Berita

Pelabuhan yang dikelola Pelindo. (Foto: Dokumentasi Pelindo)

Publika

Peran Pelindo terhadap Tekanan Dolar AS

KAMIS, 22 JANUARI 2026 | 01:59 WIB | OLEH: ARIEF POYUONO

POLITIK mata uang di negara berkembang seperti Indonesia sangat terkait dengan  keseimbangan kepentingan yang saling bertentangan antara produsen vs konsumen terhadap nilai tukar dan antara penguatan kurs rupiah vs pelemahan kurs rupiah dalam mengelola volatilitas untuk stabilitas ekonomi makro Indonesia. 

Dalam politik ekonomi Indonesia, penggunaan mata uang digunakan sebagai alat untuk pembangunan ekonomi atau menjadi alat untuk mengendalikan inflasi, dan tentu saja semua strategi tersebut sangat dipengaruhi oleh arah kondisi politik domestik yang dijalankan saat untuk stabilitas perekonomian domestik untuk mendukung pertumbuhan ekspor. 

Strategi ini beroperasi dalam sistem nilai tukar mengambang terkendali seperti yang dilakukan Indonesia selama ini dengan cara melakukan intervensi untuk mencegah apresiasi kurs rupiah yang cepat, serta memastikan barang-barang ekspor Indonesia yang mayoritas merupakan komoditas sumber daya alam tetap kompetitif secara global. 


Namun Indonesia untuk tetap mempertahankan nilai mata uangnya yang rendah untuk mendorong sektor ekspornya yang besar, tidak punya pengaruh besar untuk  menciptakan surplus perdagangan yang konsisten, sebab di sisi lain produk-produk ekspor barang jadi dari industri di Indonesia hampir 70 persen berbahan baku impor seperti bahan baku industri tekstil, sepatu, otomotif dan makanan jadi dll 

Karena salah satu cara untuk menghindari "Jebakan Dolar" dan mengurangi risiko dari tekanan keuangan AS, Indonesia harus  meningkatkan penggunaan rupiah dalam perdagangan bilateral dan dengan negara-negara negara negara pengekspor minyak serta pengekspor bahan pangan di mana negara tersebut juga menjadi tujuan ekspor bahan baku dari Indonesia, misal dengan dalam keanggotaan BRICS. 

Kedua Indonesia perlu melakukan perubahan dari pertumbuhan ekonomi yang lebih berorientasi pada konsumsi. Dan berfokus pada ekonomi produktif seperti bertumbuhnya industri manufaktur yang berdampak juga pada pembukaan lapangan kerja .  

Karena itu dibutuhkan untuk mewujudkan potensi ekonominya berfungsi secara penuh, Indonesia perlu memperdalam reformasi pasar keuangan, memungkinkan konvertibilitas rupiah yang lebih besar, dan meningkatkan efisiensi alokasi modalnya.

Selain untuk menunjang ini semua tentu saja kita harus melakukan kontrol modal yang ketat untuk mengelola arus modal dan memastikan kedaulatan moneter.

Ketiga tentu saja Danantara akan memainkan peran pentingnya sebagai badan investasi. Dengan cadangan devisa yang didapat dari surplus perdagangan dan  menggunakan untuk investasi strategis, seperti pembangunan infrastruktur untuk menunjang tumbuhnya industri dan manufacturing.

Seperti pengembangan pembangunan pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo sebagai transhipment hub internasional dibarengi dengan pengembangan pusat pusat industri dan manufacturing di Indonesia berorientasi ekspor. 

Di mana pelabuhan ini akan berperan penting sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi makro,serta  berfungsi sebagai gerbang utama perdagangan internasional. Sehingga efeknya juga dapat menciptakan lapangan kerja dan  keberadaan pelabuhan akan  mendorong pembangunan regional, dan membuat ketertarikan masuknya serta  mendorong investasi asing langsung (FDI), mengurangi biaya ekonomi tinggi  dan meningkatkan daya saing nasional 

Ketersediaan Infrastruktur pelabuhan laut yang efisien, terintegrasi dengan industri dan lalu lintas pelabuhan kontainer yang cepat dan efisien, secara langsung  mendorong pertumbuhan ekonomi (PDB). Di Indonesia, peningkatan efisiensi pelabuhan sangat penting untuk meningkatkan neraca perdagangan baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Dan dengan keberadaan pelabuhan modern yang efisien yang ditunjang sarana dan prasarana di darat yang berkualitas akan mengurangi total biaya logistik nasional  bagi perusahaan, membuat ekspor suatu negara lebih kompetitif dan mengurangi biaya barang impor.

Dengan menurunkan biaya logistik nasional misalnya saja yang saat ini rata-rata biaya logistik nasional berada di kisaran 20-22 persen di Indonesia jika dapat sama dengan negara Malaysia, Vietnam dan Thailand di kisaran 12-13 persen bukan tidak mungkin akan berdampak pada Tingkat kesejahteraan Kaum Buruh Indonesia pada akhirnya.

*Penulis adalah Komisaris Pelindo


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya