Berita

Ilustrasi. (Foto: repro @thecollector.com)

Publika

Simon Bolivar ‘El Libertador’

RABU, 21 JANUARI 2026 | 21:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

AKHIR-AKHIR ini nama Venezuela menjadi sangat popular gegara Presiden Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela dan istrinya bukan di Washington DC sebagai ibukota Amerika Serikat namun di Caracas sebagai ibukota Venezuela.

Yang menarik bagi saya, ternyata nama lengkap Venezuela adalah República Bolivariana de Venezuela yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Repulik Bolivariana Venezuela.  Pertanyaan saya adalah kenapa harus ada selipan kata Bolivariana di tengah Republik Venezuela.

Venezuela menamakan diri sebagai Republik Bolivarian Venezuela untuk menghormati jasa-jasa Simon Bolivar dalam perjuangan kemerdekaan negara tersebut. Nama ini diadopsi pada tahun 1999 oleh Presiden Hugo Chavez, demi menghidupkan kembali semangat nasionalisme dan patriotisme di Venezuela.


Chavez juga ingin menekankan pentingnya peran Bolivar dalam sejarah Venezuela dan Amerika Selatan.

Simon Bolivar adalah seorang pemimpin militer dan politik yang berperan utama dalam memelopori perjuangan kemerdekaan negara-negara Amerika Selatan dari kerajaan Spanyol. Dia lahir pada 24 Juli 1783 di Caracas, Venezuela, dan meninggal pada 17 Desember 1830 di Santa Marta, Kolombia. Bolivar memimpin perang kemerdekaan di Venezuela, Kolombia, Ekuador, Bolivia, Peru, dan Panama, sehingga dia dikenal sebagai “El Libertador” atau Sang Pembebas.

Nama asli Simon Bolivar adalah Simón José Antonio de la Santísima Trinidad Bolívar Ponte y Palacios Blanco yang cukup berkepanjangan maka lazimnya disingkat menjadi Simon Bolivar saja.  Simon Bolivar dilahirkan di Caracas, Venezuela pada tanggal 24 Juli 1783 dan meninggal pada tanggal 17 Desember 1830 di Santa Maria, Kolombia.

Semasa hidupnya, Simon Bolivia sempai diangkat menjadi presiden Venezuela (1813-1814 kemudian 1819-1830), Presiden Kolombia (1819-1830) pada masa kepresidenan yang sama di Venezuela, Presiden Bolivia (1825) merangkap Presiden Peru (1824-1826) .

Menurut catatan Museum Rekor Dunia Indonesia, rekor Simon Bolivar menjadi presiden sekaligus empat negara pada masa bersamaan belum ada yang mengungguli sampai masa kini.

Simon Bolivar memang dilahirkan di Caracas, Venezuela yang pada waktu itu adalah koloni Spanyol namun dia bukan keturunan pribumi asli Venezuela tetapi keturunan Spanyol dari keluarga Criollo yang lahir di Amerika Selatan.

Kakek buyutnya, Juan Vicente Bolívar y Ponte, adalah bangsawan Spanyol yang pindah ke Venezuela pada abad ke-18, dan ibunya, María de la Concepción Palacios y Blanco, juga berasal dari keluarga ningrat Spanyol.

Meski keturunan bukan penduduk asli Amerika Selatan, Simon Bolivar sangat mencintai tanah kelahiran di Amerika Selatan dan memimpin perjuangan kemerdekaan melawan Spanyol, sehingga dia dianggap sebagai pahlawan nasional di beberapa negara Amerika Selatan. 

Di sisi lain, Simon Bolivar dianggap sebagai pengkhianat oleh Spanyol karena dia memimpin perjuangan melawan Spanyol dan berhasil membebaskan beberapa negara Amerika Selatan dari kekuasaan Spanyol.

Spanyol melihat Bolivar sebagai seorang pemberontak yang mengancam kekuasaan dan kepentingan mereka di Amerika Selatan. Oleh karena itu, Spanyol tidak mengakui kemerdekaan negara-negara yang dipimpin oleh Bolivar dan terus berusaha untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang telah berhasi memerdekan diri.

Kita dapat menganalogikan dualisme pandangan nertolak belakang terhadap Simon Bolivar dengan Raymond Westerling yang pada tahun 1946-1947 secara khusus ditugaskan oleh kerajaan Belanda untuk merebut kembali Hindia-Belanda dari bangsa Indonesia yang sebenarnya telah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. 

Kini bangsa Indonesia menganggap Westerling sebagai penjahat perang yang telah melakukan genosida di Sulawesi Selatan sementara kerajaan Belanda memberi anugerah bintang tanda jasa kepada Westerling atas pengabdian dan bakti militernya kepada kerajaan Belanda.

*) Penulis adalah Budayawan dan Pendiri MURI.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Pelajar Islam Indonesia Kutuk Trump dan Netanyahu

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Prabowo Tunjukkan Soliditas Elite Lewat Pertemuan dengan Mantan Presiden

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Bupati Pekalongan Dikabarkan Telah Jadi Tersangka Dugaan Benturan Kepentingan PBJ

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:45

Masihkah Indonesia Konsisten dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif?

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:43

KPK Buka Peluang Periksa BPN Depok soal Suap Lahan PT KD

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:38

Irak Ikut Pangkas Produksi, Harga Minyak Makin Naik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:21

Pertemuan Elite jadi Cara Prabowo Redam Polarisasi Politik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:15

Bursa Asia Anjlok, Kospi Jatuh Paling Dalam

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:51

Harga Emas Dunia Terkoreksi Gara-gara Dolar AS

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:41

Menaker Tetapkan Tenggat BHR Ojol 2026: Paling Lambat H-7 Lebaran

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:26

Selengkapnya