dilepas perlahan supaya tidak berubah jadi ledakan politik. Murah bukan berarti bodoh. Murah berarti terkendali.
Di sini, kita sering ribut soal subsidi sebagai beban anggaran, lupa bahwa stabilitas sosial juga punya harga, dan harganya sering lebih mahal dari sekadar angka APBN.
Ketika Barat mencoba memutus nadi digital, Visa, Mastercard, Amazon, Iran tidak panik. Mereka membangun dunia digital sendiri.
Sistem pembayaran domestik seperti Shetab, e-commerce lokal, aplikasi transportasi buatan dalam negeri. Internet versi bunker.
Pilihannya cuma dua, lumpuh atau bikin sendiri. Iran memilih bikin sendiri. Kita? Masih ribut soal server luar negeri, data center, dan berharap kurs segera “balik arah”.
Jika semua ini disatukan mulai dari industri dalam negeri, jaringan bayangan global, psikologi rakyat yang kebal krisis, subsidi sebagai alat stabilitas, dan kedaulatan digital, muncullah satu kesimpulan yang tidak nyaman.
Iran tidak bertahan karena rialnya kuat, tapi karena negaranya dibangun untuk tahan dipukul. Nilai tukar hanyalah ekonomi kertas. Kekuatan sejati ada di ekonomi fisik.
Perang ekonomi total yang dirancang untuk meruntuhkan Iran justru melahirkan anomali strategis. Tekanan tanpa henti itu menempa negara ini seperti besi dipukul palu. Tidak pecah, justru mengeras.
Di atas kertas Iran terlihat rapuh. Di dunia nyata, ia berjalan terus. Sindiran paling pahitnya mungkin bukan untuk Barat, tapi untuk negara-negara yang hidup nyaman tanpa sanksi, tapi masih ribut dan panik ketika dolar mendekati Rp17 ribu, sambil terus bertanya: “Kenapa kita lemah?” padahal jawabannya berdiri tepat di depan pabrik yang tidak pernah dibangun.
Yang bikin cerita Iran ini makin menyakitkan bagi kita bukan soal ideologi atau geopolitik, tapi cermin yang ia sodorkan.
Negara ini hidup di neraka sanksi, tapi memaksa dirinya dewasa. Sementara kita hidup di surga tanpa embargo, tapi sering bersikap manja.
Saat dolar naik, kita sibuk menenangkan pasar. Iran menenangkan pabrik. Saat kurs bergejolak, kita rapat. Iran produksi. Kita terlalu sering menyamakan stabilitas dengan grafik.
Padahal, stabilitas sejati lahir dari barang yang bisa disentuh, pangan yang tersedia, energi yang mengalir, dan industri yang bekerja.
Iran mengajari satu pelajaran pahit, negara tidak mati karena mata uangnya lemah, negara mati karena terlalu lama percaya bahwa angka lebih penting dari kemampuan membuat sesuatu.
Mungkin, justru di situlah alasan kenapa mereka masih hidup, sementara kita masih ribut setiap kali dolar batuk sedikit saja.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar