Berita

Menlu Sugiono di PPTM 2026 (Foto: YouTube Kemlu RI)

Dunia

Menlu Ungkap Strategi Diplomasi Ketahanan Indonesia di Tengah Dunia Bergejolak

RABU, 14 JANUARI 2026 | 14:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan pentingnya diplomasi ketahanan sebagai fondasi politik luar negeri Indonesia di tengah situasi global yang semakin tidak menentu dan penuh risiko.

Penegasan tersebut disampaikan Sugiono dalam Pidato Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 yang digelar di Ruang Nusantara, Kementerian Luar Negeri RI, Rabu, 14 Januari 2026. 

Dalam pidatonya, Menlu menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak dapat bergantung pada pihak lain, melainkan harus dibangun dari dalam negeri sebagai sumber kekuatan diplomasi Indonesia.


“Ketahanan ini harus dibangun dari dalam. Karena di dunia yang tidak pasti, hanya negara yang kuat di dalam yang akan memiliki daya tawar di luar,” tegasnya.

Sugiono menyebut pendekatan tersebut sebagai diplomasi ketahanan, yakni diplomasi yang tidak bersifat reaktif, melainkan adaptif, serta menjadi pilar fundamental politik luar negeri Indonesia.

“Diplomasi ketahanan. sebuah diplomasi yang tidak reaktif, tetapi adaptif, sebagai pilar fundamental dari politik luar negeri Indonesia,” ucapnya.

Ia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 telah dicapai kemajuan signifikan dalam penyelesaian permasalahan perbatasan, termasuk dengan Malaysia, Timor Leste, dan Vietnam.

Indonesia juga telah menyepakati tujuh kerja sama di bidang pertahanan serta 16 perjanjian penegakan hukum dengan berbagai negara, termasuk Australia, Kanada, Prancis, Turkiye, dan Yordania. 

Selain itu, kemitraan strategis telah terbentuk antara Indonesia dengan Rusia dan Thailand, serta kemitraan strategis komprehensif dengan Vietnam.

“Berbagai kesepakatan ini adalah komitmen untuk memperdalam kepastian kerja sama dan inter-operabilitas,” jelas Sugiono.

Ia menambahkan, Indonesia juga telah menggelar empat dialog two plus two bersama Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan negara mitra utama, yakni Tiongkok, Jepang, Australia, dan Turkiye.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya