Berita

Menurut Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto. (Foto: RMOL/Sarah Alifia)

Politik

Integritas Partai Politik Jadi Kunci Pencegahan Korupsi

SABTU, 24 JANUARI 2026 | 22:18 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pencegahan korupsi ke depan harus dilakukan secara kolaboratif melalui penguatan sistem, tidak hanya mengandalkan penegakan hukum semata. 

Menurut Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, kerja bersama antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kementerian Dalam Negeri, dan organisasi non-pemerintah (NGO) menjadi kunci untuk memperkecil ruang praktik korupsi, termasuk di level partai politik yang menerima bantuan negara.

Bima menyampaikan, penegakan hukum tetap penting karena memberi efek jera dan pesan kuat kepada publik. 


Ia menilai pesan pemerintah terlihat jelas dari cara penyampaian kebijakan. Namun demikian, Bima menekankan bahwa penindakan harus dibarengi dengan pembangunan sistem yang menutup celah korupsi sejak awal.

Ia mencontohkan praktik penyaluran dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) di daerah yang kerap menjadi ruang rawan penyimpangan. 

Menurut Bima, salah satu solusi adalah melembagakan forum CSR di daerah yang melibatkan banyak pihak dan terhubung langsung dengan perencanaan pembangunan daerah. 

Selain CSR, digitalisasi tata kelola pemerintahan juga dinilai efektif untuk mencegah praktik korupsi, khususnya dengan mendorong transaksi non-tunai.

Dalam konteks kelembagaan, Bima juga menyoroti upaya penguatan integritas partai politik yang menerima bantuan keuangan dari negara. Ia menegaskan bantuan tersebut harus disertai sistem pertanggungjawaban yang jelas. 

"Kan partai politik ini setiap tahun kan kita kasih bantuan politik. Tapi itu harus diiringi dengan penguatan sistem integritasnya, jadi mereka bisa mempertanggungjawabkan itu," ujarnya via KompasTV, dikutip Sabtu, 24 Januari 2026.

Ia menambahkan, penguatan integritas partai politik saat ini dilakukan melalui kolaborasi antara Kementerian Dalam Negeri, KPK, dan NGO. 

Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga dan masyarakat sipil menjadi strategi penting agar pencegahan korupsi berjalan lebih sistematis.

Jika kerja sama tersebut terus diperkuat, ruang bagi praktik korupsi akan semakin menyempit. 

"Saya kira kalau kita terus berkolaborasi untuk membangun sistem-sistem tadi, maka ruang-ruang untuk korupsi itu akan semakin kecil," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya