Berita

Ilustrasi (Dokumen RMOL)

Bisnis

Ekonomi Global 2026: Di Antara Pemulihan dan Ketidakpastian Baru

SABTU, 10 JANUARI 2026 | 10:06 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Memasuki awal 2026, wajah ekonomi dunia diprediksi akan bergerak lebih lambat dibandingkan masa sebelum pandemi. 

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan bahwa meski tahun 2025 ditutup dengan tren perbaikan, bayang-bayang risiko fiskal dan ketegangan politik, terutama konflik AS-Venezuela, kini menjadi tantangan nyata yang harus diwaspadai.

“Lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan global akan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi,” ujar Mahendra di Jakarta, dikutip Sabtu 10 Januari 2026.


Kondisi saat ini menunjukkan kontras yang tajam antara dua kekuatan besar. Amerika Serikat menunjukkan performa solid dengan pertumbuhan PDB 4,3 persen di kuartal III 2025, dibarengi dengan inflasi yang melandai ke angka 2,7 persen.

Sedangkan China masih terjebak dalam kelesuan. Konsumsi rumah tangga tertahan, sektor properti belum pulih, dan industri manufakturnya kembali masuk ke zona kontraksi.

Ketimpangan ini memicu perbedaan kebijakan bank sentral dunia. Di saat The Fed (AS) dan Bank of England mulai melonggarkan suku bunga untuk menstimulasi pasar, Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 30 tahun demi menekan inflasi. 

Perbedaan arah ini memicu gejolak di pasar saham dan obligasi global, termasuk berakhirnya tren carry trade yang selama ini menjadi penopang pasar.

Meski dunia sedang tidak menentu, ekonomi domestik menunjukkan ketahanan. Per Desember 2025, sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif dan neraca perdagangan masih mencatatkan surplus yang konsisten.

“Pelaku pasar kini mencermati geopolitik di Venezuela dan dampaknya terhadap stabilitas pasar keuangan global,” pungkas Mahendra.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Iran Ancam Gunakan Segala Cara untuk Hadapi Agresi AS

Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:01

Serangan Israel Luluhlantakkan Gudang Obat Rumah Sakit Gaza

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:25

GP Al-Washliyah Dukung Kapolri Jadikan Semangat Hoegeng Budaya Kerja Polri

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:12

Kemensos Terbitkan Kartu Penyandang Disabilitas Virtual

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:04

PM Thailand Dijadwalkan Kunjungi Indonesia pada 3-4 Agustus

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:45

Bea Cukai Bongkar Dua Kontainer Berisi 7,8 Juta Batang Rokok Ilegal di Sulsel

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:43

BRI Peduli Bantu Peternak Sapi Perah Malang Naik Kelas Lewat Klaster Unggulan

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:33

AS Terapkan Deposit Visa untuk 50 Negara hingga Rp360 Juta

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:22

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Berawal dari Keresahan, Rabundo Tembus Pasar Nasional Berkat Pendampingan BRI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:03

Selengkapnya