Berita

Pemilik Elliott Investment Management Paul Singer (Foto: New York Times)

Global

Konglomerat Yahudi Raup Untung dari Penjualan Paksa Citgo Petroleum Venezuela

KAMIS, 15 JANUARI 2026 | 19:09 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Elliott Investment Management, perusahaan investasi asal Amerika Serikat yang dimiliki konglomerat Yahudi Paul Singer, berhasil meraup keuntungan besar melalui penjualan paksa Citgo Petroleum. 

Aset minyak paling berharga milik Venezuela di Houston itu resmi jatuh ke tangan Amber Energy, perusahaan rintisan pengilangan minyak yang didukung Elliott, melalui lelang yang diperintahkan pengadilan AS.

Mengutip laporan Fortune, Kamis, 15 Januari 2026, lelang yang lama tertunda dan sarat kontroversi itu dimenangi dengan nilai 5,9 miliar dolar AS, jauh di bawah nilai strategis Citgo.


Selain nilai akuisisi tersebut, Amber Energy juga harus membayar lebih dari 2 miliar dolar AS kepada para pemegang obligasi Venezuela yang gagal bayar. 

Meski pemerintah Venezuela dan sejumlah pihak lain masih mengajukan banding, analis energi memperkirakan transaksi ini tetap akan dituntaskan sebelum akhir tahun.

Kemenangan Elliott dan Amber terjadi berdekatan dengan tergulingnya Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. 

Situasi ini dinilai membuka peluang kembalinya pasokan minyak mentah berat Venezuela ke kilang-kilang di Amerika Serikat, khususnya di kawasan Pantai Teluk.

Citgo memiliki tiga kilang utama di Louisiana, Texas, dan Illinois dengan kapasitas pengolahan mencapai 800 ribu barel per hari. 

Selain itu, Citgo menguasai jaringan pipa dan terminal serta memiliki kerja sama pemasaran bahan bakar dengan sekitar 4.000 SPBU independen di berbagai wilayah AS.

Meski telah berdiri lebih dari 115 tahun, Citgo sepenuhnya dimiliki oleh Venezuela dan perusahaan minyak negara PDVSA sejak 1990. 

Namun, perusahaan ini menjadi sasaran gugatan para kreditur yang menuntut ganti rugi atas penyitaan aset asing oleh pemerintah Venezuela pada era Presiden Hugo Chávez hampir dua dekade lalu.

Sengketa hukum Citgo sendiri mencuat sejak 2018, ketika perusahaan tambang asal Kanada, Crystallex, memenangkan putusan pengadilan federal AS yang mengizinkannya mengejar aset Citgo untuk menagih klaim lebih dari 1 miliar dolar AS. Citgo kemudian memutus hubungan operasional dengan Venezuela pada 2019.

Namun, penjualan Citgo juga menuai kritik politik di dalam negeri AS. Anggota DPR AS Thomas Massie menuding Elliott mendapat keuntungan besar dari langkah Washington di Venezuela.

“Paul Singer berpotensi menghasilkan miliaran dolar dari investasi Citgo yang tertekan, setelah pemerintahan ini mengambil alih Venezuela,” tulis Massie di media sosial.

Pemerintah Venezuela dan PDVSA hingga kini masih mengklaim kepemilikan Citgo dan menyebut proses lelang sebagai sandiwara hukum di pengadilan AS. Nasib banding Venezuela di pengadilan federal pun masih belum jelas.

Selain Elliott, raksasa migas ConocoPhillips juga menjadi pihak yang paling diuntungkan. Perusahaan tersebut memegang lebih dari separuh total klaim kreditur senilai sekitar 20 miliar dolar AS, setelah aset minyaknya disita pemerintah Venezuela pada 2007.

Presiden Trump kini mendorong ConocoPhillips, Exxon Mobil, dan perusahaan migas besar lainnya untuk kembali beroperasi di Venezuela guna memulihkan produksi energi.

Namun, industri migas masih bersikap hati-hati karena tingginya biaya investasi, ketidakpastian politik, dan kondisi harga minyak global.

“ConocoPhillips terus memantau perkembangan di Venezuela dan dampaknya terhadap pasokan energi global dan stabilitas,” kata juru bicara ConocoPhillips, Dennis Nuss.

Di sisi lain, analis menilai Chevron berpotensi menjadi pemenang terbesar dalam jangka panjang. Chevron merupakan satu-satunya perusahaan minyak AS yang tetap beroperasi di Venezuela dengan izin khusus.

“Chevron sudah lama ingin meningkatkan produksi minyak Venezuela. Mereka adalah pemenang besar. Namun kondisi ini juga tetap menguntungkan bagi kilang-kilang AS lainnya, termasuk Citgo,” ujar Direktur Analitik Pasar Minyak ICIS, Ajay Parmar.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya